Warna

"Dia sempurna banget, ya, di matamu."
Adalah perkataannya ketika Warni menceritakan tentang Warna. Ada sorot yang berbeda kala itu, entah bagaimana, itu tampak sekali di balik kedua bola matanya. Tetapi bukan itu yang ingin Warni utamakan, melainkan saat ini bagaimanakah penilaiannya sendiri terhadap Warna?
Cukup aneh memang, karena hal-hal semacam ini bukanlah sesuatu yang tepat untuk diceritakan. Tetapi Warni mendesakku, untuk mencoba menata pikiranku, katanya.
Baiklah, kaumemang selalu punya kemauanmu sendiri, Warni. Mari mulai sesi bincang-bincangnya, haha.

***
W: Warna memang punya kepribadian yang baik. Bertanggung jawab. Risau pertamanya adalah soal orang tuanya.
U: Bagaimana kautahu?
W: Ia sering menceritakan tentang keluarganya. Persoalan serius pertama yang ia tanyakan padaku adalah bagaimana latar belakang keluargaku. Aku ingat betul bagaimana ia stres memikirkan kondisi bapaknya saat terjadi masalah. Aku pernah melihatnya langsung, beberapa kali, bagaimana ia berkomunikasi dengan orang tuanya.
U: Oke, itu soal keluarga. Lalu?
W: Tentang agama, ia shalat lima waktu. Bagaimana aku tahu? Dari teman-teman sekamarnya, aku mengenal mereka semua. Aku pun sering melihatnya ke masjid saat itu. Hampir tiap lima waktu, ia selalu ke masjid. Dhuha pun ia ke masjid. Soal tahajjud, aku tidak pernah melihatnya langsung, tetapi ia sering membangunkanku pukul tiga pagi. Setiap Senin Kamis, aku melihatnya makan sahur di kantin. Ya, aku melihatnya. Kata dirinya sendiri dan teman-teman dekatnya, ia termasuk yang memilih untuk tidak ikut menyontek, dan aku percaya. Nilai UN fisikanya 30. Satu hal yang masih kuragukan, bagaimana bisa ia sekampus denganku. Rumornya, sih, kakaknya itu 'calo'. Tetapi itu masih desas-desus. Namun keraguanku soal itu, memang benar, karena kupikir dia biasa saja secara akademik...tetapi entahlah, dia melakukan banyak persiapan sebelum ujian.
U: Bagaimana tentang lingkaran sosialnya? Riwayat asmaranya, barangkali? (haha)
W: Ah, aku ingat. Saat pertama kali dekat, orang-orang memperingatkanku. Jangan dekat-dekat dengannya, ia banyak memberi harapan pada orang-orang sebelumnya. Benar juga, aku ingat, sebelum ini ia pernah terlibat 'skandal penikungan'.
U: Istilah macam apa itu? Hahaha,
W: Iya, dia dikabarkan pernah memberi harapan palsu ke seseorang ketika SMP, sampai bertahun-tahun. Kemudian di SMA, ia dekat dengan seseorang, sebut saja Mawar. Setahun kemudian, ia dekat dengan orang lain, sebut saja Melati. Padahal, Mawar dan Melati adalah sahabat yang selalu terlihat berdua. Sejak saat itu, Mawar dan Melati tidak bersahabat lagi.
U: Kaupernah tanyakan padanya soal itu?
W: Pernah. Ia menjawab dengan sederhana: aku tidak pernah menyukai salah seorangpun dari mereka semua (red: teman SMP, Mawar, dan Melati).
U: Bukankah itu artinya bisa saja kauseperti mereka?
W: Iya... itu hal yang kutakutkan sejak awal. Maka ketika kami sudah dekat dan kupikir kami lebih dari seorang teman, aku pernah bertanya apakah saat itu dia menyukai seseorang? Jawabannya: tidak. Berarti, aku bukanlah orang yang ia sukai, bukan? Namun setelahnya, ia memperlakukanku seolah ia memang menyukaiku. Kami tidak pernah bertegur sapa saat bertemu, jarang sekali mengobrol. Tetapi ia menanyakan keadaanku melalui temanku, memberiku apel tanpa kuminta melalui temanku pula, melemparkan bantal saat ia menyupiri pick-up dan aku duduk di belakangnya, menghadiahkanku sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
