Posts

Showing posts with the label Puisi

Tidak Ada Judul

Sebutir serpih tenggelamkan duniaku Gelap, seakan ku berpindah ke dunia lain Pejam mataku sadarkan betapa cahaya memanjakanku Lupa, bahwa gelap adalah terang bagi sebagian mereka Aku tentu ingat Bahwa duniaku pernah terlukis di atas buku saku Warna dan kata merefleksikan diriku yang utuh Mengapa suara itu kuizinkan merasuki jiwaku? Nyatanya, kesendirian adalah damai yang perlu aku rengkuh

Mekar Berduri

Yang kaulihat hanya mekar bunganya Yang tak kau tahu ialah tajam akarnya Serta bebatuan yang ia tembus.      Pernahkah kamu bertanya;      Apakah mawar mengharapkan dirinya berduri? Landak tidak bermimpi menjadi tajam Ia hanya hidup dengannya Demikian halnya manusia      Mampukah kamu memahaminya? Tiap kita memiliki luka Namun yang kaulihat hanya mekar wajahnya

Lantun

Sebagaimana jiwaku yang telah hancur Disatukan kembali oleh Cahaya yang tak terlihat Aku ingin membangun lagi sekat-sekat yang telah runtuh Setiap manusia punya kesempatan untuk kembali Hidup Hati manusia itu lemah ... Tumbuh adalah naik dan turun Mekar dan meranggas Tertawa dan menangis Melepas dan menerima Pulang Adalah perjalanan singkat Seperti mimpi di sore hari

I Was 12

I was 12 when I saw an empty gaze From a woman in my room I was 12 when I saw a last note Written on the back of my school book I was 12 when I saw an endless crying In the middle of the day when no one's at home I was 12 When I went out to play Looking for someone to say goodbye I searched her everywhere and ended up seeing her in the kitchen She hid something I went out and locked the door  I was 12 When I immediately returned home before playing I searched my key and opened the door I saw a knife on her hand  I was 12 when I held a hand that held a knife I did not know what happened but I said "don't do it" My powerless self hugged her and keep the knife away from us Suddenly tears fell down our faces And the conversation faded in my memory The knife fell down and a promise came out from her lips: "I won't do it."  I was 12 when I lied to my friends They asked me why was I late "I had to go to the toilet."  My 12 self imagined a horrible eve...

Afirmasi Berani Sendiri

/1/ Afirmasi Aku akan mampu Melewati ini Sendiri Aku akan kuat Menghadapi ini Sendiri Aku akan cukup Pasti bisa cukup Untuk diriku Sendiri ... =============== /2/ Berani Tubuh terintegrasi Kuat melangkah Menjelajahi jagat gede Menyelami jagat cilik Aku adalah sebutir nasi dalam tumpeng Sadar bernapas Selalu waspada Menerima masa depan Menerima masa lalu Aku adalah sekarang yang tak pernah ada =============== /3/ Sendiri ... Karena aku akan menyertai Diriku sendiri Sampai mati

Satelit dan Antena

Kamu adalah satelit dan aku antena Kamu telah dan akan terus mengorbit dunia Menghimpun setiap ilmu setiap hari Membagi kepadaku yang memandangmu dari permukaan bumi Kamu adalah satelit dan aku antena Dengan amat terkontrol, kau jalankan fungsimu Beri manfaat buat mereka yang tak kemana-mana Termasuk aku, yang dalam diam mengikuti jejakmu Kamu adalah satelit dan aku antena Kita dicipta bersama meski terpisah jarak Dan aku percaya bahwa cinta ini selamanya Sebelum sadar pergeseran orbit adalah mutlak (Rancabungur, 2019)

Hitam

Apakah aku yang terlalu penuh harap Ketika aku memintamu ada di sini Atau aku yang ingin ada di dekatmu?

Tuan

Segala yang candu itu tak baik, Katamu Aku tahu itu Tapi kamu memang sudah menjadi canduku Kupikir hanya aku kepadamu yang jatuh sedemikian dalam Tidak dirimu      yang berusaha menarikku bangkit Tidak dirimu      yang terus melangkah maju dengan tegas Tidak dirimu      yang berdiri tegap di depanku Lagi-lagi, obsesi pada kesempurnaan Menggerogotiku dari dalam

Lewat Tengah Malam

Apakah aku panik karena sesuatu yang tiba-tiba muncul di belakang kepalaku? Kalimat yang sama keluar lagi dari mulut yang berbeda dalam hari, bahkan tahun yang berbeda Dèjá Vu untuk kedua kali Kemanakah aku akan bermuara? Aku ingin kamu segera ada di sini Kembali Meski hanya berlabuh Karena kita takkan tahu Puisi pengantar tidurku Kudengar tanpa kulantunkan Skenario ini sungguh tidak aku pahami.

