Bunuh Diri dalam 4 Kisah

/1/
Aku pernah membesuk salah seorang teman yang dirawat di rumah sakit setelah melakukan bunuh diri, tetapi gagal. Ia sudah menenggak racun serangga di dalam kamar kos dan sempat tak sadarkan diri. Katanya, selama tak sadarkan diri, ia bermimpi berada pada suatu tempat dan ia sedang berlari, mengejar sesuatu. Ia berlari menuju pada suatu arah yang benar-benar ingin dicapainya. Namun, meskipun ia sudah berupaya keras, lantai yang dipijaknya seolah-olah bergerak melawan arah, membuat dirinya tidak sampai-sampai ke tujuannya. Akhirnya, ia gagal menuju ke tempat yang dikejarnya, kemudian tersadar bahwa dirinya masih hidup. Ia merasakan sakit yang sangat luar biasa, sampai akhirnya salah seorang temannya menghubungi dirinya, menjemputnya, lalu membawanya ke rumah sakit.
Dia bercerita bahwa masalahnya (yang merupakan masalah hubungan eksternal dengan orang lain) telah selesai meskipun bunuh dirinya gagal. Meskipun demikian, ia menganggap bahwa jika waktu itu bunuh dirinya berhasil, masalahnya juga akan selesai. Itu sebabnya ia memutuskan untuk bunuh diri. Pesannya: Sebelum bunuh diri, pastikan bahwa masalah itu betul-betul bisa menjadi selesai atau teratasi dengan kematianmu. Proses menuju mati itu sakit. Sakit sekali. Dalam gambar yang ia bagikan dalam salah satu akun media sosialnya, ia menulis: If you ever think about how suicide will be less painful than the reality you facing everyday, you were wrong. It is painful as hell and even your journey to the afterlife isn't that wonderful as you might ever expected.
Sampai hari ini, ia berkuliah dan kurasa kondisi kejiwaannya jauh lebih baik.

/2/
Aku pernah melihat beberapa bekas luka yang memanjang di lengan seseorang. Dalam puncak frustasinya, ia memecahkan sebuah gelas dan mengambil belingnya, kemudian melukai lengan kirinya dengan cukup dalam sebanyak 3 kali. Seketika itu pula, pikirannya berbalik arah 180 derajat. Pola pikirnya tahu-tahu saja berubah, ia yang semula berpikir sudah ingin mati saja, tiba-tiba berpikir: aku tidak ingin berakhir seperti ini. Ia pun membalut lukanya dengan segera, menelepon taksi, dan datang ke unit gawat darurat rumah sakit terdekat. Jika ia tidak membawa dirinya ke rumah sakit, kurasa aku akan pulang dengan melihat mayat bersimbah darah di kamar mandi.
Sampai hari ini, ia masih hidup dan ia telah melewati pikiran-pikiran frustasi tersebut.

/3/
Aku pernah mencegah seseorang untuk bunuh diri dalam detik-detik menjelang tindakannya. Beberapa hari sebelum ia bertekad melakukan aksi bunuh diri, aku memang sudah sering melihatnya menangis, melamun, dan tampak muram. Aku tahu bahwa ia memang punya masalah yang amat berat saat itu. Pada hari ketika ia akan melakukan aksi bunuh diri, aku hendak keluar untuk bermain ke rumah teman dan ingin berpamitan dengannya. Aku mencari dirinya ke sekeliling rumah tetapi tidak menemukannya, sampai tahu-tahu aku menemuinya di dapur. Ia tampak kaget.
"Aku pergi dulu, ya," kataku. Ia mempersilakan diriku untuk pergi. Aku pun berjalan keluar rumah dan mengunci pintu rumah. Belum sempat aku melangkah lebih jauh, intuisiku menyuruhku untuk mencari kunci rumah dan segera kembali masuk ke dalam rumah. Aku berjalan menuju ke dapur dan mendapati dirinya sedang menggenggam pisau di tangan kanan. Mata pisau itu menatap tajam lengan kirinya, siap menancap. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendekatinya dan mencegahnya dengan menggenggam kedua pergelangan tangannya. Ia sempat berusaha melawan genggamanku, tetapi ia kemudian menangis. Ia memelukku sambil berkata dengan lirih: "Aku nggak kuat lagi..." Aku hanya bisa ikut menangis dan membalas pelukannya setelah lengannya sudah tergeletak, melepaskan pisau dari genggaman. Aku tidak ingat begitu jelas detail percakapan kami waktu itu, tetapi intinya ia menceritakan padaku tentang apa yang ia hadapi dan rasakan. Kami berpelukan sambil sama-sama menangis dalam waktu yang cukup lama, hingga akhirnya ia berjanji bahwa setelah ini, ia tidak akan bunuh diri. Merasa bisa mempercayai kata-katanya, barulah aku pergi meninggalkan rumah. Beruntungnya, saat aku kembali, ia masih di rumah sebagai manusia hidup, bukan mayat bersimbah darah.
Beberapa waktu setelah itu, ia meninggalkan rumah untuk berkeluarga. Suatu hari saat ia sudah tidak tinggal di rumah, aku menemukan sebuah buku yang berisi tulisan-tulisannya. Buku itu menjadi saksi atas kesedihannya. Salah satu halaman berisi surat wasiat yang kurasa ditulis olehnya sebelum menunaikan aksi bunuh diri waktu itu.
Sampai hari ini, ia tinggal bersama suami dan ibunya.

