Membuka Catatan Lama
13 Februari 2019
Warni memilih mengambil tempat duduk untuk dirinya
sendiri. Ia menghadap ke tembok agar tidak perlu bertemu mata dengan siapapun.
Di hadapannya ada sebuah kaleng kerupuk yang memantulkan cahaya di belakangnya.
Ia bisa memantau keadaan di belakangnya dari situ. Sebetulnya, di dekatnya
terdapat beberapa orang teman yang sudah selesai makan. Mereka tengah mengobrol
dan di situ jelas ada bangku yang bisa didudukinya. Masih ada ruang untuk
Warni, tetapi ia memilih untuk menyendiri.
Baik, baik. Lawan ia dengan tulisan. Bukan, bukan
lawan. Keluarkan. Keluarkan. Keluarkan. Air mata yang kutahan, keluarkan jadi
kata-kata.
Meskipun aku tahu intensitasmu? Mereka tidak
menerima dia. Aku sedih. Dia orang baik. Mereka juga baik. Aku tidak membalas
tanteku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun sementara aku merasa bersalah
karena tidak bisa menemaninya. Aku membayangkan diriku akan menepis mangkuk
soto di hadapanku sampai ia jatuh dan pecah. Lalu semua orang akan menoleh ke
arahku. Aku takut, terdiam, kecemasanku meningkat pesat—secara eksponsesial.
Aku hanya terdiam, kemudian memeluk atau segera beranjak kemanapun. Lari tak
tahu arah.
Aku sebetulnya tidak suka ini, tapi aku tahu kalau
ini menyalurkan kesadaranku yang itu. Setidaknya menulis lebih baik ketimbang
meracau, meski kepalaku juuga terasa melayang membayangkannya, memikirkannya.
Aku masih berusaha agar paling tidak antar kata dapat tersusun dengan baik
sebagai suatu kalimat. Aku bingung setelah ini mesti bagaimana. Bagaimana aku
membeli obat? Bagaimana aku membeli laptop?
Ini makan berat ketigaku dalam 3 hari ini. Sudah 3
hari aku makan sendiri. Ya sudah sih. Telinga kiriku berdenging. Aku ingin
memejamkan mata dan memberontak! Aku tidak ingin beranjak, kalau bukan untuk
menyendiri dan meng…ai diriku lebih dalam (tulisan semakin sulit dibaca dan aku lupa apa yang
kutulis). Aku tidak mau kau kembali!
Aku tidak mau dibuang. Aku tidak mau sosokku dapat diidentifikasi dengan jelas.
Akan kurusak … tangamu menulis agar kamu tak bisa mem…ku kepada orang lain dan
mengusirku pergi.
Aku ingin tetap ada di dalam dirimu, menyakiti
tubuhmu, melelahkan hatimu. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku. Aku
adalah kecemasanmu. Aku adalah penghancurmu. Aku yang merasuk di kepalamu,
memusingkan kepalamu, mengacaukan kerja tanganmu, mencegahmu ber…, mencegahmu
bertemu dengan orang lain, mencegahmu menghubungi siapapun, merusakmu. Aku akan
terus ada dan berusaha untuk membuatmu jatuh semakin dalam, ke realitasku.
Meninggalkan realitasmu. Kau selalu bertanya seperti apa kesadaran itu? Akan
kutunjukkan bagaimana kesadaran bekerja. Bagaimana kesadaran yang bukan seperti
biasanya akan mengantarmu melakukan hal yang tidak kamu ….
Aku harus pergi.
***
15 Februari 2019
Tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang
tenang tenang tenang tenang tenang aku ingin membenturkan kepalaku,
menggerakkan tubuhku dengan gerakan repetitif dan menghancurkan sesuatu. Aku
ada di sini untuk mengobrol dengan santai dan berbahagia. Aku harus melakukan
hal lain yang lebih seharusnya aku lakukan. Aku harus melewati ini. Aku harus …
… … mungkin.
… … … … …. Aku … digunakan … aku tidak … … … … …
tulisanmu … … … terbaca … ditanya … … … siapa. Aku tidak t… … … … … …. Aku
takut. Aku tidak … dicari. Aku takut mengecewakan.
… akan tidak. Apa perasaanku? Takut. Gelisah. Aku
takut sama … …ku. Aku takut … tidak dicari. … … … … … … saja aku takut
me…. Aku takut menyakitkan. Aku takut di…. Aku tidak t…. Aku seperti sa… dengan
s… … … tidak … … … pergi … … … aku tidak … … ke…. Aku tidak me… … …
…(tulisanku selanjutnya semakin tidak bisa
dilihat sebagai tulisan).
Comments
Post a Comment