Posts

Showing posts from April, 2017

Sisa Kafein Semalam

Dua malam ini, telah saya lewati dengan mata terjaga sebelum fajar menyingsing. Ketika ayam mulai berkokok--sayup-sayup, tubuh ini menolak untuk tidur dan bercengkrama dengan hal-hal yang saya senangi. Di malam kedua, saya menggunakan kafein sebagai dopping agar kantuk tak perlu mengusik kesenangan saya. Saya pikir, saya sudah gila, haha. Kerusakan memang tak selalu tampak. Segala puji bagi-Nya yang mampu melindungi aib-aib saya. Saat ini, saya masih menikmati kesenangan saya. Alunan dawai gitar dari gawai di tengah suara rintik hujan sore hari. Pembacaan puisi dan musikalisasi larik-larik sajak. Ah, jauh sekali dari dunia yang saya tekuni saat ini. Begitu banyak keinginan dari dalam diri ini. Saya pernah merasa berpikir bisa menjadi manusia super, tetapi apa yang saya lakukan justru menjadikan saya manusia yang setengah-setengah. Setengah hidup-setengah mati. Setengah waras-setengah gila. Perkara macam apa ini. Saya (merasa) tidak bisa menjadi satu. Pun, menjadi nol. Saya ...

Takut

Hai. Namaku Warni. Dan aku takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut. Takut Dunia semakin gila. Takut. Duniaku semakin gila. Takut. Takut. Takut. Kaku datang. Takut. Lubang menelan. Takut. Takut. Langkah kaki mendekat. Takut. Tak. Tak. Tak. Takut. Tak takut. Kuharap ku tak takut. Nyatanya aku takut. Walau aku tak nyata. Tetap. Takut. Takut. Takut. Pergi. Takut. Tahu apa kau tentang kebebasan. Takut. Takut. Tahu apa kau tentang terpenjara. Takut. Tahu apa kau tentang kegamangan. Takut. Getir. Takut. Tidak mati-mati. Takut. Akan mati. Takut. Meninggalkan jejak. Takut. Menghadap-Nya. Takut. Menangisi mereka. Takut. Kehilangan. Takut. Mereka siapa. Takut. Mereka apa. Mengapa? Takut. Hapus. Habis. Takut. Mengapa jadi begini. Takut. Takut. Kapan berakhir. Takut. Detak jantungku Takut Takut Takut. Kaku datang kaku pergi Kaku beri takut-takut Kaku takut-takuti aku Kaki kaku tak-tak melangkah aku. Takut. Takut. Takut....

Aku, Kopimu, dan Secangkir Laut yang Kauceritakan

Malam itu, aku duduk di salah satu bangku dari sebuah warung makan kecil di depan indekos. Layaknya anak muda zaman sekarang, akulah kaum milenial yang asyik dengan diriku sendiri--mengutak-atik media sosial di ponsel pintarku. "Kopi itemnya satu, mas!" Datanglah seseorang yang kemudian memesan secangkir kopi dan duduk tepat di sebelahku. Seorang perempuan berambut sebahu, mengenakan kaos oblong berwarna hijau dan sepasang sandal jepit berwarna hitam. Secangkir kopi hangat pun disajikan, perempuan itu menghirup uap kopi yang beraroma khas. Jujur, aku tak suka kopi. Entah kenapa teh jauh lebih nikmat bagiku, kopi membuatku merasa mual meski orang-orang berkata bahwa cairan yang mengandung kafein itu mampu menjadi sarana menggapai inspirasi. "Kamu suka berenang?" Tanya perempuan itu tiba-tiba, kepadaku. "Hah?" "Itu, ada tanda belang di samping matamu. Seperti bekas kacamata renang," lanjutnya. "Ooh, ini. Bukan, kok. Aku bisa berenan...

Dilema

Kalau bisa, aku mau menghilang saja dululah. Dunia ini begitu menarik, terlalu menarik bahkan. Aku pusing mesti memilih yang mana, waktuku hanya 24 jam sehari. Sekian.