Rindu-Warna-Hitam
Tersandung anganku
Pada kenangan yang bangkit
Berkobar-kobar di benakku
Jejakkan pahit
Tentang Tuan Rindu dan kacamatanya
Senyumnya yang tipis
Bicaranya yang jumawa
Jemarinya yang menebal dihantam batu tebing
Kecintaannya pada panda, alam, dan kata
Emosinya yang meledak saat ada yang tak sesuai
Langkahnya yang lebar
Peluh dan gengsinya
Wawasannya soal langit dan buku
Kesabarannya mendengar kisahku
Kenangan yang tersisa
Di jalanan Yogyakarta tengah malam
Malioboro pukul tiga pagi
Matahari terbit di jalan menuju pantai
Minuman hangat di Bukit Bintang
Gugusan bintang dan awan pecah di bukit Paralayang
Sidik jari di pengaman logam
Jejak magnesium di setiap poin
Siung, Samigaluh, Parangndog, atau sekadar boulder
Kampus sastra dan kantinnya
Salad buah dan tahu tek
Burjo di depan indekos
Nasi goreng di minimarket jalan Monjali
Teater dan puisi
Gelanggang mahasiswa dan buku novel
Bahkan di rumahku sendiri
Timbul dan tenggelam
Lalu ingatanku mundur
Kepada Tuan Warna
Rambutnya yang keriting
Diamnya yang misterius
Ketertarikannya pada teknologi
Komputer dan otomotif
Kecintaannya pada Tuhan dan keluarga
Kemampuan drum yang belum pernah ia tunjukkan selama kukenal
Hasil fotonya yang berbicara
Tulisannya yang rapat dan miring ke kanan
Apel dan boneka jahitan tangannya
Ketenangannya mendengar ceritaku
Kesabarannya mengajariku
Kejujuran dan ketangguhannya dalam belajar
Pembicaraan kami yang teramat minim
Doa dan harapan yang kusematkan
Lemparan bantalnya kepadaku di atas pick up
Insomnia yang dihadapinya
Pikirannya yang tak dimengerti semua orang
Ketidaksukaannya pada kerumunan orang
Prioritasnya yang dewasa menurutku
Kemampuannya dalam meretas
Caranya memantauku
Ruang makan yang lengang ketika malam
Soto ayam dan bendera untuk seragam
Kegemarannya memasak
Latihan motor di dekat GOR
Memesan bingkai di kota
Tiba-tiba memanggil untuk bertemu tapi tanpa bicara apapun
Konstelasi bintang-bintang di atas asrama
Jalan pulang dari sekolah
Cinta di masa putih abu-abu
Pikiranku merambat semakin jauh
Kepada Kapten
Kepada Buaya Muara
Kepada memori masa kecil
Jalanan patah menuju sekolah
Bus dan sahabat-sahabat lama
Kunang-kunang di hutan malam
Anjing liar dan ayam hutan
Burung enggang dan Taman Nasional Kutai
Pantai buatan dan ban raksasa
Tambang batu bara
Cerita tentang kecelakaan
Cerita tentang klien dan psikotes
Cerita tentang piano dan karate
Les bahasa Indonesia dan berenang
Bermain komputer dan misi rahasia
Kematian tetanggaku
Kematian nenekku
Kematian kakek dan nenekku
Kelahiran sepupuku
Boneka-boneka teman semasa bayi
Kelahiranku.
Kemudian melayang jauh
Kembali ke waktu dimana seharusnya ia berada
Ada dirimu, Tuan Hitam
Yang terus menemani di sisiku saat ini
Yang mencoba menjawabku satu demi satu
Yang membuatku tersenyum
Yang bersabar atas kegilaanku
Yang gemar menatapku dengan ekspresi khasmu
Tawamu. Pemikiranmu. Ketegasanmu. Permainan musikmu. Keyakinanmu. Kecintaanmu pada keluarga.
Usahamu menjalani kehidupan yang bukan milikmu.
Aku belum mengenalmu lebih jauh
Dan sebetulnya aku kurang yakin
Tetapi atas kebingunganku ini, sampai kapankah bila menunggu?
Aku harus memutuskan sesuatu
Kalian yang menyerahkan kepadaku
Semesta yang menggerakkanku
Genggam erat tanganku
Rengkuh aku
Maafkan atas diriku yang mencintai masa lalu
Aku ingin mensyukuri hari ini denganmu
Meski aku tidak tahu bagaimana esok kan datang
Tidak ada yang tahu juga
Bimbing aku dalam menemukan jalanku
Kan kutemani dirimu dengan kasih sayang yang kumiliki saat ini
Hati ini milikmu sekarang
Aku tahu aku tidak boleh menyesal
Secinta apapun aku dengan masa lalu
Aku ingin mencintaimu saat ini
Meski lidahku kelu mengucapkannya
Meski hatiku sakit memikirkannya
Ada keyakinan tak terjelaskan di kepalaku
Untuk melangkah bersamamu
Hari ini
(Sleman, 2018)
Comments
Post a Comment