Sepuluh Menit Berlalu
Delapan menit menuju tepat pukul 2 pagi.
Kemanakah hidup akan membawaku? Tidak tahu. Suara jangkrik terdengar cukup nyaring malam ini. Aku terbaring di kamar gelap. Beberapa jam yang lalu, aku mendengar berkali-kali namaku dipanggil. Oleh dia, juga oleh dia. Akan tetapi, 3 hari yang lalu, ketika aku mendengar panggilan itu--yang lama-kelamaan menjadi teriakan yang mengganggu dan menyakitkan, aku bertanya apakah ia memanggilku atau tidak. Tidak, katanya. Setidaknya aku tahu bahwa yang kudengar tidak benar.
Lima menit menuju tepat pukul 2 pagi.
Maka, ketika tadi mendengar suara itu, aku akan diam sampai mereka betul-betul mengetuk pintu kamarku atau meneleponku. Atau, suara itu terdengar lebih jelas. Sebab suara itu terdengar sayup-sayup, seperti dari lantai bawah tetapi pelan.
Empat menit menuju tepat pukul 2 pagi.
Diam-diam aku menikmati kegilaan ini. Aku merindukan kegelisahan itu. Karena ketumpulan telah menjadi aku, sepertinya.
Tiga menit menuju tepat pukul 2 pagi.
Namun, aku tetap tak ingin kegilaan ini muncul di depan dia, mereka.
Dua menit menuju tepat pukul 2 pagi. Aku tidak bohong soal waktu. Hanya saja, dari tadi jemariku salah ketik. Aku jadi harus menghapus dan menulis kalimat yang ingin kukeluarkan berkali-kali.
Satu menit menuju tepat pukul 2 pagi. Aku akan berbohong untuk hal-hal tertentu yang kupikir akan menyelamatkan berbagai pihak. Bukan, aku tidak berbohong. Aku hanya tidak berkata apa-apa, sebagaimana ajaran mereka.
Tepat pukul 2 pagi.
Delapan menit berlalu. Empat ratus delapan puluh detik berlalu. Dua belas orang telah mati bunuh diri. Dua puluh empat orang selamat dari bunuh diri. Entah berapa orang, berpikir ingin bunuh diri.
Dua menit berlalu lagi. 2×60=120. 120÷40=3. Tiga orang mati lagi.
Comments
Post a Comment