Aku, Kopimu, dan Secangkir Laut yang Kauceritakan
Malam itu, aku duduk di salah satu bangku dari sebuah warung makan kecil di depan indekos. Layaknya anak muda zaman sekarang, akulah kaum milenial yang asyik dengan diriku sendiri--mengutak-atik media sosial di ponsel pintarku.
"Kopi itemnya satu, mas!"
Datanglah seseorang yang kemudian memesan secangkir kopi dan duduk tepat di sebelahku. Seorang perempuan berambut sebahu, mengenakan kaos oblong berwarna hijau dan sepasang sandal jepit berwarna hitam.
Secangkir kopi hangat pun disajikan, perempuan itu menghirup uap kopi yang beraroma khas. Jujur, aku tak suka kopi. Entah kenapa teh jauh lebih nikmat bagiku, kopi membuatku merasa mual meski orang-orang berkata bahwa cairan yang mengandung kafein itu mampu menjadi sarana menggapai inspirasi.
"Kamu suka berenang?" Tanya perempuan itu tiba-tiba, kepadaku.
"Hah?"
"Itu, ada tanda belang di samping matamu. Seperti bekas kacamata renang," lanjutnya.
"Ooh, ini. Bukan, kok. Aku bisa berenang, tapi jarang. Ini bekas kacamata biasa," jawabku.
"Hmmm." Perempuan itu menenggak kopi di hadapannya. Aku kembali memeriksa ponselku. "Aku suka air," ia kembali melanjutkan ucapannya.
Sementara aku terdiam, tidak tahu mesti merenspons apa.
"Aku suka air, aku suka saat melihat-lihat terumbu karang di antara birunya laut. Setiap hari aku ke laut. Setiap hari aku bermain dengan ikan-ikan lucu, kerang, dan bintang laut. Kami bermain petak umpet di balik rumput-rumput laut.
"Aku suka laut, aku suka air. Biru itu cantik; ia meneduhkan, memikat, dan menarik. Kemarin aku juga main lagi ke laut. Rasanya, hidupku tidak bisa lepas dari laut."
Ngomong apa, sih, cewek ini? Batinku. Tetapi atas alasan ketidaktegaan, aku tetap mendengarkannya.
"Tetapi, beberapa hari ini aku tidak ke laut."
Perempuan itu diam, menatap kopinya dalam-dalam. Matanya berlinang, bola matanya segelap kopi hitam yang menuju habis.
Hitam dan berkilau, pantulkan cahaya lampu remang-remang di warung itu.
"Semakin aku menyusuri terumbu karang, semakin dalam aku bermain, semakin kelam birunya laut. Seperti kopi ini. Gelap.
"Cantiknya mulai berkurang, aku mulai melihat bangkai hewan-hewan aneh di lautan. Pemandangan itu berbeda dengan ketika aku masih dekat dengan permukaan, yakni saat cahaya matahari masih menembus.
"Aku takut."
"Ya sudah, tidak usah menyelam dalam-dalam, kalau begitu."
"Tidak bisa. Cintaku sudah tumpah sampai ke dasar laut. Aku masih bisa berpikir waras saat lama tak pergi ke laut. Tetapi ketika melewati pantai, diri ini spontan menceburkan tubuhnya ke dalam laut. Dan menyelam.
"Semakin hari, aku menyelam semakin dalam. Aku penasaran. Aku cinta. Menyelam itu menyenangkan.
"Tetapi aku takut tenggelam."
Air matanya menetes.
Ah, sial. Aku mengingat sesuatu.
Sekalimat kata dalam secarik kertas yang kuberikan pada seseorang--dia yang kupikir pantas mendapatkannya.
"Kamu suka berenang?" Tanya perempuan itu tiba-tiba, kepadaku.
"Hah?"
"Itu, ada tanda belang di samping matamu. Seperti bekas kacamata renang," lanjutnya.
"Ooh, ini. Bukan, kok. Aku bisa berenang, tapi jarang. Ini bekas kacamata biasa," jawabku.
"Hmmm." Perempuan itu menenggak kopi di hadapannya. Aku kembali memeriksa ponselku. "Aku suka air," ia kembali melanjutkan ucapannya.
Sementara aku terdiam, tidak tahu mesti merenspons apa.
"Aku suka air, aku suka saat melihat-lihat terumbu karang di antara birunya laut. Setiap hari aku ke laut. Setiap hari aku bermain dengan ikan-ikan lucu, kerang, dan bintang laut. Kami bermain petak umpet di balik rumput-rumput laut.
"Aku suka laut, aku suka air. Biru itu cantik; ia meneduhkan, memikat, dan menarik. Kemarin aku juga main lagi ke laut. Rasanya, hidupku tidak bisa lepas dari laut."
Ngomong apa, sih, cewek ini? Batinku. Tetapi atas alasan ketidaktegaan, aku tetap mendengarkannya.
"Tetapi, beberapa hari ini aku tidak ke laut."
Perempuan itu diam, menatap kopinya dalam-dalam. Matanya berlinang, bola matanya segelap kopi hitam yang menuju habis.
Hitam dan berkilau, pantulkan cahaya lampu remang-remang di warung itu.
"Semakin aku menyusuri terumbu karang, semakin dalam aku bermain, semakin kelam birunya laut. Seperti kopi ini. Gelap.
"Cantiknya mulai berkurang, aku mulai melihat bangkai hewan-hewan aneh di lautan. Pemandangan itu berbeda dengan ketika aku masih dekat dengan permukaan, yakni saat cahaya matahari masih menembus.
"Aku takut."
"Ya sudah, tidak usah menyelam dalam-dalam, kalau begitu."
"Tidak bisa. Cintaku sudah tumpah sampai ke dasar laut. Aku masih bisa berpikir waras saat lama tak pergi ke laut. Tetapi ketika melewati pantai, diri ini spontan menceburkan tubuhnya ke dalam laut. Dan menyelam.
"Semakin hari, aku menyelam semakin dalam. Aku penasaran. Aku cinta. Menyelam itu menyenangkan.
"Tetapi aku takut tenggelam."
Air matanya menetes.
Ah, sial. Aku mengingat sesuatu.
Sekalimat kata dalam secarik kertas yang kuberikan pada seseorang--dia yang kupikir pantas mendapatkannya.
Aku suka air,
Tetapi itu dulu
Sebelum ia jatuh sebagai air mata di pipimu.
Yogyakarta
2017
Comments
Post a Comment