Life is Not A Race

Life is not a race.
Sebelum benar-benar mendapat surel yang berisi kalimat tersebut, sebetulnya aku sudah membacanya di dinding ruangan beliau. Aku membaca tulisan itu ketika kami sedang berdiskusi. Setelah keluar dari ruangan beliau, aku mengambil buku catatanku. Buku itu baru dan halaman pertamanya masih kosong. Aku merenung sejenak, menulis beberapa paragraf, lalu mengakhiri halaman pertama dengan kalimat tersebut: life is not a race.
Selama ini aku memang menganggap bahwa sebisa mungkin aku harus selalu melakukan yang terbaik. Pekerjaanku harus baik dan aku harus bisa menyelesaikannya dengan cepat. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang bekerja keras dan tangguh. Beberapa kalimat yang menjadi penghias meja dan buku-bukuku ketika SMA antara lain: Keep Calm, Stay Strong, Work Hard, Think Sufficiently. Kalimat pertama memotivasiku untuk tetap bersikap tenang dan tidak perlu menyombongkan diri dengan kata-kata. Kalimat kedua memotivasiku untuk tetap kuat terhadap berbagai masalah yang menghadang. Kalimat ketiga memotivasiku untuk selalu berusaha bekerja keras dalam mengerjakan apapun. Kalimat keempat memotivasiku untuk menjaga diriku dari kegelisahan akibat pikiran-pikiran yang mudah sekali muncul dan berkembang. Ternyata, kalimat-kalimat ini tidak selalu cocok untuk segala situasi. Aku tersandung oleh kalimat-kalimatku sendiri.
Belakangan ini, komunikasiku dengan beliau menjadi lebih intens. Aku mengabari beliau tentang kondisiku karena menurutku beliau perlu tahu, selain aku memang ingin tahu bagaimana tanggapan dan pemikiran beliau. Rupanya, komunikasi kami berlanjut sampai akhirnya beliau mengirimkan kalimat itu secara langsung kepadaku: life is not a race.
Aku menyebutkan kalimat itu sebanyak tiga kali di dalam tulisan ini--empat dengan judul--untuk menjadi pengingat karena kurasa kalimat itu tepat buatku dalam waktu ini. Setiap hal terjadi dalam ruang dan waktu yang spesifik. Setiap kejadian terjadi secara tepat. Empat kalimat itu baik buatku waktu SMA, tetapi tidak buat saat ini. Kalimat ini baik buatku saat ini, tetapi mungkin tidak untuk waktu yang akan datang. Tidak juga buatmu atau mereka, maka jangan khawatir.
Jangan khawatir.

Lalu,
langkah jemariku terhenti ketika kata terakhir
justru bergaung di dalam diriku.
Sayangnya, bukan kalimat itu yang justru mewujud
tapi kata

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri