Entah mengapa, aku menyukai sudut itu. Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi. Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka. Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu. Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya. . Aku melihat tanah. Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia. Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya. . Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir. Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, ...