Posts

Showing posts from September, 2018

Ceracau Kemarauku

Image
Dua tahun terakhir di hidupku telah kucurahkan kepada Pohon. Ia telah menjadi saksi bisu segala kebahagiaan, air mata, kejujuran, kebohongan, cinta, ketakutan, dan berbagai perasaan serta tindakanku selama dua tahun ini. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku bertahan di sini? Sementara berkali-kali aku jatuh-bangun di bawah Pohon. Sudah tak terhitung berapa kali aku begitu ingin meninggalkan Pohon ini. Namun beginilah nyatanya, aku masih dan justru semakin menyandarkan tubuhku di bawah Pohon. Aku pernah menganggap Pohon ini adalah tempat yang memabukkan, kenikmatan yang semu. Kini, kupikir Pohon adalah tempatku mempelajari setiap ruas kayu, makna daun jatuh, bagaimana orang datang dan pergi. Apakah aku telah tercuci otak oleh wangi aroma kayunya, oleh manis buahnya, oleh cantik dedaunannya, ataukah memang demikianlah Sang Pohon? Jika setiap hal terjadi untuk suatu maksud pada ruang-waktu yang spesifik, jika aku ada sebagai suatu peran pada ruang-waktu yang spesifik, lantas apa h...

Panggilan Tak Terjawab

Image
Tuhan Aku ini lemah Kau ingin aku bagaimana? Tuhan Aku ini rapuh Kau ingin aku meyakini apa? Tuhan Aku mencariMu Di sela tempias sinar senja merah jambu Aku memanggilMu Di antara derai air mata yang membiru Dalam gelap aku bertanya Kepada siapa harus percaya Tentang harus apa aku di dunia (Sleman, 2018)

Rindu-Warna-Hitam

Tersandung anganku Pada kenangan yang bangkit Berkobar-kobar di benakku Jejakkan pahit Tentang Tuan Rindu dan kacamatanya Senyumnya yang tipis Bicaranya yang jumawa Jemarinya yang menebal dihantam batu tebing Kecintaannya pada panda, alam, dan kata Emosinya yang meledak saat ada yang tak sesuai Langkahnya yang lebar Peluh dan gengsinya Wawasannya soal langit dan buku Kesabarannya mendengar kisahku Kenangan yang tersisa Di jalanan Yogyakarta tengah malam Malioboro pukul tiga pagi Matahari terbit di jalan menuju pantai Minuman hangat di Bukit Bintang Gugusan bintang dan awan pecah di bukit Paralayang Sidik jari di pengaman logam Jejak magnesium di setiap poin Siung, Samigaluh, Parangndog, atau sekadar boulder Kampus sastra dan kantinnya Salad buah dan tahu tek Burjo di depan indekos Nasi goreng di minimarket jalan Monjali Teater dan puisi Gelanggang mahasiswa dan buku novel Bahkan di rumahku sendiri Timbul dan tenggelam ...

Hantu

Kegelisahan itu datang lagi. Membakarku dari dalam sampai ke ubun-ubun. Menciptakan keresahan yang tiada jelas sebabnya. Ketidakterimaan diri atas kehidupan bangkit lagi. Racauan tak menentu mengalun merdu dalam kaos di kepalaku. Ketakutan itu menusukku dari dalam. Ia melelehkan pikiranku hingga jatuh sebagai air mata. Menutupiku dari terang yang harusnya kukejar untuk kulakukan. Ketakutan itu justru membuatku terus lari dan bersembunyi. Seram. Ia mengejarku. Monster di tubuhku bangun lagi. Menggerogotiku tanpa terlihat. Mengisap ketenanganku di hari-hari yang berlalu. Ia menelanku, merasukiku, menguasaiku. Menghancurkanku perlahan-lahan. Aku tidak ingin bertemu hari esok. Aku lelah. Letih. Apa yang aku tunggu? Aku selalu merebahkan diriku di pelukan orang lain demi melupakan ketakutanku. Nyatanya, kesendirian selalu menarikku ke dalan ketakutan atas hantu kegelisahan yang kerap mengikutiku.

Belati

Belati yang kutancapkan ke dadamu Bergagang pedang Turut mengiris jemariku Yang menggenggamnya Mungkin tak layak meminta maaf Aku bisa memahami sakitmu Sungguh aku tahu tajamnya belati itu Tetapi ini beban yang mesti kupikul Karena telah biarkan yang lain masuk ke diriku Aku hanya ingin kautahu Bahwa tak sedikitpun niatku Untuk tertawa di atas pilumu Aku bisa memahami sakitmu Sungguh aku tahu tajamnya belati itu Sungguh aku tahu tajamnya Sungguh aku paham lukanya (Sleman, 2018)