Renungan Malam Awal Tahun Hijriah
Sudah satu tahun aku tidak menjejakkan kaki di bumi khatulistiwa, dan sudah hampir 2 tahun aku hidup sebagai diaspora. Jenjang studi strata 2 pun sudah hampir aku selesaikan--tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan resmi mendapat gelar master. Pengalaman 2 tahun ini sangat unik; tentu ada baik dan buruknya, manis dan pahitnya. Aku bekerja begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki pola pikir yang sangat berbeda denganku. Hal ini membuatku semakin menyadari apa yang menurutku benar dan salah serta baik dan buruk. Aku sangat bersyukur bahwa setidaknya di sini masih ada setidaknya dua orang dekat yang sepakat denganku atas kompas moral pendidikan. Hal yang serupa juga aku peroleh dari pekerjaanku selepas sarjana. Mungkin, jika aku tidak mendapat dukungan dari orang yang sepemikiran denganku, aku akan merasa jauh lebih berat untuk mempertahankan nilai-nilaiku. Sementara tubuh yang tidak terintegrasi; pikiran yang tidak selaras dengan ucapan dan perbuatan, adalah siksaan.
Dunia ini memang terasa aneh. Ketika aku teralienisasi atas pandanganku di sini, satu orang yang sepakat denganku menyatakan bahwa ia belum pernah menemui pandangan orang yang mengucilkan pemikirkanku--selama 8 tahun ia berkarier di beberapa belahan dunia yang berbeda, walau itu pada zaman yang berbeda.
Terkadang aku merasa kecewa, sedih, dan marah saat idealisme dan common sense-ku ditentang. Saat usahaku tidak diapresiasi atau justru dijatuhkan. Kupikir perasaan itu wajar dan baik, karena artinya aku masih punya bentuk penghargaan atas diriku sendiri. Tetapi ada satu kata yang masih terngiang-ngiang di kepalaku dan masih berusaha aku resapi: "maafkan".
Maafkan
mereka
agar aku tidak terikat atas ucapan yang tidak menyenangkan. Ucapan orang lain tidak mendefinisikan diriku.
***
Setiap jenis bunga membutuhkan jenis tanah, iklim, dan kadar air yang berbeda untuk tumbuh, berkembang, dan mekar. Apa yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untukku, begitu pula sebaliknya.
Lebih jauh daripada itu, apa sebetulnya prioritas dalam hidupku? Apakah persoalan ini hanya masalah dunia, atau lebih jauh daripada itu?
Bagaimana caranya agar karyaku di dunia dapat melampaui batas waktu--dalam hal kebaikan?
Mungkin hal-hal ini lebih layak untuk dirisaukan.
Penilaian makhluk tidak sebanding dengan penilaian Penciptanya.
Comments
Post a Comment