Posts

Showing posts from August, 2019

2908

Aku masih hidup.

Kabur

Ada sesuatu yang baru. Aku mengetik tanpa bisa betul-betul membaca kata-kata yang kutuliskan. Terkadang mataku mampu mengatur fokus, tetapi pada sebagian besar waktu, aku tidak dapat melihat dengan jelas. Penglihatan ini mengabur tanpa peduli jarak antara mataku dengan tulisanku. Semula aku berpikir bahwa ini adalah efek samping obat, tetapi kemarin dan hari ini penglihatan ini mengabur tak kenal waktu. Maksudku, bukan hanya setelah aku mengonsumsi obat. Silinder? Aku tidak tahu juga. Yang jadi masalah, mataku yang terhambat, mengapa pikiranku ikut terhambat? Seharusnya aku tetap bisa berpikir dengan lancar, terutama memikirkan solusi dari "permainan" menarik yang telah diberikan oleh seorang role model -ku. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika telinga tak bisa mendengar dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika mata tak bisa melihat dengan baik. Dunia bisa menjadi sangat berubah ketika otak tak bisa berpikir dengan baik.

Sebelas (Percakapan)

"Mau minum apa?" Tanya pria itu. "Teh hangat manis," jawab perempuan itu. "Tumben, kamu tidak pesan kopi." "Selama beberapa minggu terakhir, aku selalu minum teh manis hangat setiap hari." "Wauw... kamu akan diabetes." "Tidak juga, ah." "Kemana saja kamu?" "Di sekitar sini saja, kok. Besok aku baru akan pergi." "Ke?" "Ke rutinitas yang biasanya." "Huh, kukira kamu mau pergi lagi." "Tebak! Aku punya ide bagus." "Apa itu?" "Bunuh diri pada hari ulang tahun." "Jangan." "Jangan tidak?" "Jangan lakukan. Kamu tidak akan melakukannya. Aku yakin itu." "Yah, memang kecil sekali sih kemungkinannya." "Tolong bilang peluangnya nol persen." "Tidak mau." "Kamu terlalu pengecut untuk melakukan itu." "Terima kasih atas semangatnya." "Ak...

Mengingat

Malam itu, ia bereksperimen lagi. Hanya satu jenis obat yang ia minum. Ia ingin tahu apakah dirinya sanggup berkegiatan dengan sokongan satu jenis obat, antipsikotik, tidak dengan penawarnya. Ia juga telah menurunkan dosis obat itu menjadi 0,5 mg. Bukan dosis yang dianjurkan oleh dokter, tetapi dokter telah mengizinkannya. Sampai saat ini, belum ada efek samping yang begitu berarti. Malam itu juga, ia keluar rumah dan mengikuti keramaian. Saat ia berjalan melewati sawah, disaksikannya kunang-kunang yang begitu banyak jumlahnya. Kunang-kunang itu mengingatkannya pada masa kecil yang pernah ia lewati. Terakhir kali ia melihat kunang-kunang sebanyak itu adalah ketika ia berjalan-jalan di lapangan golf. Mungkin sekitar 10 tahun yang lalu. Sepuluh tahun yang lalu, usianya masih setengah dari usia dirinya saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ia masih tinggal di kota kecil nun jauh di sana. Ia masih bercita-cita menjadi pribadi yang baik. Ia masih punya cita-cita. Ia tidak takut. Baru seje...

Ruangan Itu

Rini melangkahkan kakinya satu demi satu. Suara langkah kaki Rini memecah keheningan dan menuju sebuah ruangan. Ketika tepat berada di depan pintu ruangan yang ditujunya, Rini terdiam sebentar. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa kembali ke sini? Belum selesai pertanyaannya, batin Rini telah menjawabnya: karena aku rindu. Rini tidak mau menahan lebih lama lagi. Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tak terlihat apa-apa. Debu-debu beterbangan ke luar, menyapu wajah Rini yang terhenyak di depan ruangan. Ruangan itu terasa asing. Rini ragu tentang apa yang ada di dalam ruangan itu. Bukankah dulu ruangan itu ramai? Setidaknya, pernah ada dua-tiga orang di dalamnya. Rini ingat betul bagaimana Warni, Kaku, dan Mirat berbincang satu sama lain. Kini, ruangan itu kosong. Kemana lagi aku harus pergi? Rini memasuki ruangan itu; tangannya menyisir dinding supaya tidak terjebak di dalam kegelapan. Dinding ruangan itu penuh debu, seolah sudah lama tidak di...