Posts

Showing posts from December, 2016

Pesan Akhir Tahun

Barangkali setelah tahun berganti, Warni perlu lebih bersabar. Satu. Bersabarlah menunggu waktu yang ditentukan untuk bertemu (kembali) dengan Warna. Sembari menunggu, Warni, kau bisa memikirkan dengan jernih apa yang ingin kausampaikan. Susun semua pemikiran secara tersistematis; gunakan logika dan singkirkan sejenak perasaanmu itu. Diskusikan dengan jelas dan tanpa emosi. Jangan lupa berdoa supaya diberi kelancaran, yakinlah bahwa apapun jalan keluarnya nanti, itu semua merupakan takdir-Nya. Dua. Bersabarlah atas hatimu yang mulai bertanya-tanya tentang perasaanmu terhadap-"nya". Yang kaukenal di bawah Pohon. Ingatlah bahwa perasaan perlu dibekali logika, Warni. Meski terkadang, kehadiran logika melukai perasaan, sementara hanya waktu yang mampu menyembuhkan perasaan. Datang darimanakah perasaan itu? Mengapa perasaan itu timbul? Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Dan, bagaimanakah sebaiknya menyikapi perasaan itu? Renungkanlah. Tiga. Bersabarlah dalam belajar, te...

Menyapamu

Di tengah kebimbangan hati ini, sungguh, saya rindu kamu, wahai saudariku. Kamu yang selalu tersenyum dalam kesederhanaanmu. Tertawa riang ketika orang-orang iba melihat pahit kehidupan yang mesti kautelan. Membantu orang lain meski dirimu tak sedang dalam kemudahan. Tutur katamu melipur lara orang-orang di sekitarmu. Saudariku, kamu inspirasiku. Memori adalah prasasti yang kita ukir bersama. Ingat canda tawa ketika kita mendendangkan laguku dan lagumu? Ingat sajak-sajak alam semesta yang kata-katanya kita rajut bersama? Ingat bintang jatuh yang kita saksikan bersama subuh itu? Ingat ketika aku bercerita dan kauhanya sanggup mendengar lalu tersenyum, begitu pula ketika dirimu yang bercerita. Dan ingatkah ketika hari terakhir kebersamaan kita; tak satupun dari kita sanggup berkata-kata. Hanya kerlingan air mata yang sanggup berbicara tentang semua yang kita lewati dan yang akan kita lewati. Peluk hangat itu menjadi satu-satunya ekspresi yang mampu kita ungkapkan. Kini semua t...

Lepas Landas

Image
Di bandara, nama-nama dipanggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku juga Di hatiku, namamu aku panggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku tetap Perjalanan Selalu demikian Relakan Dan melangkah ke depan

Kabar Hari Ini

"Hei, Warni. Ada apa denganmu? Kautampak bahagia; bukankah begitu, hmm?" Ia mematung, menatap mataku dengan tatapannya yang kosong. Dua puluh tiga milisekon kemudian, tawa tanpa suaranya meledak. Entah apa maksud tawa itu. Aneh sekali. Baru dua hari yang lalu, kondisinya tidak keruan. Pikirannya acak amburadul, bicaranya tak jelas, kerjaannya melontarkan pertanyaan ini-itu dan bercerita tentang alur penuh lubang. Hari ini, sejak tadi pagi tepatnya, Warni berubah 180 derajat. Ia sudah tertawa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal tidak ada yang betul-betul ia lakukan untuk menolong pikirannya yang kacau itu. Yah, kuucapkan selamat sajalah padamu. Karena keresahanmu merepotkan banyak orang, semoga seterusnya bahagia.

Soal Hak

Image
Manusia sering meresahkan hal-hal yang belum terjadi dan belum tentu terjadi. Berpikirlah secukupnya. Karena masa depan ialah jawaban atas tanya yang tak akan pernah bisa ditembus oleh manusia. Bosan, jenuh, suntuk, seringkali hinggap di kehidupan. Membuat semua terasa hambar. Bersyukurlah. *** Sebenarnya karya dalam gambar di atas merupakan dekorasi pameran seni rupa The Art of Nguwongke #1 yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran yang dilaksanakan pada 15-22 Desember 2016 ini diselenggarakan dalam memperingati Hari Hak Asasi Manusia tempo hari. (Baca http://krjogja.com/web/news/read/18320/15_22_Desember_Jangan_Lupa_The_Art_Of_Nguwongke_1) --- Hak Asasi Manusia saja diperingati, mengapa tidak ada peringatan Kewajiban Manusia? Sebegitu hebatkah manusia sampai tidak perlu diingatkan untuk selalu menjalankan kewajibannya? Hak dan kewajiban berjalan beriringan. Dengan melaksanakan kewajiban dalam peran yang kita pegang, hak-hak orang lain...

Cita, Cinta, Cita-cita

Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk kembali ke dunia nyata. Akhir tahun, saatnya tutup buku. Mari tata ulang pikiran yang telah lama dibiarkan berantakan. Demi menyembunyikan diri, saya sampai sempat lupa bahwa menulis bukan hanya ladang ekspresi emosi, tetapi juga sarana meruntut gagasan. Tahun 2016 akan berakhir dalam waktu dekat. Bicara soal pergantian tahun, sebagian orang yang melakukannya biasanya akan membuat resolusi, tentang apa yang ingin dicapai selama satu tahun ke depan atau lebih, dan sebagainya. Tujuan dan target cenderung lebih mudah dirumuskan apabila seseorang memiliki motivasi hidup. Setiap orang mempunyai motivasinya sendiri dalam menjalani hidup, tergantung pada prinsip-prinsip kehidupan yang dipegangnya. Sejatinya pembentukan manusia merupakan perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menemukan prinsip-prinsip yang menurutnya benar, dan tak jarang perubahan pola pikir terjadi seiring perjalanan. Saya sendiri sebelumnya berprinsip bahwa tak masalah jika tidak...

Yang Hidup yang Mati

Semalam saya menonton penampilan teater yang merupakan adaptasi cerpen "Hidup atau Mati" karya Rabindranath Tagore. Sebelumnya saya belum mengenal sastrawan India ini, apalagi membaca karya-karyanya. Ini merupakan kali pertama saya menyaksikan karya R. Tagore yang telah diadaptasi mahasiswa kampus sebelah. Ceritanya tentang seorang wanita yang telah mati, dan mayatnya dijaga oleh enam orang. Kemudian mayat itu hidup kembali, namun sayangnya, saat itu enam orang tadi lalai sehingga wanita itu pergi. Supaya tidak disalahkan, enam orang itu memutuskan untuk membohongi orang-orang dengan mengatakan bahwa mereka telah membakar mayat wanita itu. Maka apabila wanita itu muncul, semua orang akan menganggapnya hantu. Singkat cerita, benar saja; ia seperti orang mati di tengah-tengah yang hidup. Sampai pada akhirnya ketika ia bertemu keponakan yang dicintainya, semua orang masih saja menganggapnya sudah meninggal. Ironisnya, untuk membuktikan dirinya masih hidup, wanita itu sampai men...

Karena Terkadang Cerita Memang Tak Pernah Berakhir, Selalu Tersambung di Tiap Aksara.

Ahahahaha Ahahaha Ahaha Aha A Ap Apa Apa yang Kulakukan? Kulaku Kula Ku K Ke Kem Kemba Kembali Menjadi Seperti Waktu itu Waktu Wak Wa Wal Walau Kutahu Ini salah Iya, salah Iya, mestinya, Mestinya tak begini Mestinya tak Mestinya Mesti Mes M Ma Maa Maaf. Maaf...

Telanlah Buah Sepi yang Kautanam Sendiri, Warni

Warni, Lihatlah dirimu. Begitu tak stabil, rapuh, mudah sekali jatuh. Apa yang kaukejar kalau sudah seperti ini? Kekosongan di hatimu itu, padahal kautahu sebabnya. Tetapi mengapa masih tak kauatasi juga? Kau justru diam, menunggu uluran tangan, berharap penantianmu diakhiri datangnya seseorang ke hadapanmu. Mau sampai kapan bermimpi? Ah, iya, aku lupa kalau kau hidup di alam imaji. Makanya bermimpi saja kerjaanmu. Bukan begitu? Hei, Warni, Sepi sekali malam ini, bukan? Baik langit yang lengang, pun hatimu yang tak tenang. Baru saja petang kemarin, dan kemarinnya lagi, kau kesenangan sendiri karena tak duduk di belakang Pohon sendirian. Malam ini, justru pikiranmu kembali kacau. Merapal mantra mengundang orang. Padahal, tak guna.

