Posts

Showing posts from March, 2017

Warna

"Dia sempurna banget, ya, di matamu." Adalah perkataannya ketika Warni menceritakan tentang Warna. Ada sorot yang berbeda kala itu, entah bagaimana, itu tampak sekali di balik kedua bola matanya. Tetapi bukan itu yang ingin Warni utamakan, melainkan saat ini bagaimanakah penilaiannya sendiri terhadap Warna? Cukup aneh memang, karena hal-hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan. Tetapi Warni mendesakku, untuk mencoba menata pikiranku , katanya. Baiklah, kaumemang selalu punya kemauanmu sendiri, Warni. Mari mulai sesi bincang-bincangnya, haha. *** W: Warna memang punya kepribadian yang baik. Bertanggung jawab. Risau pertamanya adalah soal orang tuanya. U: Bagaimana kautahu? W: Ia sering menceritakan tentang keluarganya. Persoalan serius pertama yang ia tanyakan padaku adalah bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingat betul bagaimana ia stres memikirkan kondisi bapaknya saat terjadi masalah. Aku pernah melihatnya langsung, beberapa kali,...

Sepuluh Bulan yang Lalu

Image
Ingatanku melambung, kembali ke masa itu. Sepuluh bulan yang lalu. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. (*) Dalam tidurku sebelumnya, kubertemu denganmu. Dalam kegelapan malam, kukayuh sepeda, kemudian entah mengapa kutinggalkan sepeda itu. Aku berjalan melewati rel kereta, menyusuri gelapnya hutan. Saat merasa telah kehilangan arah, kutemukan kamu. Dengan beralaskan sepatu olahraga sekolah yang tak pernah kauganti selama tiga tahun silam, dan dibalut gamis putih yang berpendar, kaulemparkan sebuah senyum paling tulus yang pernah kusaksikan. Aku pun berjalan mengikutimu; dedaunan pepohonan mulai terbuka, dan... Bulan itu penuh. Lingkaran sempurna, dengan kesempurnaan pendaran sinarnya. Di sekelilingnya, bintang-bintang gemerlap memamerkan pesonanya. Kau dan aku diam. Kemudian aku terbangun. Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis. Aku rindu. Bawa aku kembali ke jalan dimana seharusnya aku me...

Tidak Semua Rindu Perlu Dilunasi

Aku rindu mencintaimu, Saat aku hendak mencintainya Karena ada yang hilang dari dirinya Yang kutemukan saat mencintaimu. Aku rindu mencintaimu, Melantunkan doa-doa, harapkan kesehatanmu; Cemaskan sakit dan hilangmu. Aku Rindu Diam dalam pertemuan kita Perasaan yang terkungkung dalam rahasia Yang telah lama terkubur; hampir sirna Namun sedikitpun aku tak merindukanmu Aku hanya rindu mencintaimu Rindu dicintai olehmu Aku ingin memandangmu tanpa mengingat yang lalu Mencintaimu yang ada di hadapanku Bukan kenangan, ingatan Tetapi tidak semua rindu perlu dilunasi, bukan?

(Semoga) Akhir Seonggok Sampah

Bagaimana mungkin Warni tak sadar bahwa saudaranya telah berjalan-jalan jauh selama ini. Sedang ia selalu berada di dekatnya. Bagaimana bisa Warni abai akan perasaan keluarga yang selalu mengharap kebaikan baginya. Bagaimana bisa, ia tega mengkhianati kepercayaan itu. Apa yang kau berikan kepada mereka yang memberimu. Kau sibuk memikirkan kehancuranmu, tetapi kerjanya terus meratap dan sekadar berharap 'kan datang penolong. Kutahu kau tukang khayal, tetapi kaupikir dunia seindah imajinasimu? Lari dari kenyataan untuk keindahan semu. Kesenangan yang fana. Apa yang kaukejar? Kau hanya memikirkan dirimu sendiri, sampai-sampai tak sadar bahwa jasadmu telah bertransformasi menjadi kebusukan tak berguna. Sampah. NB. Pergilah.

Refleksi

Image
Diam dan berpikir, melakukan kontemplasi. Sinar datang menerpa. Foton berosilasi, elektron beresonansi. Cahaya terpantul dan realita timbul dalam imaji. Refleksi. (*) Aku ingin tahu diriku; beri aku kaca dan lapisan perak supaya aku dapat bercermin. Aku ingin kenal diriku; beri aku seseorang kemudian ajak aku bicara, tentu tanggapanmu merupakan respons dari sesuatu yang telah kukeluarkan. Aku ingin paham diriku; beri aku sekumpulan manusia, maka aku akan punya penilaian terhadap kelompok manusia tersebut sehingga aku akan memahami bagaimana paradigma yang kuyakini. Aku, aku, dan aku. Kepalaku sakit. Diriku, pergilah. Diriku, bercerminlah. (**) Cermin, datanglah, takkan kuremukkan dirimu karena aku butuh kamu. Paling-paling justru kepalaku yang akan kuhentakkan ke dinding itu, sampai dentumnya kaudengar karena menusuk hingga ke ubun-ubunmu. Supaya kautahu betapa hancurnya diriku melihat refleksiku. Dalam keributan ini, aku memilih diam. Untuk menangkap ...