Posts

Showing posts from July, 2017

Nona, Bersabarlah

Akhirnya, tiba juga pertemuan yang ditunggu-tunggu gadis itu. Sudah setahun lebih, gadis itu duduk di atas bangku kayu panjang menunggu kedatangan lelakinya. Tak sekalipun gadis itu memeriksa arlojinya, atau menekuk senyum penantiannya, bahkan sekadar memejamkan matanya. Ia telah bersolek demi kedatangan lelakinya semenjak lebih dari setahun yang lalu. Senyum itu telah disetelnya persis seperti saat pertama kali mereka bertemu sebelumnya. Di kepalanya, rangkaian kata-kata tak henti-hentinya ia susun sedemikian rupa sehingga ia takkan kehabisan pembicaraan saat bertemu lelakinya. Dan hari ini, detik ini: lelakinya datang. Betapa bermekaran bunga yang hampir layu di hatinya itu. Gadis itu terdiam, menunggu lelakinya menyapa duluan. Sang Lelaki tidak berujar apapun, hanya diulurkannya tangannya untuk kemudian menggenggam lentik jemari Sang Gadis. Sang Gadis pun bangkit setelah setahun lebih tidak berpindah sedikitpun dari bangku itu; mereka berjalan bergandengan tangan tanpa percakap...

Sajak Pagi

/1/ Selamat pagi; Salam hangat dari dapur berantakan yang menunggu untuk dibereskan. Kacang, tempe, dan teri di nampan    tampak tenang, menanti untuk diolah jadi makanan. /2/ Selamat pagi; Salam hangat dari dasar hati yang berserakan dan menanti untuk ditata rapi. Rindu, cinta, angan, dan benci seolah siap bersemi lagi. /3/ Selamat pagi; Waktunya bangun dari mimpi.

Cinta dan Potongan Puzzle

"Cinta itu sederhana; bila tak bisa buat dia tertawa, cukup jangan buat ia terluka. Cinta itu sederhana; bila tak bisa bertahan lama, cukup buat ia percaya, dan terus yakinkan dia bahwa hanya dirimulah yang selalu ada." -sepotong lirik dari sebuah lagu berjudul ' Cinta Itu Sederhana'. Nyatanya cinta bisa sesederhana itu. Ataupun sangat rumit, jauh dari kata sederhana. Lama saya tidak merenungkan kata ini, barangkali sekitar semenjak ketakutan akan tanggung jawab yang begitu besar ketika kita harus mencintai; memilih dan hidup bersama pasangan, anak, dan keluarga yang baru muncul dan menguasai pikiran ini. Setelah berdiskusi dengan seorang teman, ternyata saya menemukan sisi baru dari dalam diri ini. Saya menyukai perihal saling menyayangi--terkadang saya merasa berkelimpahan kasih sayang tetapi tidak tahu harus membaginya pada siapa semenjak tidak ada satu orang yang bisa saya sandarkan diri ini kepadanya. Menyayangi dan disayangi itu menyenangkan. Hal-hal...

Malam Itu

"Aku menulis, untuk mengingat." Demikianlah katamu dalam perbincangan kita malam itu. Ketika kita menyusuri jalan setapak diantara pepohonan yang tak bergerak. Bintang-gemintang tak terlihat; diselimuti awan mendung. Tidak ada senter, tidak ada lampu. Bias sinar rembulan izinkan kami tetap melangkah di jalan setapak itu. "Yah, entahlah. Aku merasa senang. Sangat senang. Tetapi aku merasa gelisah. Dan itu tak kupungkiri; sebab aku belum memahami maksud Tuhan." "Bagaimana maksudmu?" Tanyaku. "Aku berencana meninggalkan tempat ini jika aku terjatuh lebih dari lima kali. Kupikir, itu tandanya aku memang tak cocok berada di sini. Itulah sebabnya aku tidak membawa penerangan apapun. Tuhan bisa saja menaruh kerikil di jalanku, atau lubang di hadapanku. Bisa saja ia gelapkan malam ini sekelam gua yang dalam, bisa saja ia turunkan badai. Sehingga, aku jatuh dan akhirnya memutuskan untuk pergi. Tetapi tidak. Tuhan justru membiarkan rembulan tetap...