Sepuluh Bulan yang Lalu
Ingatanku melambung, kembali ke masa itu. Sepuluh bulan yang lalu.
Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis.
(*)
Dalam tidurku sebelumnya, kubertemu denganmu. Dalam kegelapan malam, kukayuh sepeda, kemudian entah mengapa kutinggalkan sepeda itu. Aku berjalan melewati rel kereta, menyusuri gelapnya hutan. Saat merasa telah kehilangan arah, kutemukan kamu.
Dengan beralaskan sepatu olahraga sekolah yang tak pernah kauganti selama tiga tahun silam, dan dibalut gamis putih yang berpendar, kaulemparkan sebuah senyum paling tulus yang pernah kusaksikan. Aku pun berjalan mengikutimu; dedaunan pepohonan mulai terbuka, dan...
Bulan itu penuh. Lingkaran sempurna, dengan kesempurnaan pendaran sinarnya. Di sekelilingnya, bintang-bintang gemerlap memamerkan pesonanya. Kau dan aku diam.
Kemudian aku terbangun.
Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis.
Aku rindu. Bawa aku kembali ke jalan dimana seharusnya aku menapakinya.
Jalan setapak yang kita susuri bersama, tanpa maksud lain selain mendekati-Nya.
Kembalikan aku padamu...
Lantunkan kembali ayat-ayat indah itu. Ingatkan aku bagaimana kesederhanaan dapat membawa kebahagiaan kepada siapa yang mensyukurinya.
Ajari aku cara mencintai karena-Nya, supaya apapun yang terjadi, kuserahkan pada-Nya sebab diri-Nyalah Sang Pemilik Hati.
Kemudian aku ingat kata-katamu.
Laa tahzan. Innallaha ma'ana.
Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis.
(*)
Dalam tidurku sebelumnya, kubertemu denganmu. Dalam kegelapan malam, kukayuh sepeda, kemudian entah mengapa kutinggalkan sepeda itu. Aku berjalan melewati rel kereta, menyusuri gelapnya hutan. Saat merasa telah kehilangan arah, kutemukan kamu.
Dengan beralaskan sepatu olahraga sekolah yang tak pernah kauganti selama tiga tahun silam, dan dibalut gamis putih yang berpendar, kaulemparkan sebuah senyum paling tulus yang pernah kusaksikan. Aku pun berjalan mengikutimu; dedaunan pepohonan mulai terbuka, dan...
Bulan itu penuh. Lingkaran sempurna, dengan kesempurnaan pendaran sinarnya. Di sekelilingnya, bintang-bintang gemerlap memamerkan pesonanya. Kau dan aku diam.
Kemudian aku terbangun.
Pukul tiga pagi aku terbangun dengan sepasang mata yang telah basah oleh tangis.
Aku rindu. Bawa aku kembali ke jalan dimana seharusnya aku menapakinya.
Jalan setapak yang kita susuri bersama, tanpa maksud lain selain mendekati-Nya.
Kembalikan aku padamu...
Lantunkan kembali ayat-ayat indah itu. Ingatkan aku bagaimana kesederhanaan dapat membawa kebahagiaan kepada siapa yang mensyukurinya.
Ajari aku cara mencintai karena-Nya, supaya apapun yang terjadi, kuserahkan pada-Nya sebab diri-Nyalah Sang Pemilik Hati.
Kemudian aku ingat kata-katamu.
Laa tahzan. Innallaha ma'ana.

Comments
Post a Comment