Posts

Showing posts from 2025

Lis: Awal dengan Ledian

Lis berangkat dengan mata yang berbinar dan hati tak gentar. Ia menyiapkan bekal dengan sebaik-baiknya: buku-buku dan kertas kosong yang bertumpuk, pena yang takkan habis tintanya, botol air, dan semangat baik. *** Atas petunjuk dari Yosua, gurunya selama 7 tahun terakhir, Lis berangkat untuk perjalanan panjang selanjutnya dengan seorang guru yang baru: Ledian. Berdasarkan cerita Yosua, Ledian telah mengembara di Negeri Barat dan Timur selama puluhan tahun. Kali ini Ledian ingin mencoba mengikuti keingintahuannya untuk menyusuri Negeri Tengah, sehingga ia mengumpulkan beberapa orang sebagai anggota kafilahnya. Mendapat kabar ini, Lis mengirim surat kepada Ledian melalui Yosua agar Ledian mengizinkannya ikut. Lis sangat ingin melihat dunia! Baginya, berpetualang bersama seseorang yang juga memiliki keingintahuan begitu besar adalah sebuah kesempatan yang tak boleh ia lewatkan. Tak disangka-sangka, Lis tak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan dari Ledian. Rupanya Ledian memang ingi...

Tidak Ada Judul

Sebutir serpih tenggelamkan duniaku Gelap, seakan ku berpindah ke dunia lain Pejam mataku sadarkan betapa cahaya memanjakanku Lupa, bahwa gelap adalah terang bagi sebagian mereka Aku tentu ingat Bahwa duniaku pernah terlukis di atas buku saku Warna dan kata merefleksikan diriku yang utuh Mengapa suara itu kuizinkan merasuki jiwaku? Nyatanya, kesendirian adalah damai yang perlu aku rengkuh

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah

Sudah satu tahun aku tidak menjejakkan kaki di bumi khatulistiwa, dan sudah hampir 2 tahun aku hidup sebagai diaspora. Jenjang studi strata 2 pun sudah hampir aku selesaikan--tinggal beberapa langkah lagi dan aku akan resmi mendapat gelar master. Pengalaman 2 tahun ini sangat unik; tentu ada baik dan buruknya, manis dan pahitnya. Aku bekerja begitu dekat dengan orang-orang yang memiliki pola pikir yang sangat berbeda denganku. Hal ini membuatku semakin menyadari apa yang menurutku benar dan salah serta baik dan buruk. Aku sangat bersyukur bahwa setidaknya di sini masih ada setidaknya dua orang dekat yang sepakat denganku atas kompas moral pendidikan. Hal yang serupa juga aku peroleh dari pekerjaanku selepas sarjana. Mungkin, jika aku tidak mendapat dukungan dari orang yang sepemikiran denganku, aku akan merasa jauh lebih berat untuk mempertahankan nilai-nilaiku. Sementara tubuh yang tidak terintegrasi; pikiran yang tidak selaras dengan ucapan dan perbuatan, adalah siksaan. Dunia ini me...

Meletakkan Sesuatu pada Tempatnya

Salah satu pelajaran kehidupan yang besar dan masih terus aku pelajari, rasanya, adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ya, pada dasarnya kita terus diingatkan untuk tidak berbuat "zalim", yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Tindakan ini bisa kita lakukan pada orang lain, makhluk lain, ataupun pada diri sendiri. Ketika kita meminjam alat tulis teman kita, sudah selayaknya kita kembalikan alat tersebut kepada pemiliknya karena di situlah tempatnya. Paku tempatnya di kotak pertukangan dan di tembok, bukan berceceran di jalan; begitu pula mobil dan motor telah disepakati untuk terparkir dengan rapi di dalam garis area parkir. Seorang ibu yang menyiapkan makanan untuk anaknya, sepantasnya meletakkan bahan makanan bergizi di atas piring saji. Seorang hakim, berdasarkan kebijaksanaannya, seharusnya meletakkan pelaku kejahatan pada hukuman yang sepantasnya dan membebaskan seseorang yang dituduh karena di situlah tempat mereka seharusnya berada. Dari beberapa contoh ini...