Posts

Showing posts from 2019

Tapis

"Sama seperti menulis, mungkin isi pikiranmu sulit kaukeluarkan karena kau terlalu banyak berpikir dan menganalisis." Pikiran dan analisis yang menggunakan nalar adalah tapis. Setiap orang butuh penapis supaya tetap waras, atau kalau katanya, beradaptasi dengan manusia lain di sekelilingnya. Penapis harus tetap ada, baik terhadap arus ke dalam maupun arus keluar. Ini adalah bentuk prinsip reciprocity yang tidak pada tempatnya alias saya cuma ngomong ngawur biar seolah keren. Penapis adalah alat yang menjaga superego seorang manusia. Di sisi lain, penapis adalah rajutan benang yang dipilin dari dalam dan luar diri seseorang. Warna tapis dan tingkat kerapatan lubang-lubangnya ditentukan oleh kondisi internal dan eksternal seseorang. Lalu ketika sakit, tapis itu seperti meronta-ronta karena terkoyak. Yang terbendung meminta keluar. Di sela-sela tapis yang tersisa, alam bawah sadarku menahan diriku untuk melontarkan kata-kata yang tak wajar atau tindakan yang tak lazim, s...

Satelit dan Antena

Kamu adalah satelit dan aku antena Kamu telah dan akan terus mengorbit dunia Menghimpun setiap ilmu setiap hari Membagi kepadaku yang memandangmu dari permukaan bumi Kamu adalah satelit dan aku antena Dengan amat terkontrol, kau jalankan fungsimu Beri manfaat buat mereka yang tak kemana-mana Termasuk aku, yang dalam diam mengikuti jejakmu Kamu adalah satelit dan aku antena Kita dicipta bersama meski terpisah jarak Dan aku percaya bahwa cinta ini selamanya Sebelum sadar pergeseran orbit adalah mutlak (Rancabungur, 2019)

Dèjá Vu (2)

Aku pernah merasa seperti  deja vu , nyatanya perjalanan setahun setelah perasaan itu tidak sama dengan perjalanan setahun dari fenomena yang pertama. Ada yang berubah. Ada yang berbeda. Tentu saja, orangnya berbeda, masanya berbeda, pengetahuan -nya juga berbeda. Tuan Hitam, terima kasih atas satu tahunnya yang luar biasa. Aku masih berusaha agar tidak terus-terusan merasa sedih jika mendengar namamu dan melihat wajahmu. Kali ini, aku merasakannya kembali, tetapi untuk perkara yang berbeda. Bukan soal asmara, melainkan kondisi diri. Setelah jatuh-bangun dalam hampir dua tahun terakhir, saat ini aku berada dalam keadaan yang cukup baik, kurasa. Akan tetapi, dalam keadaan ini, aku justru tidak benar-benar baik-baik saja karena aku melakukan ketidakwajaran--sebagaimana yang pernah aku lakukan dulu ketika kondisiku masih baik-baik saja. Aku merasa seperti mengulang. Aku merasa bahwa dengan ini, kondisiku akan turun lagi, tetapi aku tidak yakin bahwa ceritanya akan sama. Pasti aka...

2019

Tinggal kurang dari 2 bulan lagi, tahun 2019 akan berakhir. Kalau ditanya satu frasa yang bisa mewakilkan satu tahun ini, jawabanku: rumah sakit . Sejak bulan Februari, aku bolak-balik ke rumah sakit. Aku masih ingat betul bagaimana perasaanku setelah keluar dari rumah sakit untuk pertama kalinya. Hancur, sedih, dan rasanya putus asa. Aku menangis di sepanjang jalan pulang dari rumah sakit ke kampus. Hampir seminggu kemudian, aku merasakan efek samping obat yang membuatku akhirnya masuk rumah sakit lagi. Kali itu, aku harus rawat inap di rumah sakit sekitar 3 malam. Setelah itu, aku melakukan kontrol sebanyak 3 kali, hingga aku menyerah dengan dokter yang terakhir. Beberapa bulan setelahnya, aku memutuskan untuk kembali ke rumah sakit karena kondisiku menurun lagi. Sementara itu, aku harus bisa beraktivitas secara normal karena pelaksanaan KKN. Aku ke rumah sakit sekali sebelum KKN. Ketika KKN, aku pergi ke rumah sakit 2 kali. Pulang dari KKN, aku ke rumah sakit 4 kali untuk kontrol...

Ada

Ada banyak yang berubah Tidak semua ditulis dan diucapkan Tertinggal, tanpa makna Berakhir tanpa kata Banyak yang berubah namun tidak ada yang kusadari Namaku hilang tak tersisa Seiring waktu yang menuju berhenti Tidak ada yang perlu diartikan

Celoteh

Saat ini, aku sedang berada dalam masalah. Sebetulnya masalahnya mungkin sepele, tetapi masalah itu menjalar ke mana-mana sehingga aku bingung bagaimana menyelesaikannya. Tidak ada yang mengejarku kecuali asumsiku sendiri tentang waktu. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali aku menghadapi diriku sendiri, berbincang, dan merumuskan penyelesaiannya bersama. Masukan dari luar sudah terlalu banyak memenuhi kepalaku. Kini, aku benar-benar harus menghadapi diriku sendiri. Mau sampai kapan? Aku tidak tahu, aku tidak bisa apa-apa, biarlah Semesta bekerja demikian adanya. Tapi, diriku adalah orang yang sangat sulit. Sulit memutuskan, sulit untuk jujur dan apa adanya. Apakah aku hidup di dalam kepalsuan? - Menurutmu? Kita berdua hidup dalam satu tubuh yang sama. Kita berperan ganda, kadang aku dan kadang dirimu. Kita berpikir di kepala yang sama, bertindak dengan tangan dan kaki yang sama. Tak ada aku dan kau, kita bersama. Hidup dalam peran ganda, sesungguhnya , melelahkan. Tapi mau...

2908

Aku masih hidup.

Kabur

Ada sesuatu yang baru. Aku mengetik tanpa bisa betul-betul membaca kata-kata yang kutuliskan. Terkadang mataku mampu mengatur fokus, tetapi pada sebagian besar waktu, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Penglihatan ini mengabur tanpa peduli jarak antara mataku dengan tulisanku. Semula aku berpikir bahwa ini adalah efek samping obat, tetapi kemarin dan hari ini penglihatan ini mengabur tak kenal waktu. Maksudku, bukan hanya setelah aku mengonsumsi obat. Silinder? Aku tidak tahu juga. Yang jadi masalah, mataku yang terhambat, mengapa pikiranku ikut terhambat? Seharusnya aku tetap bisa berpikir dengan lancar, terutama memikirkan solusi dari "permainan" menarik yang telah diberikan oleh seorang role model -ku. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika telinga tak bisa mendengar dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika mata tak bisa melihat dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika otak tak bisa berpikir dengan baik.

Sebelas (Percakapan)

"Mau minum apa?" Tanya pria itu. "Teh hangat manis," jawab perempuan itu. "Tumben, kamu tidak pesan kopi." "Selama beberapa minggu terakhir, aku selalu minum teh manis hangat setiap hari." "Wauw... kamu akan diabetes." "Tidak juga, ah." "Kemana saja kamu?" "Di sekitar sini saja, kok. Besok aku baru akan pergi." "Ke?" "Ke rutinitas yang biasanya." "Huh, kukira kamu mau pergi lagi." "Tebak! Aku punya ide bagus." "Apa itu?" "Bunuh diri pada hari ulang tahun." "Jangan." "Jangan tidak?" "Jangan lakukan. Kamu tidak akan melakukannya. Aku yakin itu." "Yah, memang kecil sekali sih kemungkinannya." "Tolong bilang peluangnya nol persen." "Tidak mau." "Kamu terlalu pengecut untuk melakukan itu." "Terima kasih atas semangatnya." "Ak...

Mengingat

Malam itu, ia bereksperimen lagi. Hanya satu jenis obat yang ia minum. Ia ingin tahu apakah dirinya sanggup berkegiatan dengan sokongan satu jenis obat, antipsikotik, tidak dengan penawarnya. Ia juga telah menurunkan dosis obat itu menjadi 0,5 mg. Bukan dosis yang dianjurkan oleh dokter, tetapi dokter telah mengizinkannya. Sampai saat ini, belum ada efek samping yang begitu berarti. Malam itu juga, ia keluar rumah dan mengikuti keramaian. Saat ia berjalan melewati sawah, disaksikannya kunang-kunang yang begitu banyak jumlahnya. Kunang-kunang itu mengingatkannya pada masa kecil yang pernah ia lewati. Terakhir kali ia melihat kunang-kunang sebanyak itu adalah ketika ia berjalan-jalan di lapangan golf. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, usianya masih setengah dari usia dirinya saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia masih tinggal di kota kecil nun jauh di sana. Ia masih bercita-cita menjadi pribadi yang baik. Ia masih punya cita-cita. Ia tidak takut. Baru seje...

Ruangan Itu

Rini melangkahkan kakinya satu demi satu. Suara langkah kaki Rini memecah keheningan dan menuju sebuah ruangan. Ketika tepat berada di depan pintu ruangan yang ditujunya, Rini terdiam sebentar. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa kembali ke sini? Belum selesai pertanyaannya, batin Rini telah menjawabnya: karena aku rindu. Rini tidak mau menahan lebih lama lagi. Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tak terlihat apa-apa. Debu-debu beterbangan ke luar, menyapu wajah Rini yang terhenyak di depan ruangan. Ruangan itu terasa asing. Rini ragu tentang apa yang ada di dalam ruangan itu. Bukankah dulu ruangan itu ramai? Setidaknya, pernah ada dua-tiga orang di dalamnya. Rini ingat betul bagaimana Warni, Kaku, dan Mirat berbincang satu sama lain. Kini, ruangan itu kosong. Kemana lagi aku harus pergi? Rini memasuki ruangan itu; tangannya menyisir dinding supaya tidak terjebak di dalam kegelapan. Dinding ruangan itu penuh debu, seolah sudah lama tidak di...

04:40

Tidur sebelum yang lain tidur, Bangun sebelum yang lain bangun Adalah aku dan pikiranku Adalah aku dan ingatanku Dingin pagi hari menembus aku Yang berlindung di balik selimut Getir ingatan merasuki diriku Yang perasaannya kini carut-marut Aku hanya rindu memuisi

Ak(am)u

Aku ada di sini. Selama kamu masih hidup, aku akan terus berada di sini. Menemanimu. Mengapa kaukungkung aku? Bebaskan aku. Bebaskan aku. Bebaskan aku. Aku tahu kamu mengerti dan kamu juga ingin aku muncul. Aku adalah kamu dan kamu juga adalah aku. Hentikan segala upayamu untuk meredamku, aku tahu kamu juga tidak tahu apa yang kaumau. Kamu mau aku yang mengambil kendali. Kamu mau aku menghancurkan tubuh ini. Kamu dan aku sama, kita punya keinginan yang sama. Kamu tentu bisa mendengar teriakanku dari kemarin. Kamu juga menulis ini karena kamu ingin agar aku keluar. Karena upayamu, kini aku datang tanpa kekerasan. Aku tidak mengambil rasa lega di kepalamu sebagaimana biasanya. Aku tidak mengambil rasa nyaman di tenggorokanmu seperti hari-hari sebelumnya. Aku bersahabat denganmu, dan kau juga akan menerimaku. Aku adalah kamu, kamu adalah aku. Kita satu. Kamu tidak akan menolakku. Ayo. Ayolah. Bebaskan aku. Keluarkan aku dari sini!

Jumat Kedua

Dia berbicara soal panggilan yang didapatinya ketika membaca sebuah buku. Dia bercerita soal pilihan yang dimilikinya untuk menentukan akhir cerita sebuah hubungan yang dimilikinya. Dia berkisah soal dirinya yang juga pernah menghancurkan dirinya sendiri tetapi sudah berhenti karena orang-orang di sekitarnya. Setiap orang punya kecepatannya masing-masing, Takdirnya masing-masing, Momennya masing-masing. Aku bisa mati kapan saja, karena apa saja.

Tuan Hitam dan Panggilan (yang Tak Kunjung Tiba)

"Aku menyadari perubahanmu; kamu mencoba untuk tidak lagi memperlakukanku sebagaimana dulu kaupercaya bahwa aku dapat menujumu. Kamu tidak lagi percaya bahwa aku dapat meyakini apa yang kauyakini dan kita dapat bersama. Bukan begitu?" "Demi aku dan dirimu, kamu sengaja mengubah sikapmu. Kamu ingin kita berjalan masing-masing karena demikianlah yang terbaik buat masing-masing dari kita berdua. Sebab logikamu begitu kuat, kamu tidak akan mengorbankan diri untuk perasaan. Sebaik-baiknya perasaan, akal sehat tetap penting dipakai sebagai dasar dalam memilih keputusan." "Bagaimana aku jadi tidak semakin mencintaimu kalau kau mencintaiku dengan cara yang indah? Kamu membimbingku, menemaniku, memedulikanku, hingga akhirnya perlahan meninggalkanku. Semua yang kaulakukan kupandang sempurna buatmu dan buatku. Dan mungkin itu yang membutakanku. Aku yang haus akan ilmu pengetahuan kausirami dengan kasih." "Dalam keadaan begini, bukan tidak mungkin aku ingi...

Bintang di Barat

Image
"Kudengar, sekarang-sekarang ini, Jupiter lagi kelihatan banget. Tapi aku nggak tahu Jupiter yang mana, hehe." "Yang itu bukan, sih?" Tunjukku ke satu titik yang bersinar paling terang. Dia tidak tahu; hanya percaya omonganku--sepertinya. Aku setengah sok tahu, tetapi cukup optimis dengan yang kutunjuk. Memoriku tentang bintang cukup banyak. Memoriku tentang memandang bintang bersama orang-orang lebih banyak lagi. Di sini, lampu di pemukiman tidak begitu banyak, sehingga bintang-bintang tampak lebih jelas. Aku bisa melihat rasi bintang salib selatan dan scorpio, tetapi aku baru sadar bahwa aku tidak melihat orion. Milky way juga tidak terlihat. Sejak kapan aku menyukai bintang? Aku tidak ingat. Apakah di malam ketika aku bersama beberapa orang berjalan-jalan dan melihat  bintang bersama-sama? Apakah di malam ketika seseorang memanggilku keluar, membuatku menunggu sendirian, menemuiku tanpa bicara, kemudian berpisah dan mengirim pesan tentang perasaan setelahn...

Satu Hari di Bulan Juni

Aku tahu konsekuensinya, dari awal. Aku tahu peluangnya, dan kita berusaha bersama-sama menaikkan peluang itu. Waktu pun berjalan dan banyak hal yang terjadi. Hari ini, kita sama-sama saling mengatakan bahwa peluang itu sudah berubah, dari yang tadinya cukup tinggi, menjadi hampir nol. Bukannya aku tidak sadar. Aku tahu hari ini akan datang. Aku sudah menghitungnya sejak beberapa waktu yang lalu, tapi aku tidak sanggup mengatakannya. Logika matematisku sudah berjalan, namun aku tetap ingin bertaruh pada peluang yang kecil itu. Aku tetap ingin berharap ada keajaiban terjadi untuk kemungkinan yang hampir mustahil itu. Meski pikiranku selalu berkata bahwa cinta yang sejati adalah mengusahakan untuk memberikan yang terbaik, bukan memaksakan untuk sesuatu yang tidak semestinya. Inilah aku yang lemah dan egois; menginginkanmu untuk tetap hanya denganku. Eksklusifitas yang kta bangun memang telah membuatku nyaman. Aku jatuh cinta tanpa mitigasi. Sejujurnya, saat genggaman tanganmu tera...

Karya Seorang Fisikawan

Saya baru mengenal nama Daniel Rozin dari sebuah video yang menceritakan tentang karya-karyanya, khususnya  mechanical mirror . Ia membuat karya seni berbasis sistem kontrol. Sepemahaman saya, sistem yang ia buat terdiri dari sensor citra/visual, mikrokontroler (sepertinya ia menggunakan Arduino), dan aktuator berupa motor servo yang dihubungkan ke alat tertentu. Motor servo disusun secara teratur dan akan menghasilkan pola tertentu ketika digerakkan. Menurut saya pribadi, karya dia keren! Sangat keren, bahkan. Melihat karyanya membuat saya membatin: saya bisa melakukannya tetapi saya tidak bisa melakukannya . Maksudnya, saya bisa membayangkan komponen apa saja yang saya butuhkan untuk membuat karya tersebut dan membuat algoritma di dalam sistem maupun metodologi membangun sistem. Akan tetapi, saya tidak bisa melakukannya karena saya yakin, Rozin telah melakukan apa yang ia lakukan berkali-kali. Ia tentu telah berulang kali membuat rancangan alat, membangun kode sumber yang bi...

Sepuluh Menit Berlalu

Delapan menit menuju tepat pukul 2 pagi. Kemanakah hidup akan membawaku? Tidak tahu. Suara jangkrik terdengar cukup nyaring malam ini. Aku terbaring di kamar gelap. Beberapa jam yang lalu, aku mendengar berkali-kali namaku dipanggil. Oleh dia, juga oleh dia. Akan tetapi, 3 hari yang lalu, ketika aku mendengar panggilan itu--yang lama-kelamaan menjadi teriakan yang mengganggu dan menyakitkan, aku bertanya apakah ia memanggilku atau tidak. Tidak, katanya. Setidaknya aku tahu bahwa yang kudengar tidak benar. Lima menit menuju tepat pukul 2 pagi. Maka, ketika tadi mendengar suara itu, aku akan diam sampai mereka betul-betul mengetuk pintu kamarku atau meneleponku. Atau, suara itu terdengar lebih jelas. Sebab suara itu terdengar sayup-sayup, seperti dari lantai bawah tetapi pelan. Empat menit menuju tepat pukul 2 pagi. Diam-diam aku menikmati kegilaan ini. Aku merindukan kegelisahan itu. Karena ketumpulan telah menjadi aku, sepertinya. Tiga menit menuju tepat pukul 2 pagi. Na...

Sebuah Kebohongan tentang Hal yang Disemogakan

Aku berbohong ketika bilang semoga sehat selalu . Tidak akan ada manusia yang betul-betul selalu sehat sepanjang hidupnya. Manusia adalah zat, materi, benda, objek, yang akan mengalami degradasi. Manusia tidak stabil dan akan menuju kestabilan. Decay into equilibrium . Sakit adalah salah satu bagian dari proses penurunan itu. Aku berbohong ketika bilang semoga panjang umur . Tidak akan ada manusia yang ingin hidup abadi. Manusia butuh kematian. Aku rindu kematian. Sejujurnya, aku ingin bilang semoga aku mati lebih dulu dari kamu . Tak lain karena aku takut ditinggalkan olehmu untuk selamanya. Aku ingin menikmati waktu bersamamu dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati. Setidaknya, kalau masih hidup, kita bisa bersama-sama. Sakit dan kematian adalah sesuatu yang pasti. Kita sulit menerima kenyataan itu karena hidup sehat adalah keinginan alami tubuh ini sebagai objek biologis. Secara instingtif, kita akan tergerak untuk mempertahankan hidup. To survive our species .

