Aku Kering; Bawakan Air dan Akan Kutumbuhkan Bunga Untukmu

Kala aku mendengarkan lagu-lagu itu, seketika memoriku menyeruak. Tentang rumah dan keluarga yang satu lagi. Yang pernah selalu menjadi tempat untuk pulang. Tentang bagaimana kami beraktivitas bersama. Tentang kehidupan yang diajarkan.
Diri ini telah berubah. Ya, perubahan memang selalu terjadi seiring berjalannya waktu. Tetapi kupikir ini bukan perubahan yang baik, dan aku tidak sanggup kembali ke idealisme yang dulunya kuyakini.
Akankah aku mengulang siklus yang sama? Terjerembap dalam kegagalan diri, kemudian bertemu seseorang yang mampu menambatkan hati ini kepadanya. Setelah itu berpisah, hingga aku mundur, membentur tembok, dan tak bisa kemana-mana lagi. Satu-satunya jalan hanyalah pasrah sambil berdoa, kemudian aku kembali ke idealis yang kuanut.
Apakah benar akan semudah itu?
Ataukah aku memang tak bisa kembali?
Sedang aku yang sekarang bukanlah lagi sama seperti dulu. Meski takdir sama menghantamku, respons diri ini belum tentu serupa.
Bagaimana jika aku tak peduli lagi? Bagaimana jika aku semakin lebur dalam hancur?
Aku yang sekarang membenci belenggu. Padahal belenggu itulah yang menjadi pengusir resahku dahulu.
Ada belenggu yang masih melekat di kedua tanganku, yang pernah kucoba untuk lepaskan tetapi dulu aku tak sanggup. Sekarang, ketika aku cukup kuat untuk melepas, belenggu itu datang lagi dan kini mengikat leherku. Memberiku sakit sekaligus ketenangan.
Kupikir ini saatnya mencari lagu-lagu baru, agar aku tak terjerat masa lalu.
Akankah ada dirimu yang memelukku suatu saat nanti? Adakah dirimu yang menggenggamku, mendengarkan segala celotehan dan tangisku? Adakah diriku yang kembali damai seperti sedia kala?
Atau jangan-jangan, manusia memang tak pernah berdamai dengan dirinya.
Atau jangan-jangan, di sini hanya aku yang menjadi manusia dengan kriteria tersebut.
Apakah benar tidak ada jalan untuk kembali? Apakah benar tidak ada dirimu yang sanggup mengajakku mengarungi semesta supaya mampu meninggalkan mimpi di malam hari?
Setelah sekian lama kering, mampukah benih-benih ini tumbuh menjadi bunga dan pohon yang akan meneduhkanku? Menjeratku dalam sejuk?

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah