Ingatan Muntah
Rini berlari ke kamar mandi setelah lambung dan kerongkongannya bersekongkol untuk menimbulkan perasaan mual. Bilik kamar mandi di kamar maupun di sekolahnya telah menjadi saksi bisu berbagai aktivitas Rini, salah satunya muntah. Dalam setiap muntahan, Rini mengingat masa-masa kecilnya yang tak jauh dari klinik, demam, dan ember untuk muntah. Penyakit yang dialaminya semasa kecil "hanyalah" kecapekan. Aktivitas fisik yang terlalu berat membebani dirinya lantaran katup jantungnya tidak sempurna. Kali ini, Rini bergulat dengan penyakit yang berbeda. Penyakit itu tidak menyerang secara langsung; ia mengendap-endap dari balik kegelapan. Penyakit itu menimbulkan candu bagi Rini. Penyakit itu memberi nikmat sekaligus pedih yang membunuhnya pelan-pelan, tetapi juga membawanya pada pelajaran-pelajaran baru setiap hari. Penyakit itu bernama depresi.
Jika di masa kecil Rini selalu didampingi orang tuanya ketika sakit, kali ini ia tidak bisa betul-betul mengharapkan siapa-siapa. Orang-orang di sekitar Rini mendukungnya untuk sembuh, tetapi semua kembali ke "ilusi kendali" yang dimiliki oleh Rini. Tidak semua orang akan selalu berada di sampingnya. Ia hanya bisa memijat tengkuk, leher, dan tulang dadanya sendiri untuk membantu proses pengeluaran isi perut. Sayangnya, tidak ada sedikitpun makanan yang keluar dan Rini masih merasa mual. Rini justru melihat sesuatu yang baru di permukaan porselen dan air jamban: kombinasi saliva dan jaringan darah.
Baiklah.
Rini sudah biasa dengan kombinasi jaringan kulit yang terbuka dan darah, tetapi kali ini tidak biasa. Ia kemudian membilas air di jamban dan segera membuka mulut lebar-lebar di hadapan cermin. Biasanya, gusi Rini mengeluarkan darah. Barangkali, darah di muntahannya berasal dari gusinya yang entah mengapa kerap mengeluarkan darah tanpa terduga. Kali ini tidak.
Oke. Baiklah.
Kemudian, ada sosok pria di sana yang memandangi Rini dari kejauhan. Sedikit kehawatiran menyelimuti pikirannya. Beberapa pertanyaan muncul di kepala pria itu. Termasuk pertanyaan "Mengapa dia gemetar?"
ReplyDeleteSebenarnya, pria itu sudah tahu jawabannya.
DeleteSeperti hari-hari sebelumnya di mana dia selalu merasa tak yakin dengan pikirannya sendiri sebelum Rini benar-benar memberitahunya, pria itu hanya terdiam.
Delete