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Dalam pertemuan terakhir kelas favorit saya semester ini, sang dosen mengawali kelas dengan membagikan paper seputar mikroskop fluoresensi beresolusi super . Paper tersebut merupakan paper pertama yang ditulis oleh Stefan W. Hell ketika mulai mengajukan ide untuk membuat mikroskop yang dapat melewati batas resolusi Abbe. Jika penasaran, silakan telusuri  paper berjudul "Breaking the diffraction resolution limit by stimulated emission: stimulated-emission-depletion fluorescence microscopy" yang ditulis oleh Stefan W. Hell dan Jan Wichmann, Optics Letters Vol. 19 No. 11 tahun 1994 ( link ). Dalam paper tersebut, Hell menuliskan persamaan diferensial yang menceritakan tentang perubahan nilai populasi elektron yang berada pada tingkat energi tertentu. Oke, jangan merasa tertekan jika tidak mengerti satu frasa sebelum ini (padahal saya sendiri langsung mandeg  saat membaca paper tersebut). Saya akan mencoba menceritakan apa yang saya pahami dari kisah di balik persamaan tersebu...

Hitam

Apakah aku yang terlalu penuh harap Ketika aku memintamu ada di sini Atau aku yang ingin ada di dekatmu?

Learning is Amazing (2): Fisika

Waktu masih SMP, saya paling suka dengan pelajaran biologi. Buat saya, biologi menarik karena kita dapat mempelajari ilmu alam pada makhluk hidup. Saya lebih mudah membayangkan objek-objek molekuler di dalam tubuh makhluk hidup ketimbang listrik dan gravitasi yang diajarkan di pelajaran fisika. Biologi menjelaskan keanekaragaman hayati dan bagaimana masing-masing makhluk hidup dapat menghidupi dirinya. Selain itu, saya juga menikmati video-video bedah pada tubuh manusia. Organ tubuh dan darah adalah sesuatu yang memukau untuk saya. Oke, mungkin yang terakhir ini terdengar sedikit mengerikan, hahaha. Ketika masuk bangku SMA, saya mencoba mendaftar bimbingan olimpiade biologi di sekolah dengan mengikuti ujian seleksi. Namun, hasil seleksi menunjukkan bahwa saya tidak bisa masuk dalam tim olimpiade biologi. Alih-alih masuk tim biologi, nama saya justru ada di tim kimia. Guru kimia saya (yang memang cukup dekat dengan saya) ingin agar saya ikut tim kimia saja. Ajakan itu saya terima saj...

Learning is Amazing: Belajar Lintas Disiplin

Dalam tulisan sebelumnya tentang beberapa tokoh yang saya kagumi, saya sempat menyelipkan sebuah nama yang tidak begitu saya bahas. Nama itu adalah Hank Green . Saya mengagumi Hank Green karena karya-karya beliau di Youtube, khususnya Crash Course dan SciShow . Video yang pertama kali saya ikuti dari beliau adalah Crash Course Chemistry dan Biology; saat itu saya sedang tertatih-tatih memahami materi kimia dan biologi SMA. Beruntung, saya menemukan video-video tersebut dan saya merasa sangat terbantu. Saya merasa video tersebut dibawakan dengan runtut, analogi-analogi yang sangat sesuai, dan animasi yang membantu berimajinasi. Kendala terbesar saya adalah kecepatan bicara Hank Green yang begitu cepat, tetapi ini tidak begitu menjadi masalah karena di Youtube, saya bisa menghentikan sesaat dan mengulang kembali bagian yang belum saya mengerti. Pertemuan saya dengan video-video Hank Green membawa saya pada pertemuan berikutnya dengan kanal-kanal sains yang lain dan sempat memantik say...

Chamber Angkasa

Bawah Tanah merupakan gua dengan dua entrance , masing-masing terletak di utara dan di selatan. Di dalamnya, ada lorong-lorong yang dapat membawa penjelajahnya menuju chamber-chamber dengan berbagai ukuran dan bentuk ornamen. Ada salah satu chamber yang selama ini kurang diperhatikan oleh Warni sebab ia memang jarang membawa sumber cahaya yang lebih terang untuk mengamati lingkungan sekitar. Belakangan ini, ia kerap membawa seperangkat alat fotografi dan sumber cahaya yang lebih terang untuk memperoleh gambar-gambar yang menarik buatnya. Ia memang berhasil mendapatkan gambar-gambar yang eksotis menurut dirinya, khususnya pada salah satu chamber yang ia namai sebagai Chamber Angkasa. Sebelumnya, ia tidak pernah betul-betul mengeksplorasi dan berdiam diri di sana untuk waktu yang cukup lama. Ketika ia mulai harus melakukan beberapa aktivitas di Bawah Tanah, ia mulai menemukan keindahan dari ornamen dan biota gua khususnya di Chamber Angkasa. Keindahan itulah yang akhirnya membuat Warn...

Tuan

Segala yang candu itu tak baik, Katamu Aku tahu itu Tapi kamu memang sudah menjadi canduku Kupikir hanya aku kepadamu yang jatuh sedemikian dalam Tidak dirimu      yang berusaha menarikku bangkit Tidak dirimu      yang terus melangkah maju dengan tegas Tidak dirimu      yang berdiri tegap di depanku Lagi-lagi, obsesi pada kesempurnaan Menggerogotiku dari dalam

Bunuh Diri dalam 4 Kisah

/1/ Aku pernah membesuk salah seorang teman yang dirawat di rumah sakit setelah melakukan bunuh diri, tetapi gagal. Ia sudah menenggak racun serangga di dalam kamar kos dan sempat tak sadarkan diri. Katanya, selama tak sadarkan diri, ia bermimpi berada pada suatu tempat dan ia sedang berlari, mengejar sesuatu. Ia berlari menuju pada suatu arah yang benar-benar ingin dicapainya. Namun, meskipun ia sudah berupaya keras, lantai yang dipijaknya seolah-olah bergerak melawan arah, membuat dirinya tidak sampai-sampai ke tujuannya. Akhirnya, ia gagal menuju ke tempat yang dikejarnya, kemudian tersadar bahwa dirinya masih hidup. Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa, sampai akhirnya salah seorang temannya menghubungi dirinya, menjemputnya, lalu membawanya ke rumah sakit. Dia bercerita bahwa masalahnya (yang merupakan masalah hubungan eksternal dengan orang lain) telah selesai meskipun bunuh dirinya gagal. Meskipun demikian, ia menganggap bahwa jika waktu itu bunuh dirinya berhasil, mas...

Life is Not A Race

Life is not a race. Sebelum benar-benar mendapat surel yang berisi kalimat tersebut, sebetulnya aku sudah membacanya di dinding ruangan beliau. Aku membaca tulisan itu ketika kami sedang berdiskusi. Setelah keluar dari ruangan beliau, aku mengambil buku catatanku. Buku itu baru dan halaman pertamanya masih kosong. Aku merenung sejenak, menulis beberapa paragraf, lalu mengakhiri halaman pertama dengan kalimat tersebut: life is not a race . Selama ini aku memang menganggap bahwa sebisa mungkin aku harus selalu melakukan yang terbaik. Pekerjaanku harus baik dan aku harus bisa menyelesaikannya dengan cepat. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang bekerja keras dan tangguh. Beberapa kalimat yang menjadi penghias meja dan buku-bukuku ketika SMA antara lain: Keep Calm, Stay Strong, Work Hard, Think Sufficiently . Kalimat pertama memotivasiku untuk tetap bersikap tenang dan tidak perlu menyombongkan diri dengan kata-kata. Kalimat kedua memotivasiku untuk tetap kuat terhadap berbagai ma...

Rumah Sakit (2)

PERHATIAN DILARANG MEREKAM DALAM BENTUK GAMBAR / VIDEO TANPA SEIZIN MANAJEMEN Peraturan itu tertulis begitu jelas dan tertempel di sepanjang lorong dan setiap ruangan. Untuk memastikan setiap orang dapat membacanya dengan jelas, tulisan itu dicetak dalam warna putih dengan latar belakang merah. Di sampingnya, terdapat gambar berbentuk rambu, seperti rambu dilarang parkir tetapi di dalamnya bukan tertulis huruf "P" melainkan gambar kamera. Yang penting bukan larangan merekam dalam bentuk tulisan atau ilustrasi, batin Rini. Sudah satu jam lebih delapan menit Rini menunggu namanya disebut. Ia sempat menunggu selama sekitar 40 menit di dalam, 20 menit di luar, dan sekarang ia kembali ke dalam lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat ini juga--setelah satu minggu menunda dan enam hari bereksperimen dengan dirinya sendiri. Tempat ini masih dijaga oleh penjaga yang sama. Hanya saja, hari ini orang-orang tidak seperti sebelumnya. Sebelumnya, Rini menemui beberapa orang yang tamp...

Ingatan Muntah

Rini berlari ke kamar mandi setelah lambung dan kerongkongannya bersekongkol untuk menimbulkan perasaan mual. Bilik kamar mandi di kamar maupun di sekolahnya telah menjadi saksi bisu berbagai aktivitas Rini, salah satunya muntah . Dalam setiap muntahan, Rini mengingat masa-masa kecilnya yang tak jauh dari klinik, demam, dan ember untuk muntah. Penyakit yang dialaminya semasa kecil "hanyalah" kecapekan . Aktivitas fisik yang terlalu berat membebani dirinya lantaran katup jantungnya tidak sempurna. Kali ini, Rini bergulat dengan penyakit yang berbeda. Penyakit itu tidak menyerang secara langsung; ia mengendap-endap dari balik kegelapan. Penyakit itu menimbulkan candu bagi Rini. Penyakit itu memberi nikmat sekaligus pedih yang membunuhnya pelan-pelan, tetapi juga membawanya pada pelajaran-pelajaran baru setiap hari. Penyakit itu bernama depresi. Jika di masa kecil Rini selalu didampingi orang tuanya ketika sakit, kali ini ia tidak bisa betul-betul mengharapkan siapa-siapa. Or...

Lewat Tengah Malam

Apakah aku panik karena sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang kepalaku? Kalimat yang sama keluar lagi dari mulut yang berbeda dalam hari, bahkan tahun yang berbeda Dèjá Vu untuk kedua kali Kemanakah aku akan bermuara? Aku ingin kamu segera ada di sini Kembali Meski hanya berlabuh Karena kita takkan tahu Puisi pengantar tidurku Kudengar tanpa kulantunkan Skenario ini sungguh tidak aku pahami.

240-022

Jika setiap detail kejadian yang kita alami dalam kehidupan ini dicatat dalam lembaran kertas, berapa banyakkah halaman yang sudah kita lewati? Apa saja cerita yang sudah kita lalui? Siapa saja yang pernah kita temui? Bagaimana kita melewati apa yang sudah kita lewati? Kemanakah cerita ini akan berlanjut? Sejak kapan dan sampai kapankah lembaran ini ditulisi? Apa bedanya kertas ini memiliki ujung awal dan akhir yang tidak kita ketahui dengan memiliki keterhubungan dengan kertas-kertas lain dan rupanya membentuk kalang tak berujung? Mengapa aku bertemu denganmu di waktu itu dalam keadaan itu? Lelah, rasanya. Ingin segera bermain saja. Timbul tanya dalam benak, Rasa ingin tahu dan bereksperimen dengan tubuh sendiri. Tubuh siapa? Lalu bait lagu yang berulang, mengalun di telingaku: Tenggelam ke dalam lamunan sebuah perjalanan Melayang pada ingatan yang muncul silih berganti, secepat pulsa listrik antarsinapsis. Lelah dan mengantuk, ingin segera tidur.

Membuka Catatan Lama

13 Februari 2019 Warni memilih mengambil tempat duduk untuk dirinya sendiri. Ia menghadap ke tembok agar tidak perlu bertemu mata dengan siapapun. Di hadapannya ada sebuah kaleng kerupuk yang memantulkan cahaya di belakangnya. Ia bisa memantau keadaan di belakangnya dari situ. Sebetulnya, di dekatnya terdapat beberapa orang teman yang sudah selesai makan. Mereka tengah mengobrol dan di situ jelas ada bangku yang bisa didudukinya. Masih ada ruang untuk Warni, tetapi ia memilih untuk menyendiri. Baik, baik. Lawan ia dengan tulisan. Bukan, bukan lawan. Keluarkan. Keluarkan. Keluarkan. Air mata yang kutahan, keluarkan jadi kata-kata. Meskipun aku tahu intensitasmu? Mereka tidak menerima dia. Aku sedih. Dia orang baik. Mereka juga baik. Aku tidak membalas tanteku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun sementara aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya. Aku membayangkan diriku akan menepis mangkuk soto di hadapanku sampai ia jatuh dan pecah. Lalu semua orang akan menoleh ...

Bawah Tanah

Rasanya kurang adil kalau hanya menceritakan kisah-kisah yang menyayat hati. Selagi neurotransmitterku sedang seimbang, aku ingin menceritakan beberapa hal. Ada banyak perubahan yang terjadi belakangan ini. Perubahan yang kulakukan--dan kurasa cukup signifikan--adalah lebih banyak menghabiskan waktu di tempat yang berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya aku sangat banyak menghabiskan waktu di Pohon, maka sekarang aku lebih sering berada di Bawah Tanah. Aku telah mengenali seluruh orang di Pohon sebisaku. Memahami lika-liku yang terjadi di Pohon. Orang-orang yang datang dan pergi, singgah dan beranjak, tinggal dan meninggalkan Pohon jumlahnya tidak sedikit. Siklus itu cukup membuatku semakin terlatih dalam mengelola perasaan ketika mengalami pertemuan dan perpisahan. Aku sudah cukup banyak bercerita tentang orang-orang di Pohon, dan saat ini aku ingin cerita tentang dunia Bawah Tanah. Sebetulnya, aku lebih dulu mengenal dunia Bawah Tanah dibandingkan Pohon. Akan tetapi, buah-bua...

Program Itu Bernama Manusia

Aku hanya ingin kamu tahu kalau ada orang yang entah mengapa, ingin sekali membunuh paling tidak satu orang dalam hidupnya. Ia ingin tahu bagaimana rasanya merenggut nyawa seseorang dengan tangan sendiri, tetapi ia tahu bahwa sebetulnya itu tidak baik. Aku hanya ingin kamu tahu kalau ada orang yang entah mengapa, ingin sekali membuat orang lain menjadi tidak aman, misalnya dengan cara mendorong orang yang tak dikenal ke jalan raya agar ditabrak mobil atau mendorong seseorang supaya jatuh dari angkutan umum. Aku hanya ingin kamu tahu kalau ada orang yang entah mengapa, senang sekali melihat darah mengalir dari luka di tubuhnya. Ia ingin merusak dirinya, baik itu untuk memuaskan dirinya, untuk meredam emosinya, ataupun untuk menghukum dirinya atas kesalahan yang telah ia lakukan. Aku rasa, kamu punya cerita sendiri yang bisa masuk ke dalam cerita ini. Kamu punya frasa, klausa, kalimat, bahkan paragraf sendiri yang bisa melengkapi cerita ini. Tidak perlu dituliskan. Kita adalah m...

Infinitesimal Thought

Pada umumnya, semua orang sudah menyadari tak terhingga yang dihitung dari 0, 1, 2, dan seterusnya. Padahal, di dalam ketidakterhinggaan itu, terdapat ketidakterhinggaan lagi: antara 0 dan 1, terdapat 0,00...1; 0,00...2; dan seterusnya. Semesta terlalu luas dan terlalu tidak terhingga untuk kita rengkuh dan pahami. Kita terlalu kecil sebagai bagian dari ketidakterhinggaan space and time . Kita, manusia, hanyalah salah satu makhluk biologis yang memiliki mekanisme alamiah untuk menjaga agar entropi kita tetap optimal sebelum akhirnya melewati batas yang tidak bisa diturunkan lagi. Kita memiliki program di kepala yang tertanam untuk mempelajari, memaknai sesuatu, mengkaji materi lain, mencoba membuat materi dengan kecerdasan yang dapat kita pahami, hingga mencari makhluk lain yang memiliki kecerdasan yang dapat kita pahami pula. Apa yang bisa kita lihat dan rasakan hanyalah sebagian kecil dari ketidakterhinggaan fenomena fisika seperti gelombang elektromagnetik maupun mekanik.

Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya

Seorang penari menggerakkan jemarinya satu demi satu, kemudian melentingkan kakinya di bawah sorot lampu putih. Sang penari tak sendirian, ia menari bersama bayangan yang ada di bawah kakinya. Ketika sang penari bergerak ke kanan, bayangan itu ikut bergerak ke kanan. Jika sang penari berputar, maka bayangan itu ikut berputar. Para penonton takjub melihat keharmonisan sang penari dengan bayangannya. Jika sang penari mampu tersenyum dan menampakkan ekspresi jiwanya melalui otot-otot wajahnya, sang bayangan dapat membesar dan mengerdil. Sang penari terus menari meskipun tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Bahkan, musik telah mati sejak tadi. Apalah arti alunan musik jika sang penari dapat mendengarkan setiap degup jantungnya, suara napasnya, dan gesekan kakinya dengan lantai sebagai pengiring irama buatnya menari. Kadang ia memejam, kadang pula ia membuka mata. Ia tidak merasakan apapun: senang, sedih, takut, marah, terkejut, dan jijik. Ia menari karena ia adalah seorang penari...

Dali, Van Gogh, dan Descartes

Saya mudah mengagumi seseorang, terutama jika karyanya menggugah diri saya. Namun, ada beberapa orang yang saya kagumi karena selain karyanya, mereka telah melewati hidupnya dengan luar biasa, menurut saya. Tiga nama itu adalah René Descartes, Vincent Van Gogh, dan Salvador  Dalí . Oh, sebetulnya ada satu lagi: Hank Green. Tapi kali ini saya hanya ingin membahas tiga nama pertama yang sudah saya sebutkan. Salvador  Dalí   adalah nama pertama yang saya kenal dari ketiga nama tersebut, tetapi biografinya merupakan cerita yang baru saya ketahui belakangan. Saya telah mengenal karyanya sejak SMP. The Persistence of Memory adalah karya  Dalí   yang membuat saya pertama kali mengaguminya. Keeksentrikannya tingkah laku dan penampilannya adalah ikon yang membuat saya mudah sekali mengingatnya sampai sekarang. Namun, cerita hidupnya membuat saya memasukkan namanya ke dalam tulisan ini. Silakan baca biografi beliau melalui internet atau menonton ulasan tentang hidupnya...

Rumah Sakit

Obat ini menenangkan kepalaku, tetapi tidak badanku. Tiga hari mengejang dan akhirnya semalam dua orang teman membawaku kemari. Gedung berdinding hijau yang tak jauh dari kampusku. Aku sudah beberapa kali ke kompleks gedung ini, bahkan ke bangsal lain yang begitu jarang dikunjungi orang-orang pada umumnya. Namun, aku tak menyangka akan menjadi orang yang berbaring di sini, dengan selang infus yang menjuntai di sisi kananku. Tempat ini terasa asing bagiku, namun menimbulkan perasaan ajaib dan menantang. Suara lelaki yang tak jelas bergema dari kamar lain di lorong yang sama. Perempuan di balik gorden yang ada di samping kananku menjerit-jerit sejak tadi malam. Perawat dan dokter silih berganti, masuk dan keluar untuk memeriksa dan menangani pasien. Aku merasa tawar; seperti inikah manusia bekerja? Inikah titik balik episode yang sudah berlangsung sejak lama? Aku rasa belum. Namun, haruskah menunggu mati? Nada-nada yang memanggil nama Tuhan terlantun dari orang-orang di sekitar peremp...

Negosiasi dalam Dualisme

Karena tidak ada dualisme; Semua adalah padu Satu wujud Satu entitas Adalah aku yang lenyapnya Tersimpan di dalam senyap Lahir sebagai racauan Yang menggema di dalam kepala Kata-kata yang tertulis pun Kabur maknanya Hilang entah ke mana Aku dan kamu adalah satu Bukan dua apalagi tiga Kita punya kepentingan terhadap Tubuh kita sendiri