Ceracau Kemarauku
Dua tahun terakhir di hidupku telah kucurahkan kepada Pohon. Ia telah menjadi saksi bisu segala kebahagiaan, air mata, kejujuran, kebohongan, cinta, ketakutan, dan berbagai perasaan serta tindakanku selama dua tahun ini. Kenapa aku ada di sini? Kenapa aku bertahan di sini? Sementara berkali-kali aku jatuh-bangun di bawah Pohon. Sudah tak terhitung berapa kali aku begitu ingin meninggalkan Pohon ini. Namun beginilah nyatanya, aku masih dan justru semakin menyandarkan tubuhku di bawah Pohon. Aku pernah menganggap Pohon ini adalah tempat yang memabukkan, kenikmatan yang semu. Kini, kupikir Pohon adalah tempatku mempelajari setiap ruas kayu, makna daun jatuh, bagaimana orang datang dan pergi. Apakah aku telah tercuci otak oleh wangi aroma kayunya, oleh manis buahnya, oleh cantik dedaunannya, ataukah memang demikianlah Sang Pohon? Jika setiap hal terjadi untuk suatu maksud pada ruang-waktu yang spesifik, jika aku ada sebagai suatu peran pada ruang-waktu yang spesifik, lantas apa h...