U: Dan itu kausebut romantis? Bagaimana kalau saat melempar bantal, ia tak bermaksud memberi perhatian padamu? Berlaku pula untuk yang lainnya. Kepada Mawar dan Melati pun, ia memberikan sejumlah barang-barang, bukan?
U: Kau ada benarnya juga...
W: Bagaimana dengan kehidupan keorganisasiannya? Kaitannya dengan etos kerja, kan?
U: Hmm. Ia selalu melakukan tugasnya dengan baik. Memang sih, ia sering menunda-nunda pekerjaan. Dia sering dijadikan sebagai anggota divisi dokumentasi dan ia baru gila-gilaan di beberapa hari sebelum tenggat waktu; ia bisa tidak tidur berhari-hari demi itu. Itu hal yang kubenci darinya, memperburuk kondisi dirinya sendiri saja. Sebagai seksi kebersihan, ia masih aktif meskipun sudah kelas tiga. Tetapi memang... ia termasuk senior galak, kadang berteriak di ruang makan. Ia sering menghindari hukuman dari senior saat masih menjadi junior dengan dalih mengerjakan pekerjaannya (untuk mendapat uang agar tidak merepotkan orang tuanya, katanya) tetapi saat jadi senior, ia cukup menyeramkan dalam menghukum junior. Sekali lagi, itu kata rumor...
U: Baiklah, itulah Warna yang kaukenal, dulu. Dalam kurun waktu di bawah satu tahun yang lalu. Bagaimana dengan satu tahun silam?
W: ... izinkan aku mengingat dulu. Sejak kuliah, ia memang lebih terang-terangan berkata kasar, itu yang tidak kusukai darinya. Sebenarnya tidak begitu kasar, bahkan lingkungan sekitarku saat ini boleh dibilang punya sejumlah kosakata kasar lain yang sering diucapkan; yang membuatku tidak nyaman adalah ia santai mengucapkannya di depanku padahal sebelumnya tidak pernah.
Sebelumnya, kalau kami saling menelepon dan dalam waktu satu jam mungkin hanya berbicara selama 15 menit, aku merasa biasa saja. Tetapi ketika itu terjadi di kuliah, aku merasa waktuku terbuang sia-sia. Sebenarnya ia tetap sama, sama-sama sulit bicara, namun memang... aku yang berubah.
Sebelumnya, kalau ia berlama-lama memboncengku, aku merasa nyaman saja. Ia yang membantu mengajariku mengemudi motor, dulu. Tetapi ketika itu terjadi di kuliah, aku merasa waktuku terbuang sia-sia. Sebenarnya ia tetap sama, namun memang... aku yang berubah.
Sebelumnya, saat ditanya "bagaimana Warni bisa bertahan dengan sikap Warna--yang selalu diam," ada teman-teman dekatnya yang juga teman-teman dekatku. Teman-teman yang mengerti dirinya maupun diriku. Mereka menguatkan kami, menyakinkanku kalau aku bisa bertahan. Aku menjawab, "justru yang mengherankan itu Warna. Bagaimana bisa ia bertahan denganku?"
Setelah keadaannya berubah, orang-orang di sekitarku menanyakan hal yang masih sama: bagaimana bisa aku bertahan dengannya. Aku kehilangan jawaban, karena mungkin tanpa disadari, aku tidak sanggup lagi bertahan dengan diamnya.
Semua menjadi terasa nyaman ketika dibicarakan, dikomunikasikan, dan kami kehilangan itu.
...
Ah, sebenarnya biar sudah sepanjang ini, tetap belum habis ceritaku. Dua tahun dan dua bulan mengenalnya bukanlah waktu yang singkat untuk diceritakan kembali sebagai bacaan sekali duduk.

U: Baiklah, pertanyaan terakhir. Bagaimana setelah ini?

W: Kuharap aku masih waras dan berkepala dingin untuk bisa berpikir objektif, rasional, dan logis.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri