Posts

Showing posts from August, 2017

/Kesal/ahan, /Kekal/ahan, dan Am/arah/

/1/ Kesalahanku adalah Kesal akan kekalahanku Kemudian aku bertahan Kekal dalam kekalahanku Walau jadi lahan kewalahan /2/ Rebah Jadi marah Aku hilang arah Berdarah melawan pasrah Bernanah jadi lara Wajahmu merah merona merana Mataku biru sendu tersedu Kita putih letih bersedih Sembunyi dalam hitam padam tentram    Sandiwara kita

Aku Kering; Bawakan Air dan Akan Kutumbuhkan Bunga Untukmu

Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan. Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini. Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut. Apakah benar akan semudah itu? Ataukah aku memang tak bisa kembali? Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa. Bagaimana jika aku tak pedul...

Di Ambang Jatuhku

Dan sekarang, bagaimana bila aku jatuh? Adakah kebun bunga yang menghambatku berbenturan langsung dengan tanah? Akankah tanganmu merengkuhku ke dalam dekapanmu? Sedang aku terhuyung-huyung saat ini; Kupikir aku sebentar lagi akan jatuh, tetapi ke arah yang belum bisa diprediksi Siapa yang tidak takut jatuh? Siapapun takut terluka dan mati-- Aku juga. Tangkap aku, tolong? Atau aku yang jangan jatuh? Karena kalian hanya bermain di depanku Menikmati wahana lintasan yang kebetulan ada di depanku Dan kupikir, aku akan salah bila menjatuhkan diriku kepada seseorang yang hanya singgah untuk beranjak Tetapi kalau aku memang jatuh nantinya, Salah siapa?

Tentang Sejarah (Tulisan Random)

Ada berapa banyak orang yang telah Anda temui selama Anda hidup? Banyak, tentu banyak sekali. Di usia yang hampir menginjak 18 tahun ini, saya sendiri telah bertemu banyak orang dengan berbagai jenis. Walaupun tidak saya pungkiri, masih lebih banyak lagi jenis manusia yang belum pernah saya temui atau bahkan sekadar saya pikirkan. Akhir-akhir ini saya mulai mendekati ilmu-ilmu sejarah; berawal dari rasa penasaran seorang teman perihal kebudayaan yang berada di suatu wilayah. Hal itu membawa saya untuk mempelajari kebudayaan--dengan batasan "religi"--masyarakat di wilayah itu, sehingga saya juga perlu mempelajari sebagian sejarah yang melatarbelakangi kepercayaan masyarakat tersebut. Kemudian, dari pengalaman itu sendiri, dalam diri saya muncul pertanyaan-pertanyaan baru. Seperti, sebenarnya sejarah saya sendiri bagaimana? Saya ini orang mana, dari suku apa, ras apa; intinya mengapa saya bisa menjadi suatu entitas dengan nilai historis seperti itu? Selama ini mata saya ...

Sebenarnya, Orang Lainlah yang Memanusiakan Kita

Image
"Pemikiranmu kejauhan." "Ya nggak tahu kalau suatu saat nanti. Yang penting sekarang dijalani. Untuk apa dibuat terlalu serius?" "Pola pikir kamu aneh. Prinsip hidup kamu nggak jelas. Lantas, kamu mau seperti ini terus? Kalau saran saya sih, ubah saja. Ribet banget sih hidupmu? Saya kasihan sama cowokmu, atau orang yang deketin kamu nanti." "Aku kasihan sama kamu. Kamu menolak semua yang datang dengan pemikiran bahwa semua laki-laki itu sama. Kalau begini terus, lama-lama kamu jadi nggak peka. Kamu nggak tahu mana yang sebenarnya tulus ke kamu. Kasihan di kamu, kasihan di merekanya juga." "Sebenarnya bebas, sih. Terserah kamu." "Jangan terlalu ribet." "Ya kalau aku sih, lihat sekarang aja. Kenapa harus mikir sejauh itu." Ah. Kenapa saya jadi memikirkan omongan-omongan itu. Karena saya kembali ke 'keadaan itu'? Apakah saya merindukan menyayangi dan disayangi seseorang? Sedangkan saya tidak sia...