Negosiasi dalam Dualisme

Karena tidak ada dualisme; Semua adalah padu Satu wujud Satu entitas Adalah aku yang lenyapnya Tersimpan di dalam senyap Lahir sebagai racauan Yang menggema di dalam kepala Kata-kata yang tertulis pun Kabur maknanya Hilang entah ke mana Aku dan kamu adalah satu Bukan dua apalagi tiga Kita punya kepentingan terhadap Tubuh kita sendiri

Satu Malam di Bulanmu

Kamu di dekatku, kita hendak keluar Berjalan bersama-sama Aku menggenggam tanganmu Memastikan tidak ada yang menghalangi kita Tapi tidak sayang, di sana kita kan dihadang Lalu aku bercerita kepadamu melalui telepon Sebagaimana malam-malam sepi di sini Kau tertawa, tulus mendengarku Dan aku melekat padamu Jatuh hati tanpa mitigasi Semakin kusadari terutama setelah terdengar suara lain Suara yang kuketahui adalah cinta terakhir dan buah hatimu Bagaimana bisa mimpi membawakan perasaan yang kian nyata Menolak untuk mereda, Memohon untuk dikecap Apakah mimpi adalah tuangan pemikiran dan kekhawatiran Apakah mimpi adalah peringatan Apakah mimpi adalah teguran Apakah justru pertanda akan sebaliknya Mana mungkin kita tahu Yang kuyakini, kini perasaan ini nyata Mewujud jadi sesak. Lalu pada kata seorang guru, kuteringat: Apakah kita berjuang untuk bisa tetap bersama setiap hari? Satu hari lagi, satu hari lagi-- Betapa beratnya setiap hari! Saya justru memilih bersam...

-Ku

Baju ini bukan bajuku, Ini pakaian yang diberikan oleh orang lain lalu kukenakan di badan ini. Uang ini bukan uangku, Ini lembaran kertas berharga yang saat ini kusimpan di dalam dompet dan kartu. Rumah ini bukan rumahku, Ini bangunan yang saat ini menjadi tempat untukku pulang. Tangan ini bukan tanganku. Bukan pula aku. Ini jasad yang melekat padaku, dan kebetulan dapat kugerakkan. Dia bukan guruku, Dia orang lain yang mengajariku. Dia bukan temanku, Dia orang lain yang mau bersama diriku. Dia bukan pacarku, Dia orang lain yang mau bersepakat denganku untuk sesuatu. Mereka bukan orang tuaku, Mereka orang yang melahirkan dan membesarkanku. Perasaanku? Itu perasaan yang timbul di dalam pikiranku. Pikiranku? Kerja sel-sel otakku yang saling mengirimkan data. Otakku? Benda fisik yang tidak dapat berdiri sendiri tanpa organ-orang vital lainnya yang secara bersama-sama akan membentuk sistem organisme yang memiliki kesadaran. Aku. T...

Merindukan Kematian

Setitik debu telah menjalar seperti sel kanker Menutup mata, menghentikan langkah Ruang dan waktu telah terdistorsi Racauan kian beresonansi Tidakkah ada yang lebih hampa Dari telinga yang dipenuhi dengan noise Alasan semakin sirna Tinggal dinding terakhir bernama sakit Ketika runtuh, utuh sudah

Soal Makan

Publikasi berarti memberi makan publik Kalau tak mau dikomentari, maka jangan berbicara apapun! Kita menuai apa yang kita tanam sendiri Baik busuknya, enak tidaknya Tapi seringkali, kita hanya mau makan apa yang kita mau Rancabungur 2019

Sontak Berontak

Semesta masih baik sama saya Tidak dia terima ide saya tentang skenario-skenario terburuk yang mungkin terjadi Tapi saya masih tetap belum bisa terima Soal skenario yang mengawali ini semua Kenapa? Terima kasih dan bedebah kau. Lalu soal malaikat yang satunya lagi Soal dia Dia mencarinya yang hitam dan putih Dia tahu Aku ingin cerita Tapi tidak layak Ah. Tidak semudah yang diucap Culik aku Jauh dari sini Dari dunia penuh dusta Yang paling menyakitkan se-RT (...) Akan mengerti bahwa ini tentang (...) Sanggupkah dirimu? Lalu kebebasan terenggut dari kata ruang Sejak mata berpasang-pasangan untuk mengawasi bersama "Mau lari ke mana?" Bukankah bebas adalah fana Bukankah bahagia adalah sesaat Bukankah damai adalah sejenak Bukankah ideal adalah khayali Bukan(kah) kau enigma yang abadi 24/12

Perjalanan Pulang

Mungkin aku seharusnya Tidak usah pulang saja Kalau hanya untuk menambah luka Mungkin aku seharusnya Tidak usah pulang saja Kalau hanya untuk menghabiskan air mata Pulangku adalah menuju ruang hampa Sepi yang mengusik, meminta nama Untuk dijadikan korban Dapatkah berubah? Jika Rumah yang kurindukan adalah sepasang bola mata dan seutas senyuman Rumah yang takkan mampu kubangun sendiri Rumah yang telah kurancang, kubangun, kuhancurkan, kubuat kembali Rumah yang memakan hari dan hati Rumah yang pada akhirnya akan mengalami perpindahan atau renovasi Kemanakah aku melangkah pulang? Masih adakah Rumah yang siap memelukku? Atau mungkin aku Merindukan Rumah yang kekal Karena di sana ada Dia yang menunggu Aku juga diam-diam menunggu Tapi yang manapun juga Semuanya telah tertutupi debu dan sarang laba-laba Usang ditempa waktu Tolong bantu aku pulang ke Rumah-Nya yang abadi Aku telah mengetuk Namun Dia masih tutup pintu

Lemah

Tuhan Kupanggil namaMu dalam derai Air mata yang bergulir Aku harus yakin atas segala pilihanku Tetapi aku lemah Tuhan, aku harus bagaimana? Melukai orang-orang di sekitarku Dengan menunjukkan kelemahanku? Tuhan, hanya Engkau yang takkan terluka Bila kutunjukkan kelemahanku Kebingunganku Ketidakyakinanku Tuhan, Engkaulah energi Yang mampu berkehendak menguatkanku Tuhan, kemana lagi aku harus mengadu? Hanya Engkau Tuhan Kupikir diri ini tak layak menghadapMu Tapi ini wujud kelemahanku Ketidaksempurnaanku Kemanusiaanku yang berbeda denganMu Segala teori itu takkan mampu Menjadikanku manusia sempurna Karena aku lemah, Tuhan Sekuat apapun aku berupaya Engkaulah penentu Dengan kelemahanku inilah Aku menghadapMu Jika boleh kuberdoa, kuatkanlah aku Kuatkanlah dirinya Izinkan kami memahami petunjukMu Pada waktunya nanti Saat Engkau menghendaki Yakinkanlah aku Keputusanku ini, atas izinMu Aku berharap tidak men...

Panggilan Tak Terjawab

Image
Tuhan Aku ini lemah Kau ingin aku bagaimana? Tuhan Aku ini rapuh Kau ingin aku meyakini apa? Tuhan Aku mencariMu Di sela tempias sinar senja merah jambu Aku memanggilMu Di antara derai air mata yang membiru Dalam gelap aku bertanya Kepada siapa harus percaya Tentang harus apa aku di dunia (Sleman, 2018)

Rindu-Warna-Hitam

Tersandung anganku Pada kenangan yang bangkit Berkobar-kobar di benakku Jejakkan pahit Tentang Tuan Rindu dan kacamatanya Senyumnya yang tipis Bicaranya yang jumawa Jemarinya yang menebal dihantam batu tebing Kecintaannya pada panda, alam, dan kata Emosinya yang meledak saat ada yang tak sesuai Langkahnya yang lebar Peluh dan gengsinya Wawasannya soal langit dan buku Kesabarannya mendengar kisahku Kenangan yang tersisa Di jalanan Yogyakarta tengah malam Malioboro pukul tiga pagi Matahari terbit di jalan menuju pantai Minuman hangat di Bukit Bintang Gugusan bintang dan awan pecah di bukit Paralayang Sidik jari di pengaman logam Jejak magnesium di setiap poin Siung, Samigaluh, Parangndog, atau sekadar boulder Kampus sastra dan kantinnya Salad buah dan tahu tek Burjo di depan indekos Nasi goreng di minimarket jalan Monjali Teater dan puisi Gelanggang mahasiswa dan buku novel Bahkan di rumahku sendiri Timbul dan tenggelam ...

Belati

Belati yang kutancapkan ke dadamu Bergagang pedang Turut mengiris jemariku Yang menggenggamnya Mungkin tak layak meminta maaf Aku bisa memahami sakitmu Sungguh aku tahu tajamnya belati itu Tetapi ini beban yang mesti kupikul Karena telah biarkan yang lain masuk ke diriku Aku hanya ingin kautahu Bahwa tak sedikitpun niatku Untuk tertawa di atas pilumu Aku bisa memahami sakitmu Sungguh aku tahu tajamnya belati itu Sungguh aku tahu tajamnya Sungguh aku paham lukanya (Sleman, 2018)