Cita, Cinta, Cita-cita
Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk kembali ke dunia nyata. Akhir tahun, saatnya tutup buku. Mari tata ulang pikiran yang telah lama dibiarkan berantakan. Demi menyembunyikan diri, saya sampai sempat lupa bahwa menulis bukan hanya ladang ekspresi emosi, tetapi juga sarana meruntut gagasan.
Tahun 2016 akan berakhir dalam waktu dekat. Bicara soal pergantian tahun, sebagian orang yang melakukannya biasanya akan membuat resolusi, tentang apa yang ingin dicapai selama satu tahun ke depan atau lebih, dan sebagainya. Tujuan dan target cenderung lebih mudah dirumuskan apabila seseorang memiliki motivasi hidup.
Setiap orang mempunyai motivasinya sendiri dalam menjalani hidup, tergantung pada prinsip-prinsip kehidupan yang dipegangnya. Sejatinya pembentukan manusia merupakan perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menemukan prinsip-prinsip yang menurutnya benar, dan tak jarang perubahan pola pikir terjadi seiring perjalanan.
Saya sendiri sebelumnya berprinsip bahwa tak masalah jika tidak mempunyai cita-cita, yang terpenting adalah melakukan apa yang dihadapi hari ini dengan sebaik-baiknya. Jika kita mengusahakan sesuatu sebaik mungkin, suatu saat kita akan mendapat hasil yang baik pula.
Kini saya sadar, hal itu begitu naif. Pengharapan mendapat sesuatu yang baik di masa depan itulah sebenarnya cita-cita saya sendiri. Prinsip itu saya genggam sebagai dalih karena saya tidak memiliki cita-cita konkret seperti kebanyakan orang, dan itu menimbulkan gejala keresahan di waktu-waktu tertentu.
Saat orang-orang mencari cara untuk mencapai cita-citanya, justru saya masih dalam pencarian cita-cita. Suatu paradoks dalam diri saya yang menghambat pencarian itu adalah idealis namun pesimis. Jauh di lubuk hati, saya mengharapkan kehidupan yang menurut saya ideal. Tetapi saya pesimis, takut dan tak yakin hal itu mampu tercapai, sehingga dalam merumuskan keinginan, saya selalu berusaha menekan diri saya untuk jangan terlalu berharap akan terwujudnya keinginan tersebut.
Ketika mencoba kembali melihat ke belakang, saya sadar bahwa cinta, dengan keabstrakannya, dapat menjadi motivasi kuat bagi seseorang untuk melakukan dan mencapai sesuatu. Ha! Klise, tetapi demikianlah adanya.
Mencintai Tuhan menggerakkan seseorang untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan dengan mempelajari ajaran-Nya, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mencintai orang tua menjadikan seorang anak berusaha membahagiakan orang tuanya. Mencintai pasangan mengajak seseorang untuk memperbaiki diri demi memantaskan diri dalam bersanding dengannya. Mencintai anak membuat seorang ibu atau bapak belajar menjaga, membangun, dan merawat manusia, dan seharusnya dimulai dari membangun diri sendiri. Mencintai uang memicu seseorang untuk mengejarnya. Mencintai pekerjaan menghasilkan candu dalam melakukan pekerjaan tersebut bagi orang yang mencintainya. Mencintai ilmu pengetahuan membuat seseorang tak jemu mengkaji dan mengeksplorasi lebih dalam.
Cinta terhadap objek-objek di luar diri, sebenarnya bermuara pada pengembangan diri sendiri. Manusia memang tak pernah lepas dari egonya. Tetapi ke arah mana pengembangan diri itu menuju, itulah yang menjadi persoalannya. Perbedaan peletakan cinta dan kadarnya akan membentuk pemikiran dan menggerakkan perbuatan yang berbeda-beda. Maka letakkanlah cinta dalam tempat yang benar dan kadar yang tepat, supaya tak salah dalam memiliki motivasi, melakukan pengembangan diri, dan merumuskan cita-cita.
Ah, terlalu banyak aku dalam tulisan ini.
Tahun 2016 akan berakhir dalam waktu dekat. Bicara soal pergantian tahun, sebagian orang yang melakukannya biasanya akan membuat resolusi, tentang apa yang ingin dicapai selama satu tahun ke depan atau lebih, dan sebagainya. Tujuan dan target cenderung lebih mudah dirumuskan apabila seseorang memiliki motivasi hidup.
Setiap orang mempunyai motivasinya sendiri dalam menjalani hidup, tergantung pada prinsip-prinsip kehidupan yang dipegangnya. Sejatinya pembentukan manusia merupakan perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menemukan prinsip-prinsip yang menurutnya benar, dan tak jarang perubahan pola pikir terjadi seiring perjalanan.
Saya sendiri sebelumnya berprinsip bahwa tak masalah jika tidak mempunyai cita-cita, yang terpenting adalah melakukan apa yang dihadapi hari ini dengan sebaik-baiknya. Jika kita mengusahakan sesuatu sebaik mungkin, suatu saat kita akan mendapat hasil yang baik pula.
Kini saya sadar, hal itu begitu naif. Pengharapan mendapat sesuatu yang baik di masa depan itulah sebenarnya cita-cita saya sendiri. Prinsip itu saya genggam sebagai dalih karena saya tidak memiliki cita-cita konkret seperti kebanyakan orang, dan itu menimbulkan gejala keresahan di waktu-waktu tertentu.
Saat orang-orang mencari cara untuk mencapai cita-citanya, justru saya masih dalam pencarian cita-cita. Suatu paradoks dalam diri saya yang menghambat pencarian itu adalah idealis namun pesimis. Jauh di lubuk hati, saya mengharapkan kehidupan yang menurut saya ideal. Tetapi saya pesimis, takut dan tak yakin hal itu mampu tercapai, sehingga dalam merumuskan keinginan, saya selalu berusaha menekan diri saya untuk jangan terlalu berharap akan terwujudnya keinginan tersebut.
Ketika mencoba kembali melihat ke belakang, saya sadar bahwa cinta, dengan keabstrakannya, dapat menjadi motivasi kuat bagi seseorang untuk melakukan dan mencapai sesuatu. Ha! Klise, tetapi demikianlah adanya.
Mencintai Tuhan menggerakkan seseorang untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan dengan mempelajari ajaran-Nya, mematuhi perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mencintai orang tua menjadikan seorang anak berusaha membahagiakan orang tuanya. Mencintai pasangan mengajak seseorang untuk memperbaiki diri demi memantaskan diri dalam bersanding dengannya. Mencintai anak membuat seorang ibu atau bapak belajar menjaga, membangun, dan merawat manusia, dan seharusnya dimulai dari membangun diri sendiri. Mencintai uang memicu seseorang untuk mengejarnya. Mencintai pekerjaan menghasilkan candu dalam melakukan pekerjaan tersebut bagi orang yang mencintainya. Mencintai ilmu pengetahuan membuat seseorang tak jemu mengkaji dan mengeksplorasi lebih dalam.
Cinta terhadap objek-objek di luar diri, sebenarnya bermuara pada pengembangan diri sendiri. Manusia memang tak pernah lepas dari egonya. Tetapi ke arah mana pengembangan diri itu menuju, itulah yang menjadi persoalannya. Perbedaan peletakan cinta dan kadarnya akan membentuk pemikiran dan menggerakkan perbuatan yang berbeda-beda. Maka letakkanlah cinta dalam tempat yang benar dan kadar yang tepat, supaya tak salah dalam memiliki motivasi, melakukan pengembangan diri, dan merumuskan cita-cita.
Ah, terlalu banyak aku dalam tulisan ini.
Comments
Post a Comment