/4/
Aku pernah berbagi kisah dengan seorang teman yang telah melewati momen dimana dirinya sudah setengah gila. Pada momen tersebut, ia seperti sudah berada di depan dua pintu. Pintu yang satu membawanya menuju keadaan gila, sementara yang satu lagi menuju keadaan waras. Saat itu, ia merasa tubuhnya sakit sekali. Dadanya terasa sakit, tertekan, sesak, dan kepalanya betul-betul terasa pusing. Ia pernah berlatih bela diri dan dipukul sampai tulangnya retak sebelumnya. Menurut dirinya, dipukuli masih lebih baik daripada rasa sakit yang dirasakannya ketika hampir gila. Ia memang berpikiran untuk bunuh diri berkali-kali, tetapi pada waktu itu ia masih ingin melanjutkan hidup karena ia ingin paling tidak hidupnya bisa lebih sedikit bermanfaat. Ia ingin hidupnya punya makna. Ia juga belum melunasi utang-utangnya, sehingga ia harus tetap hidup. Ia pun berusaha melawan dengan mengendalikan dirinya agar tidak masuk ke pintu menuju kegilaan. Meskipun begitu, ia merasa dirinya sudah mati. Separuh dirinya sudah digerogoti ketidakwarasan itu. Sedikit demi sedikit, ia membangun dirinya kembali, walau masih terasa sangat berat terutama karena banyaknya tekanan kehidupan dari luar.
Ia merasa sudah mati, tetapi masih melanjutkan kehidupan meski tanpa arah yang pasti, tanpa harta yang betul-betul mencukupi kehidupan hariannya, tanpa seseorang yang mendampinginya, dan tanpa jalan pulang. Ia masih berusaha mengatasi tekanan kehidupan dari luar dan mengendalikan dirinya agar tetap hidup supaya bisa mencapai tujuannya. Namun, jika suatu saat ia tidak kuat dan hanya mempunyai dua pilihan yaitu menjadi gila atau mati, ia memilih mati. Ia tidak ingin menyusahkan orang-orang di sekitarnya dengan menjadi gila. Dan proses menuju kondisi gila itu, sungguh, sakit sekali. Katanya, jika waktu itu ia memutuskan untuk bunuh diri dan ada alat berupa tali, aku takkan mengenalnya kecuali dalam berita meninggalnya seseorang akibat gantung diri.
Sampai hari ini, ia masih hidup dalam perantauan dan bisa berbagi cerita denganku.

/5/
Tarik napas panjang, embuskan.
Semua yang telah terjadi kepadaku, entah itu baik ataupun buruk, aku menerimanya karena itulah yang menjadikanku seperti sekarang. Aku berterima kasih atas itu semua. Aku bersyukur.
Semua yang akan terjadi kepadaku, entah itu baik ataupun buruk, aku tidak akan menolaknya. Aku akan menerimanya.
Semoga aku damai dan berbahagia. Semoga keluargaku berbahagia. Semoga orang yang kusukai maupun yang tidak kusukai, yang menyukaiku maupun yang tidak menyukaiku, hidup berbahagia. Semoga semua orang yang mengenalku, tidak kukenal, ataupun tidak mengenalku, hidup damai dan berbahagia. Semoga semua makhluk yang terlihat maupun yang tidak, yang hidup maupun yang akan hidup, hidup tentram dan berbahagia.
Semoga semua makhluk berbahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah