Posts

Showing posts with the label Warni

Ruangan Itu

Rini melangkahkan kakinya satu demi satu. Suara langkah kaki Rini memecah keheningan dan menuju sebuah ruangan. Ketika tepat berada di depan pintu ruangan yang ditujunya, Rini terdiam sebentar. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa kembali ke sini? Belum selesai pertanyaannya, batin Rini telah menjawabnya: karena aku rindu. Rini tidak mau menahan lebih lama lagi. Ia langsung membuka pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap dan tak terlihat apa-apa. Debu-debu beterbangan ke luar, menyapu wajah Rini yang terhenyak di depan ruangan. Ruangan itu terasa asing. Rini ragu tentang apa yang ada di dalam ruangan itu. Bukankah dulu ruangan itu ramai? Setidaknya, pernah ada dua-tiga orang di dalamnya. Rini ingat betul bagaimana Warni, Kaku, dan Mirat berbincang satu sama lain. Kini, ruangan itu kosong. Kemana lagi aku harus pergi? Rini memasuki ruangan itu; tangannya menyisir dinding supaya tidak terjebak di dalam kegelapan. Dinding ruangan itu penuh debu, seolah sudah lama tidak di...

Chamber Angkasa

Bawah Tanah merupakan gua dengan dua entrance , masing-masing terletak di utara dan di selatan. Di dalamnya, ada lorong-lorong yang dapat membawa penjelajahnya menuju chamber-chamber dengan berbagai ukuran dan bentuk ornamen. Ada salah satu chamber yang selama ini kurang diperhatikan oleh Warni sebab ia memang jarang membawa sumber cahaya yang lebih terang untuk mengamati lingkungan sekitar. Belakangan ini, ia kerap membawa seperangkat alat fotografi dan sumber cahaya yang lebih terang untuk memperoleh gambar-gambar yang menarik buatnya. Ia memang berhasil mendapatkan gambar-gambar yang eksotis menurut dirinya, khususnya pada salah satu chamber yang ia namai sebagai Chamber Angkasa. Sebelumnya, ia tidak pernah betul-betul mengeksplorasi dan berdiam diri di sana untuk waktu yang cukup lama. Ketika ia mulai harus melakukan beberapa aktivitas di Bawah Tanah, ia mulai menemukan keindahan dari ornamen dan biota gua khususnya di Chamber Angkasa. Keindahan itulah yang akhirnya membuat Warn...

Membuka Catatan Lama

13 Februari 2019 Warni memilih mengambil tempat duduk untuk dirinya sendiri. Ia menghadap ke tembok agar tidak perlu bertemu mata dengan siapapun. Di hadapannya ada sebuah kaleng kerupuk yang memantulkan cahaya di belakangnya. Ia bisa memantau keadaan di belakangnya dari situ. Sebetulnya, di dekatnya terdapat beberapa orang teman yang sudah selesai makan. Mereka tengah mengobrol dan di situ jelas ada bangku yang bisa didudukinya. Masih ada ruang untuk Warni, tetapi ia memilih untuk menyendiri. Baik, baik. Lawan ia dengan tulisan. Bukan, bukan lawan. Keluarkan. Keluarkan. Keluarkan. Air mata yang kutahan, keluarkan jadi kata-kata. Meskipun aku tahu intensitasmu? Mereka tidak menerima dia. Aku sedih. Dia orang baik. Mereka juga baik. Aku tidak membalas tanteku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun sementara aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya. Aku membayangkan diriku akan menepis mangkuk soto di hadapanku sampai ia jatuh dan pecah. Lalu semua orang akan menoleh ...

Menulis Surel kepada Diri Sendiri

Jemariku beradu dengan sejumlah tombol yang terhampar di atas lapisan logam penutup mesin komputer lipat yang bukan milikku. Sudah lama sekali tidak melakukan ini; ah, aku rindu. Apa yang kulakukan? Sebetulnya, aku ingin mencoba menyelami diriku sendiri lagi. Sejauh ini, cara termudahku untuk berbicara dengan diri sendiri adalah dengan menuliskan setiap percakapan di dalam diriku. Menokohkan setiap peran di dalam kepalaku dengan memberinya nama. Mewujudkannya menjadi sebuah sosok agar mudah diidentifikasi. Aku pernah menjadi Kaku. Kemudian kunjungan rutinku ke Pohon melahirkan sesosok baru dalam diriku, Warni, yang selalu menentang apa yang selama ini Kaku pegang sebagai acuan hidup. Dimensi pikiranku pun penuh dengan pergelutan; selama ini ia lelah atas pertanyaan dan kemudian muncul peperangan antara Warni dan Kaku. Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari luar yang terus mendukung atau menentang kedua sosok itu, tentu kekalutanku semakin dalam. Pertikaian Kaku dan Warni mem...

Cerita kepada Mirat

Di atas meja ulin bundar berwarna cokelat kehitaman, lengan Warni terlipat manis. Sebuah lampu remang memendarkan cahaya kuning tepat di atas pusat jari-jari lingkaran meja itu. Sekelebat memori lewat, bahwa di meja itu, ia telah melewati banyak sekali perbincangan, perdebatan, diskusi, silat lidah, adu mulut, adu argumen, dan segala adu-adu lainnya yang bermakna serupa. Tak lain, lawannya tentu adalah Kaku. Bagian dari dirinya juga, tetapi memiliki sifat dan pemikiran yang amat bertentangan dengan Warni. Setelah perkelahian yang cukup lama kemudian diikuti perang dingin di antara Warni dan Kaku, akhirnya Kaku menyerah juga. Ia angkat tangan, memutuskan untuk duduk dan beristirahat. Untuk mengantisipasi sadarnya orang-orang di sekitarnya tentang menghilangnya Kaku, Warni telah menciptakan topeng berwajah Kaku. Sesuatu yang amat mudah baginya; ia sudah biasa berkilah. Malam itu, Warni duduk sendiri. Tidak ada Kaku. Ia menunggu seseorang: Mirat. Bagi Warni, Mirat adalah makhluk mist...

Warna

"Dia sempurna banget, ya, di matamu." Adalah perkataannya ketika Warni menceritakan tentang Warna. Ada sorot yang berbeda kala itu, entah bagaimana, itu tampak sekali di balik kedua bola matanya. Tetapi bukan itu yang ingin Warni utamakan, melainkan saat ini bagaimanakah penilaiannya sendiri terhadap Warna? Cukup aneh memang, karena hal-hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan. Tetapi Warni mendesakku, untuk mencoba menata pikiranku , katanya. Baiklah, kaumemang selalu punya kemauanmu sendiri, Warni. Mari mulai sesi bincang-bincangnya, haha. *** W: Warna memang punya kepribadian yang baik. Bertanggung jawab. Risau pertamanya adalah soal orang tuanya. U: Bagaimana kautahu? W: Ia sering menceritakan tentang keluarganya. Persoalan serius pertama yang ia tanyakan padaku adalah bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingat betul bagaimana ia stres memikirkan kondisi bapaknya saat terjadi masalah. Aku pernah melihatnya langsung, beberapa kali,...

(Semoga) Akhir Seonggok Sampah

Bagaimana mungkin Warni tak sadar bahwa saudaranya telah berjalan-jalan jauh selama ini. Sedang ia selalu berada di dekatnya. Bagaimana bisa Warni abai akan perasaan keluarga yang selalu mengharap kebaikan baginya. Bagaimana bisa, ia tega mengkhianati kepercayaan itu. Apa yang kau berikan kepada mereka yang memberimu. Kau sibuk memikirkan kehancuranmu, tetapi kerjanya terus meratap dan sekadar berharap 'kan datang penolong. Kutahu kau tukang khayal, tetapi kaupikir dunia seindah imajinasimu? Lari dari kenyataan untuk keindahan semu. Kesenangan yang fana. Apa yang kaukejar? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, sampai-sampai tak sadar bahwa jasadmu telah bertransformasi menjadi kebusukan tak berguna. Sampah. NB. Pergilah.

Khayal?

Kembali ke Pohon. Warni sedang diam sore ini. Ia hanya ingin diam. Barangkali ia lelah. Ditambah lagi dengan datangnya pertanyaan dari salah seorang kawan tadi siang--sebuah pertanyaan sederhana yang justru mengaduk-aduk emosinya. Sebab pertanyaan itu adalah akar dari segala keraguan yang menggerayang pikiriannya. Rona Warni sore itu, semendung langit sehabis hujan. Tak kunjung cerah sebab hari pun tengah berganti malam. Pohon itu, tempatnya berteduh. Tetapi sebenarnya, aroma manis yang ditebar Pohon tak lain ialah halusinogen yang memabukkan Warni. Seolah terbang, pindah ke dalam ketenangan yang semu. Ketenangan sesungguhnya, yang pernah menyelubungi dirinya... kemanakah? Burung punai dalam genggaman, ia lepas. Ketenangan yang sejati, dilepasnya, digantikan kesenangan semu. Salahkah? Sudah, diamlah sejenak. Lihat. Saksikan. Pikirkan. Renungkan. Tetapi ada sesuatu yang mengacaukan pikiran Warni... Kecemburuan itu dijawab dengan sebuah pertanyaan lanjutan: ...

Warni Bercerita

Di antara suara jangkrik, alunan piano serta petikan gitar, kupandang sepucuk surat baru yang dialamatkan kepadaku. Kuamati goresan tulisannya--ah, surat tak bernama ini pasti tak lain dari Warni. Isinya: "Terima kasih. "Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pohon dan Rumah, serta siapa saja yang ada di dalamnya. Tanpa bisikan mereka, barangkali aku tidak akan melakukan pengembaraan selama tujuh hari ini." Tawaku tergelak. Benar juga, sudah beberapa hari sejak ia terakhir kali menitipkan surat padaku. Pengembaraan macam apa yang ia maksud? Mungkin akan lebih menarik jika kuteruskan membaca suratnya. Masih ada lanjutan tulisannya di bagian bawah surat. "Maaf lama tidak mengabarimu, berikut aku lampirkan catatan pengembaraanku selama tujuh hari. Dan latar belakangnya. Yah, tidak rinci, sih. Aku ingin menyampaikan apa yang ingin kusampaikan saat ini saja. Kau tahu aku, bukan? Haha!" *** Semua dimulai dari pembicaraan Warni dengan ...

Pesan Akhir Tahun

Barangkali setelah tahun berganti, Warni perlu lebih bersabar. Satu. Bersabarlah menunggu waktu yang ditentukan untuk bertemu (kembali) dengan Warna. Sembari menunggu, Warni, kau bisa memikirkan dengan jernih apa yang ingin kausampaikan. Susun semua pemikiran secara tersistematis; gunakan logika dan singkirkan sejenak perasaanmu itu. Diskusikan dengan jelas dan tanpa emosi. Jangan lupa berdoa supaya diberi kelancaran, yakinlah bahwa apapun jalan keluarnya nanti, itu semua merupakan takdir-Nya. Dua. Bersabarlah atas hatimu yang mulai bertanya-tanya tentang perasaanmu terhadap-"nya". Yang kaukenal di bawah Pohon. Ingatlah bahwa perasaan perlu dibekali logika, Warni. Meski terkadang, kehadiran logika melukai perasaan, sementara hanya waktu yang mampu menyembuhkan perasaan. Datang darimanakah perasaan itu? Mengapa perasaan itu timbul? Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Dan, bagaimanakah sebaiknya menyikapi perasaan itu? Renungkanlah. Tiga. Bersabarlah dalam belajar, te...

Kabar Hari Ini

"Hei, Warni. Ada apa denganmu? Kautampak bahagia; bukankah begitu, hmm?" Ia mematung, menatap mataku dengan tatapannya yang kosong. Dua puluh tiga milisekon kemudian, tawa tanpa suaranya meledak. Entah apa maksud tawa itu. Aneh sekali. Baru dua hari yang lalu, kondisinya tidak keruan. Pikirannya acak amburadul, bicaranya tak jelas, kerjaannya melontarkan pertanyaan ini-itu dan bercerita tentang alur penuh lubang. Hari ini, sejak tadi pagi tepatnya, Warni berubah 180 derajat. Ia sudah tertawa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal tidak ada yang betul-betul ia lakukan untuk menolong pikirannya yang kacau itu. Yah, kuucapkan selamat sajalah padamu. Karena keresahanmu merepotkan banyak orang, semoga seterusnya bahagia.

Untuk yang Sedang Berjuang

Warni ingin bicara. Setelah lepas dari Warna, rasanya Warni betul-betul berjalan sendirian. Dalam perjalanannya, berkali-kali ia terantuk batu, menabrak dahan. Bukannya menuju jalan yang lebih terang dan terbuka, Warni justru berjalan menuju belantara di belakang Pohon. Di tengah perjalanan, sayup-sayup Warni mendengar suara: kembalilah . Suara yang memanggil dirinya dengan nada aneh. Menggetarkan, tetapi tak menggerakkannya untuk berbalik arah barang sekalipun. Sampai saat ia tak sengaja menapak tanah yang rapuh; Warni jatuh! Ia menggelinding di tanah yang curam, tak terhentikan; jauh menuju jurang yang dalam. Gelap. Dingin. Namun, menenangkan. Aneh. Warni berjalan menyusuri kegelapan jurang itu. Rupanya ia tak sendirian di sana. Ada beberapa teman yang pernah ia temui di sekitar Pohon. Mereka diam, tak saling bicara. Hanya menatap dinding batu yang terjal dan hampir mustahil untuk dipanjat. Melihat mereka seperti itu, justru menimbulkan keinginan bagi Warni untuk naik. Kembal...

Sepucuk Surat untuk Warna

Untuk Warna Hai, Warna. Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya. Warni sudah lelah, Sayang. Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya. Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni. Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah. Warni mulai tersesat. Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun. Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi. Cukuplah ia yang tersesat,...