Tentang Aku atau Non-Aku
"Bagaimana, apakah kamu masih terjebak pada pertanyaan seputar eksistensi?" Demikian tanyanya setelah lama kami tak berbincang.
Sore itu, entah mengapa aku mengikuti mereka untuk pergi makan bersama. Kami berempat duduk di bangku yang berada di atas keramik, tepat di tengah-tengah taman kuliner rumah sakit yang tak jauh dari kampus kami. Ia-yang-tadi-bertanya (mari menyebutnya Riri), duduk di depanku sambil memainkan peralatannya yang tak bisa kupahami. Pertanyaannya sedikit menyentakku. Bisa kubilang, Riri salah satu orang yang mengubah hidupku akibat pertanyaan-pertanyaannya di waktu lampau. Ketidakmampuanku dalam menjawab pertanyaan-pertanyaannya, cukup membuatku frustasi dan tibalah akhirnya aku pada kondisi ini.
Melalui tulisan ini, aku bukan ingin menceritakan tentang Riri dan pemikirannya yang seringkali dianggap sesat, atau gorengan angkringan sore itu yang rasanya biasa saja, bukan pula tentang siapa dua orang selain Riri yang ikut makan bersamaku.
***
Kurasa, selama ini aku terlalu terpusat pada diriku sendiri. Selalu soal aku, aku, dan aku! Kadangkala aku berpikir, bagaimana jika aku memfokuskan pandanganku ke dunia ini saja? Ke luar diriku, seolah menyingkirkan sosok aku dari dunia ini.
Bagaimana?
Masih banyak fenomena-fenomena yang belum terjawab di luar diriku. Mungkinkah dengan mencoba menelusuri jawaban atas pertanyaan seputar alam semesta dan isinya, aku juga bisa menemukan jawaban atas pertanyaan seputar diriku?
Ah, pada akhirnya pemikiran ini bermuara ke diriku lagi.
Comments
Post a Comment