Posts

Showing posts from June, 2018

Dendam

Aku bisa merasakan cakaran kuku jemari tanganku di lenganku. Juga goresan gunting dan jarum pentul yang kuambil dari tempat pensilku. Aku bisa melihat kulit yang memerah, tetapi tidak darah. Kemanakah darah merah yang alirannya menggemaskan itu? Mengapa ia tak kunjung keluar? Sementara aku masih takut melukai lebih dalam lantaran khawatir merasa sakit. Aku hanya ingin melihat darah. Darah. Darah. Kemudian merasakan sambil menghirup aroma besinya. Aku bisa merasakan getaran di kepalaku saat aku membenturkannya ke dinding dan ke lantai. Tetapi suara keras itu menghentikanku dari tindakanku. Bum. Bum. Mati. Mari. Mari mati.

Sepenggal Kasih dalam Khayalan

"Aku rindu baumu," bisik perempuan itu kepada lelaki yang sedang menatap gawai di genggamannya. Lelaki itu seketika menoleh kebingungan. "Apa katamu?" Tanya lelaki itu. "Eh, tidak, tidak apa-apa, hehe." Lelaki itu kembali melanjutkan tarian jemarinya di atas layar sentuh gawainya. Perempuan itu mendengus, lalu menyandarkan kepalanya di atas bahu lelakinya, lalu memejamkan matanya. Ia membayangkan sedang pergi jauh untuk kemping dengan mobil, dimana lelaki itu telah menjadi suaminya dan lelakinya itulah yang mengendarai mobil mereka. Selanjutnya, imajinasinya melayang pada kunjungan mereka berdua ke rumah keluarga dengan memakai baju pasangan, dan perempun itu merapikan baju lelakinya sebelum berangkat. Perempuan itu membayangkan akan merengkuh lelakinya yang setelah menjadi suaminya, pulang dari kerja dan beristirahat di rumah. Sungguh, ia mendambakan akan mendampingi lelakinya sebagai pasangan seumur hidupnya suatu saat nanti. Lelakinya hanya m...

Bejatku

Image
Pernah pada suatu ketika, aku menanyakan bagaimana pandangan seorang teman terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. Ia menjawab dengan pandangan pribadinya, kemudian bertanya balik: mengapa aku bertanya demikian. Aku bertanya atas dasar pencarian pembelaan terhadap apa yang kulakukan. Namun, jawaban itu justru kusembunyikan dengan pertanyaan balik: memangnya kenapa? Ia bilang, ia jadi mengkhawatirkanku. Ia berspekulasi macam-macam, khususnya tentang aku yang barangkali telah melangkah keluar dari norma-norma itu. Ia bahkan menduga satu nama yang juga berbuat hal di luar norma tadi bersamaku. Atas jawabannya, kukatakan padanya: "Kalau kaumendugaku baik, maka ia (nama-yang-kauduga) juga orang baik. Kalau kau mendugaku nakal, begitu pula ia. Bagaimana menurutmu?" "Hmmm. Kupikir kau baik... berarti dia juga baik-baik saja?" "Yaaa, kan kubilang terserahmu mau menduga bagaimana." Sesungguhnya aku tidak begitu peduli bagaiman...