Dia, Dirinya, dan Senja Emas [2]

Tujuh menit sebelum matahari benar-benar menyingkir dari langit. Seorang lelaki mengisap sebatang rokok terakhirnya. Ujungnya digerogoti api kecil yang hendak menyaingi merah mentari sore itu. Sedikit demi sedikit, rokok itu habis, menyisakan abu yang kemudian lenyap diterbangkan deru angin pantai. Lelaki itu memeluk kedua kakinya dengan tangan kiri, sedang jemari tangan kanannya masih menjepit rokok yang semakin pendek itu. Matanya mengarah ke laut, tetapi sesungguhnya dia tidak menatap apa-apa. Seolah bisu, mulutnya terkunci karena memang tidak ada seorangpun di sekitarnya untuk diajak bicara. Lelaki itu sendirian, hanya sepi yang telah menemaninya sejak beberapa bulan terakhir. Tidak ada lagi yang tersisa. Hanya ada dirinya, dan-- Sudahlah! Diluruskannya kedua kaki yang menapak pasir itu, kemudian dia berdiri. Melangkahkan kakinya, menyusuri pantai mengikuti irama ombak yang berdebur. Seratus dua detik berlalu. Ia sadar, ada yang mengikutinya. Sebuah bayangan terus berada ...

Dia, Dirinya, dan Senja Emas [1]

Image
Senja itu--langit mengalami transisi warna lantaran mentari mengucap selamat tinggal pada hari dengan kilaunya. Kilau emas yang memesona dan tidak biasa. Meminta untuk diabadikan dalam untaian kata-kata dari para pujangga. Namun, justru seseorang hanya diam saat itu. Ia sosok yang termenung kala senja. Ia tak tertarik mendengar suara kepak sayap burung yang beterbangan pulang menuju sarangnya. Ia tak berminat menatap awan berarak yang mengiringi kepergian mentari. Ia tak peduli meski gejala senja sedang indah-indahnya kala itu. Tak ia acuhkan segala hal. Ia sosok yang sedang menipu diri dengan menjadi abai terhadap sekitarnya. Sesuatu telah mengusiknya. Sesuatu yang telah datang dan terus berada di sisinya, tetapi kemudian menghilang seiring senja. Bukan, ini bukan soal kekasih hati. Bukan pula soal keluarga, teman, bahkan lawan. Ini hanya tentang dirinya kala senja. Tentang ia dan tujuh menit sebelum senja berakhir. Empat ratus dua puluh detik sebelum lembayung berangsu...

Untuk yang Sedang Berjuang

Warni ingin bicara. Setelah lepas dari Warna, rasanya Warni betul-betul berjalan sendirian. Dalam perjalanannya, berkali-kali ia terantuk batu, menabrak dahan. Bukannya menuju jalan yang lebih terang dan terbuka, Warni justru berjalan menuju belantara di belakang Pohon. Di tengah perjalanan, sayup-sayup Warni mendengar suara: kembalilah . Suara yang memanggil dirinya dengan nada aneh. Menggetarkan, tetapi tak menggerakkannya untuk berbalik arah barang sekalipun. Sampai saat ia tak sengaja menapak tanah yang rapuh; Warni jatuh! Ia menggelinding di tanah yang curam, tak terhentikan; jauh menuju jurang yang dalam. Gelap. Dingin. Namun, menenangkan. Aneh. Warni berjalan menyusuri kegelapan jurang itu. Rupanya ia tak sendirian di sana. Ada beberapa teman yang pernah ia temui di sekitar Pohon. Mereka diam, tak saling bicara. Hanya menatap dinding batu yang terjal dan hampir mustahil untuk dipanjat. Melihat mereka seperti itu, justru menimbulkan keinginan bagi Warni untuk naik. Kembal...