Sebuah Kisah (oleh) Butir Air

Jabat tanganku, maka dinginlah yang akan kaurasakan. Karena aku adalah butir air.

Aku adalah sebutir air yang menetes kala hujan. Entahlah, aku tidak sadar ketika masih bersemayam di atas awan sana. Tahu-tahu aku sudah jatuh, menari mengikuti ritme angin dan tarikan gravitasi.
Kau tahu? Aku merasa sangat indah saat itu. Di saat mayoritas manusia tetap sibuk dengan aktivitasnya, sebagian lagi justru memilih menggilaiku. Lihatlah kepada para pecandu hujan! Mereka yang menulis bait-bait sajak, yang melantunkan lagu-lagu sendu, yang mencari inspirasi dari tetesan hujan, hingga yang sengaja menitikkan air mata dengan harapan basahnya wajah dapat tertutupi rintik hujan.
Akulah pesona; Sang Hujan yang mereka nikmati!
.
Tetapi sungguh, itu hanya terjadi dalam sekejap. Seketika tubuhku menghantam daun di ujung ranting, tergelincir di tulangnya. Jatuh lagi kemudian terhempas ke atas tanah. Bersatu dengan butiran air lainnya dan partikel-partikel tanah. Tak lagi jernih.
Kini akulah Si Kubangan.
Akulah kubangan yang digilas roda-roda yang melintas. Yang dihindari sepatu-sepatu cantik; yang hanya ditapaki sandal jepit atau beberapa sepatu milik orang yang terburu-buru. Keruh.
Yang bisa kulakukan hanyalah menatap langit kelabu di sela-sela dedaunan. Menyaksikan butiran hujan lainnya yang kelak bernasib sama sepertiku. Bosan.
Apa yang dapat kuperbuat? Dari tadi hanya menanti yang tak pasti. Bergerak pun tak bisa. Tuhan, aku ingin bebas!
.
Namun Tuhan tak menjawab.
Sesuai dugaan.
Ya, Dia memang hobi berteka-teki. Membiarkan ciptaan-Nya menerka maksudnya.
Tetapi kali ini aku lelah, Tuhan! Apa ini karma kesombonganku?
Kau bermaksud mengajariku?...
...

Setelah itu, aku melewati rentetan peristiwa yang panjang. Mengalir, meresap ke dalam tanah. Diisap akar pohon, kemudian keluar lagi oleh tarikan panas mentari. Menjadi wujud yang berbeda. Kembali ke atas langit. Turun lagi sebagai hujan, begitu seterusnya.

Di atas dan di bawah.
Menjadi jernih dan menjelma keruh.
Seberapapun diriku berusaha eksis, sebagai hujan bahkan kubangan, aku tetaplah butiran air diantara milyaran butiran air lainnya yang menjalani siklus berulang sepertiku.

Aku telah bertemu dan berpisah dengan jutaan air dan makhluk lainnya. Dan sungguh, kini aku lelah.

Jabat tanganku; akulah ciptaan Tuhan dalam wujud butir air.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri