Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan. Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini. Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut. Apakah benar akan semudah itu? Ataukah aku memang tak bisa kembali? Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa. Bagaimana jika aku tak pedul...