Posts

Showing posts from June, 2019

Satu Hari di Bulan Juni

Aku tahu konsekuensinya, dari awal. Aku tahu peluangnya, dan kita berusaha bersama-sama menaikkan peluang itu. Waktu pun berjalan dan banyak hal yang terjadi. Hari ini, kita sama-sama saling mengatakan bahwa peluang itu sudah berubah, dari yang tadinya cukup tinggi, menjadi hampir nol. Bukannya aku tidak sadar. Aku tahu hari ini akan datang. Aku sudah menghitungnya sejak beberapa waktu yang lalu, tapi aku tidak sanggup mengatakannya. Logika matematisku sudah berjalan, namun aku tetap ingin bertaruh pada peluang yang kecil itu. Aku tetap ingin berharap ada keajaiban terjadi untuk kemungkinan yang hampir mustahil itu. Meski pikiranku selalu berkata bahwa cinta yang sejati adalah mengusahakan untuk memberikan yang terbaik, bukan memaksakan untuk sesuatu yang tidak semestinya. Inilah aku yang lemah dan egois; menginginkanmu untuk tetap hanya denganku. Eksklusifitas yang kta bangun memang telah membuatku nyaman. Aku jatuh cinta tanpa mitigasi. Sejujurnya, saat genggaman tanganmu tera...

Karya Seorang Fisikawan

Saya baru mengenal nama Daniel Rozin dari sebuah video yang menceritakan tentang karya-karyanya, khususnya  mechanical mirror . Ia membuat karya seni berbasis sistem kontrol. Sepemahaman saya, sistem yang ia buat terdiri dari sensor citra/visual, mikrokontroler (sepertinya ia menggunakan Arduino), dan aktuator berupa motor servo yang dihubungkan ke alat tertentu. Motor servo disusun secara teratur dan akan menghasilkan pola tertentu ketika digerakkan. Menurut saya pribadi, karya dia keren! Sangat keren, bahkan. Melihat karyanya membuat saya membatin: saya bisa melakukannya tetapi saya tidak bisa melakukannya . Maksudnya, saya bisa membayangkan komponen apa saja yang saya butuhkan untuk membuat karya tersebut dan membuat algoritma di dalam sistem maupun metodologi membangun sistem. Akan tetapi, saya tidak bisa melakukannya karena saya yakin, Rozin telah melakukan apa yang ia lakukan berkali-kali. Ia tentu telah berulang kali membuat rancangan alat, membangun kode sumber yang bi...

Sepuluh Menit Berlalu

Delapan menit menuju tepat pukul 2 pagi. Kemanakah hidup akan membawaku? Tidak tahu. Suara jangkrik terdengar cukup nyaring malam ini. Aku terbaring di kamar gelap. Beberapa jam yang lalu, aku mendengar berkali-kali namaku dipanggil. Oleh dia, juga oleh dia. Akan tetapi, 3 hari yang lalu, ketika aku mendengar panggilan itu--yang lama-kelamaan menjadi teriakan yang mengganggu dan menyakitkan, aku bertanya apakah ia memanggilku atau tidak. Tidak, katanya. Setidaknya aku tahu bahwa yang kudengar tidak benar. Lima menit menuju tepat pukul 2 pagi. Maka, ketika tadi mendengar suara itu, aku akan diam sampai mereka betul-betul mengetuk pintu kamarku atau meneleponku. Atau, suara itu terdengar lebih jelas. Sebab suara itu terdengar sayup-sayup, seperti dari lantai bawah tetapi pelan. Empat menit menuju tepat pukul 2 pagi. Diam-diam aku menikmati kegilaan ini. Aku merindukan kegelisahan itu. Karena ketumpulan telah menjadi aku, sepertinya. Tiga menit menuju tepat pukul 2 pagi. Na...

Sebuah Kebohongan tentang Hal yang Disemogakan

Aku berbohong ketika bilang semoga sehat selalu . Tidak akan ada manusia yang betul-betul selalu sehat sepanjang hidupnya. Manusia adalah zat, materi, benda, objek, yang akan mengalami degradasi. Manusia tidak stabil dan akan menuju kestabilan. Decay into equilibrium . Sakit adalah salah satu bagian dari proses penurunan itu. Aku berbohong ketika bilang semoga panjang umur . Tidak akan ada manusia yang ingin hidup abadi. Manusia butuh kematian. Aku rindu kematian. Sejujurnya, aku ingin bilang semoga aku mati lebih dulu dari kamu . Tak lain karena aku takut ditinggalkan olehmu untuk selamanya. Aku ingin menikmati waktu bersamamu dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah mati. Setidaknya, kalau masih hidup, kita bisa bersama-sama. Sakit dan kematian adalah sesuatu yang pasti. Kita sulit menerima kenyataan itu karena hidup sehat adalah keinginan alami tubuh ini sebagai objek biologis. Secara instingtif, kita akan tergerak untuk mempertahankan hidup. To survive our species .

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Dalam pertemuan terakhir kelas favorit saya semester ini, sang dosen mengawali kelas dengan membagikan paper seputar mikroskop fluoresensi beresolusi super . Paper tersebut merupakan paper pertama yang ditulis oleh Stefan W. Hell ketika mulai mengajukan ide untuk membuat mikroskop yang dapat melewati batas resolusi Abbe. Jika penasaran, silakan telusuri  paper berjudul "Breaking the diffraction resolution limit by stimulated emission: stimulated-emission-depletion fluorescence microscopy" yang ditulis oleh Stefan W. Hell dan Jan Wichmann, Optics Letters Vol. 19 No. 11 tahun 1994 ( link ). Dalam paper tersebut, Hell menuliskan persamaan diferensial yang menceritakan tentang perubahan nilai populasi elektron yang berada pada tingkat energi tertentu. Oke, jangan merasa tertekan jika tidak mengerti satu frasa sebelum ini (padahal saya sendiri langsung mandeg  saat membaca paper tersebut). Saya akan mencoba menceritakan apa yang saya pahami dari kisah di balik persamaan tersebu...