Bejatku
Pernah pada suatu ketika, aku menanyakan bagaimana pandangan seorang teman terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku di masyarakat. Ia menjawab dengan pandangan pribadinya, kemudian bertanya balik: mengapa aku bertanya demikian.
Aku bertanya atas dasar pencarian pembelaan terhadap apa yang kulakukan.
Namun, jawaban itu justru kusembunyikan dengan pertanyaan balik: memangnya kenapa?
Ia bilang, ia jadi mengkhawatirkanku. Ia berspekulasi macam-macam, khususnya tentang aku yang barangkali telah melangkah keluar dari norma-norma itu. Ia bahkan menduga satu nama yang juga berbuat hal di luar norma tadi bersamaku.
Atas jawabannya, kukatakan padanya:
"Kalau kaumendugaku baik, maka ia (nama-yang-kauduga) juga orang baik. Kalau kau mendugaku nakal, begitu pula ia. Bagaimana menurutmu?"
"Hmmm. Kupikir kau baik... berarti dia juga baik-baik saja?"
"Yaaa, kan kubilang terserahmu mau menduga bagaimana."
Sesungguhnya aku tidak begitu peduli bagaimana asumsinya terhadapku. Ya, pada dasarnya aku memang sudah kurang peduli atas diriku. Kupikir setiap manusia punya sisi bejat yang tak ingin ditampakkan. Aku bersama kebejatanku, mengikutinya dengan kebejatannya. Kami telah menghancurkan diri ini dan pasrah atasnya. Karena kehancuran adalah kenikmatan yang mungkin saja akan disesali kemudian. Sejauh ini aku tidak menyesal, dan skenario masa depan yang kubayangkan juga merasa tidak. Tetapi penyesalan selalu datang belakangan, bukan?
Sleman, 2018
Yang rindu obrolan di kantin malam bersama dia yang datang dengan mengendarai sepeda sambil membawa buku cerita.

Comments
Post a Comment