Sebenarnya, Orang Lainlah yang Memanusiakan Kita


"Pemikiranmu kejauhan."
"Ya nggak tahu kalau suatu saat nanti. Yang penting sekarang dijalani. Untuk apa dibuat terlalu serius?"
"Pola pikir kamu aneh. Prinsip hidup kamu nggak jelas. Lantas, kamu mau seperti ini terus? Kalau saran saya sih, ubah saja. Ribet banget sih hidupmu? Saya kasihan sama cowokmu, atau orang yang deketin kamu nanti."
"Aku kasihan sama kamu. Kamu menolak semua yang datang dengan pemikiran bahwa semua laki-laki itu sama. Kalau begini terus, lama-lama kamu jadi nggak peka. Kamu nggak tahu mana yang sebenarnya tulus ke kamu. Kasihan di kamu, kasihan di merekanya juga."
"Sebenarnya bebas, sih. Terserah kamu."
"Jangan terlalu ribet."
"Ya kalau aku sih, lihat sekarang aja. Kenapa harus mikir sejauh itu."

Ah.

Kenapa saya jadi memikirkan omongan-omongan itu.

Karena saya kembali ke 'keadaan itu'?

Apakah saya merindukan menyayangi dan disayangi seseorang? Sedangkan saya tidak siap. Belum siap, lebih tepatnya.
Mungkin karena bayangan di belakang yang terlalu pekat, atau cahaya di depan yang terlalu terik; saya tidak tahu ada di mana posisi saya saat ini. Pun, siapa yang ada di sekitar saya.

Krisis eksistensi.

Apakah saya masih ada?

Apakah masih ada yang menganggap saya?

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri