Rumah Sakit (2)
PERHATIAN
DILARANG MEREKAM DALAM BENTUK GAMBAR / VIDEO TANPA SEIZIN MANAJEMEN
Peraturan itu tertulis begitu jelas dan tertempel di sepanjang lorong dan setiap ruangan. Untuk memastikan setiap orang dapat membacanya dengan jelas, tulisan itu dicetak dalam warna putih dengan latar belakang merah. Di sampingnya, terdapat gambar berbentuk rambu, seperti rambu dilarang parkir tetapi di dalamnya bukan tertulis huruf "P" melainkan gambar kamera. Yang penting bukan larangan merekam dalam bentuk tulisan atau ilustrasi, batin Rini.
Sudah satu jam lebih delapan menit Rini menunggu namanya disebut. Ia sempat menunggu selama sekitar 40 menit di dalam, 20 menit di luar, dan sekarang ia kembali ke dalam lagi. Akhirnya ia kembali ke tempat ini juga--setelah satu minggu menunda dan enam hari bereksperimen dengan dirinya sendiri. Tempat ini masih dijaga oleh penjaga yang sama. Hanya saja, hari ini orang-orang tidak seperti sebelumnya. Sebelumnya, Rini menemui beberapa orang yang tampak unik karena "setengah". Sepertinya, hari ini orang-orang yang datang masih kurang lebih seperti dirinya yang masih bisa "hampir satu". Bahkan, sebagian orang yang utuh alias bernilai "satu" juga cukup banyak datang hari ini. Sepertinya ada jadwal tes kesehatan jiwa untuk urusan tertentu di tempat ini.
Sebetulnya, Rini bisa saja menunggu sambil mengerjakan tanggung jawabnya satu demi satu supaya lebih produktif. Namun, ia memilih untuk diam dan menulis. Melalui tulisan ini, ia ingin berterima kasih kepada beberapa orang di sekitarnya yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu terhadap persoalan yang sedang dihadapinya. Mungkin tidak semua saran tepat, tetapi berkat itu, Rini banyak belajar hal baru. Kembali ke tempat ini merupakan hal yang akhirnya dipilih Rini karena secara nalar, ia harus melakukannya untuk berupaya mengatasi persoalannya.
Rini tiba-tiba teringat pada sesosok bayangan yang dijumpainya dua hari yang lalu. Di depan matanya yang tertutup, ia berjumpa dengan sesosok bayangan yang mengacungkan pisau ke arahnya, seolah bersiap menikam. Bayangan itu menyeringai seram, tetapi tak bergerak semili pun. Saat kasih dipancarkan oleh kiri-kanannya, gelombang sinar putih menutupi bayangan itu. Begitu sinar putih memudar, sang bayangan kembali nampak, namun dengan warna biru dan raut yang amat berubah dari sebelumnya. Bayangan itu tampak sangat sedih. Genggamannya lepas, sehingga pisau di tangannya jatuh. Rini hendak mengambilnya tetapi takut; ia ikut sedih melihat bayangan itu tampak kesepian. Belum selesai berinteraksi, bayangan itu hilang dalam waktu yang bersamaan dengan ketika dirinya membuka mata.
Entah mengapa, Rini merasa bayangan itu begitu dekat dengannya. Selama ini, bayangan itu tidak mewujud sebagai rupa, melainkan hanya sebagai suara. Dua hari yang lalu, bayangan itu mewujud. Mengerikan, menyedihkan, tetapi membuat rindu. Jika ditarik dari ingatannya, mungkin sebenarnya Rini juga menggenggam pisau yang siap menikam sang bayangan. Mereka bisa saling tikam tetapi mereka hanya saling tatap. Alih-alih, mereka menjatuhkan pisau itu bersamaan. Ia sadar bahwa sejak berkenalan dengan Tuan Rindu, cinta dapat dilambangkan dengan sebuah belati. Meski kini ia meletakkan belati itu pada genggaman tangan Tuan Hitam, bukankah ia juga bisa memiliki belati-belati yang lain? Belati itu ia dekap dalam dirinya, menghujam hatinya, mewujud jadi sosok bayangan karena rekonstruksi rasa yang sebenarnya hanya reaksi kimiawi, biologis, dan fisis. Barangkali, adegan itu merupakan lakon dari cinta pada diri sendiri yang selama ini masih menjadi teka-teki.
Comments
Post a Comment