Posts

Showing posts from August, 2018

Dèjá Vu

Apa yang terjadi, kini terulang lagi. Kronologi yang sama. Orang yang berbeda. Waktu yang berbeda. Katanya, kalau diriku sampai terkena kejadian yang sama dua kali, tandanya ini bukan karena sesiapa melainkan diriku sendiri. Aku harus tahu kenapa. Aku harus tahu, mesti bagaimana. Jangan-jangan tahun depan, dua tahun lagi, bahkan sepuluh tahun lagi, aku akan menghadapi kenyataan yang serupa. Apa yang aku cari? Kehidupan apa yang sebenarnya aku inginkan? Orang seperti apa yang sebetulnya aku harapkan? Apakah sebetulnya aku dapat mengenali diriku sendiri seutuhnya? Oke, berhenti bertanya, saatnya menjawab. Mari berdiskusi dengan diri sendiri.

Akut

Dalam gelap malam aku berlari Untuk bertanya mengapa aku berlari Apakah aku kabur dari enigma yang membayang? Apakah aku mengejar jawaban teka-teki yang mengawang? Napasku berderam Tapi suaranya tenggelam Oleh serangga malam Langkahku meragu Saat belukar memanggilku Untuk masuk ke dalam gelap semu Lampu-lampu jalan berpendar Bayang-bayang hitam memudar Aku ingin mati dalam pelukan pepohonan Kepada siang aku takut Kembali pada kegelisahan akut

Kamu Adalah

Kamu adalah biru yang tersisa Dari hitam putih mimpiku semalam Kamu adalah kilau yang tersisa Dari merah karat yang mengandam Kamu adalah segar hijau yang tertinggal Dari kering ilalang yang berjejal Dan kamu adalah khayal, Yang kuharap tetapi gagal (Sleman, 2018)

Maaf Cintaku, Kata Iwan Fals

Sekitar empat tahun yang lalu, tepatnya ketika saya masih mendekam di asrama dan tengah berstatus pelajar kelas dua SMA, guru Bahasa Indonesia saya memperdengarkan suatu lagu dan kami disuruh menuliskan interpretasi kami terhadap lagu tersebut. Lagu itu berjudul "Maaf Cintaku", karya Iwan Fals pada tahun 1988. Tahun ketika ibu saya mulai berkuliah. Pada saat itu, saya sama sekali tidak menangkap maksudnya. Dengan lirik "tidak lazim" seperti itu, saya yang masih lebih bocah dari saat ini berpikir: lagu macam apa ini? Lelaki macam apa yang menyanyikan lagu ini untuk pacarnya? Empat tahun setelahnya, baru saya mulai merasakan bahwa lagu ini... romantis. Tidak lazim memang, karena menurut saya, lagu ini hanya akan dinyanyikan oleh pasangan yang telah sampai pada keadaan tertentu. Keadaan macam apa yang saya maksud? Begini, pertama-tama saya ingin menuliskan potongan-potongan lirik lagu tersebut dan apa yang saya tangkap darinya. Sebagai catatan, tulisan ini murni...

Tentang Aku atau Non-Aku

"Bagaimana, apakah kamu masih terjebak pada pertanyaan seputar eksistensi?" Demikian tanyanya setelah lama kami tak berbincang. Sore itu, entah mengapa aku mengikuti mereka untuk pergi makan bersama. Kami berempat duduk di bangku yang berada di atas keramik, tepat di tengah-tengah taman kuliner rumah sakit yang tak jauh dari kampus kami. Ia-yang-tadi-bertanya (mari menyebutnya Riri), duduk di depanku sambil memainkan peralatannya yang tak bisa kupahami. Pertanyaannya sedikit menyentakku. Bisa kubilang, Riri salah satu orang yang mengubah hidupku akibat pertanyaan-pertanyaannya di waktu lampau. Ketidakmampuanku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya, cukup membuatku frustasi dan tibalah akhirnya aku pada kondisi ini. Melalui tulisan ini, aku bukan ingin menceritakan tentang Riri dan pemikirannya yang seringkali dianggap sesat, atau gorengan angkringan sore itu yang rasanya biasa saja, bukan pula tentang siapa dua orang selain Riri yang ikut makan bersamaku. *** K...