Meletakkan Sesuatu pada Tempatnya

Salah satu pelajaran kehidupan yang besar dan masih terus aku pelajari, rasanya, adalah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ya, pada dasarnya kita terus diingatkan untuk tidak berbuat "zalim", yaitu meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Tindakan ini bisa kita lakukan pada orang lain, makhluk lain, ataupun pada diri sendiri.

Ketika kita meminjam alat tulis teman kita, sudah selayaknya kita kembalikan alat tersebut kepada pemiliknya karena di situlah tempatnya. Paku tempatnya di kotak pertukangan dan di tembok, bukan berceceran di jalan; begitu pula mobil dan motor telah disepakati untuk terparkir dengan rapi di dalam garis area parkir. Seorang ibu yang menyiapkan makanan untuk anaknya, sepantasnya meletakkan bahan makanan bergizi di atas piring saji. Seorang hakim, berdasarkan kebijaksanaannya, seharusnya meletakkan pelaku kejahatan pada hukuman yang sepantasnya dan membebaskan seseorang yang dituduh karena di situlah tempat mereka seharusnya berada.

Dari beberapa contoh ini, aku menyadari bahwa untuk bisa meletakkan sesuatu pada tempatnya, kita perlu tahu beberapa hal, terutama: siapa, apa, di mana.

"Siapa" yang bisa meletakkan "apa", di "mana".

Kemudian berlanjut pada hal yang lebih spesifik, seperti bagaimana dan kapan sebaiknya sesuatu itu ditempatkan.

Jika aku berfokus pada "diriku" sebagai "apa" dan "siapa", maka pertanyaannya menjadi menarik: di manakah diriku seharusnya berada? Ke mana aku sebaiknya menempatkan diriku agar aku bisa menjadi sebaik-baiknya diriku?

Manusia dengan segala perannya di dunia ini, kerap kali membuatku pusing. Sudah beberapa kali aku menyangka bahwa aku seharusnya ada "di mana", tetapi ternyata bukan itu yang ditakdirkan buatku.

Aku menyadari bahwa berubah dan berpindah adalah suatu hal yang niscaya, maka peletakan diri ini bisa jadi memang terikat waktu. Saat ini, tempat inilah yang terbaik buatku, dan bisa jadi besok berbeda lagi. Lalu apa yang membuatku merenungkan hal ini?

**

Ada hal yang agaknya belum bisa aku terima. Ada hal yang belum aku tahu jawabannya. Begini. Letak kita di masyarakat--di dunia... itu.. spektrum yang tidak jelas batasnya.

Aku belum tahu di manakah aku bisa memberikan kontribusi yang terbaik. Aku takut melangkah. Aku takut meletakkan diriku dalam sebuah lingkungan yang tidak baik buatku.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri