Posts

Showing posts from November, 2016

Terali

Image
Melangkah Dengan kaki dirantai Merebah Dengan duri di lantai Menebas Jerjak yang ditanam di jalan Meretas Sandi yang mengunci ucapan Memandang Panorama yang terhalang terali Menyadari bahwa lapang Adalah abadi untuk tak kembali Ruang; Satu-satunya kenyataan yang kumiliki Untuk kujelajahi Sebagai tempatku menyelisik Sampai nanti kauberbisik: "Aku pulang"

Sebuah Kisah (oleh) Butir Air

Image
Jabat tanganku, maka dinginlah yang akan kaurasakan. Karena aku adalah butir air. Aku adalah sebutir air yang menetes kala hujan. Entahlah, aku tidak sadar ketika masih bersemayam di atas awan sana. Tahu-tahu aku sudah jatuh, menari mengikuti ritme angin dan tarikan gravitasi. Kau tahu? Aku merasa sangat indah saat itu. Di saat mayoritas manusia tetap sibuk dengan aktivitasnya, sebagian lagi justru memilih menggilaiku. Lihatlah kepada para pecandu hujan! Mereka yang menulis bait-bait sajak, yang melantunkan lagu-lagu sendu, yang mencari inspirasi dari tetesan hujan, hingga yang sengaja menitikkan air mata dengan harapan basahnya wajah dapat tertutupi rintik hujan. Akulah pesona; Sang Hujan yang mereka nikmati! . Tetapi sungguh, itu hanya terjadi dalam sekejap. Seketika tubuhku menghantam daun di ujung ranting, tergelincir di tulangnya. Jatuh lagi kemudian terhempas ke atas tanah. Bersatu dengan butiran air lainnya dan partikel-partikel tanah. Tak lagi jernih. Kini akulah Si Ku...

Lamunan di Sudut Barat Daya Ruang Itu

Image
Entah mengapa, aku menyukai sudut itu. Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi. Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka. Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu. Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya. . Aku melihat tanah. Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia. Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya. . Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir. Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, ...

Tentang Cahaya

Image
Cahaya putih, sebenarnya memiliki spektrum yang berwarna-warni. Sumber cahaya yang berbeda, akan menghasilkan spektrum yang berbeda pula. Meskipun cahaya yang dihasilkan tampak sama. Putih misalnya. Pun, kita sebagai manusia. Dengan fisik kita yang sama; dua mata, satu kepala, dan seterusnya (dengan asumsi tanpa cacat), Kita manusia, punya 'spektrum' masing-masing. Spektrum dengan susunan yang berbeda untuk masing-masing individu. Manusia seperti cahaya tampak yang belum diurai. Manusia bisa saja tampak sesederhana cahaya putih, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai 'gelombang' dengan karakter yang berbeda-beda. *** Seperti inilah wujud cahaya langit yang sebenarnya. Citra di atas diambil dengan kamera ponsel, dari spektrometer buatan sendiri dan diarahkan kepada langit cerah tadi pagi. Sistem di atas menerapkan sifat cahaya yang dapat didifraksikan, dengan menggunakan permukaan CD yang tidak rata. Bicara soal langit... Ah, aku rindu menat...

Sepucuk Surat untuk Warna

Untuk Warna Hai, Warna. Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya. Warni sudah lelah, Sayang. Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya. Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni. Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah. Warni mulai tersesat. Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun. Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi. Cukuplah ia yang tersesat,...

Semoga Kau Tidak Bingung Membacanya

Aku bingung. Hanya bingung . Karena itu, jangan tanya kenapa aku bingung. Karena pertanyaan itu hanya akan menambah kebingunganku sampai tidak ada lagi yang dapat kujawab kecuali 'aku sedang bingung'. Ya, aku bingung, dan kupikir terkadang bingung tak memerlukan alasan. Sama halnya dengan pertanyaanmu tadi: "Mengapa kau bingung?" Bukankah pertanyaan itu sendiri menunjukkan kebingunganmu? Izinkan aku menjawab: "Sekarang, kenapa jadi kau yang bingung mengapa aku bingung?" "Karena kau membingungkan." "Kau tahu? Sekarang justru kau yang membingungkan." Hmmm. Aneh sekali. Kosong. Sepi. Sekosong langit-langit kamar Yang membatasiku dengan cakrawala Rinduku pada langit, kau tangkal