Posts

Showing posts from April, 2020

Minggu Paskah 2019

Kita takkan pernah tahu seberapa bermakna kehadiran kita terhadap kehidupan orang lain. Tulisan ini aku persembahkan kepada seorang teman yang potongan hidupnya pernah kutuliskan dalam tulisan lama. Kemarin Jumat Agung, besok Minggu Paskah. Hari ini aku di rumah saja, berbeda dengan tahun lalu. Pada hari Jumat Agung tahun lalu, aku datang ke sebuah tempat yang kukunjungi setiap Jumat malam. Malam itu, aku tidak ditemani teman-temanku. Aku datang sendirian. Selesai acara, aku memberanikan diri untuk mengobrol lebih dalam dengan Mas Bram. Ya, sebelumnya, aku pernah menceritakan diriku dan meminta saran kepada Mas Bram dan beberapa orang yang waktu itu ikut mendengarku. Namun, malam itu, Mas Bram mengarahkanku untuk mengobrol dengan Romo Totok. Romo Totok pernah mempelajari hipnoterapi dan sepertinya beliau bisa memberiku arahan dengan lebih baik. Di tepi ruangan, aku mengobrol dengan Romo Totok. Aku menceritakan kondisiku dan pemikiranku. Saat itu, ada satu orang lagi yang iku...

Sepotong Tempe di Atas Nasi

Aku lupa rasanya sembuh Obat-obatan selalu mengingatkanku bahwa aku sakit Terkadang aku merasa sudah baik-baik saja Nyatanya tidak Apa perbedaan baik-baik saja dengan tidak baik-baik saja? Aku menyakiti seseorang lagi hari ini Dua orang, jika ditambah dengan diriku sendiri Apakah perasaan ini sedih, gusar, gulana Apakah aku tengah memberi makan emosi negatifku Kalau aku melakukan itu, apakah artinya aku tidak sadar? Aku sadar Aku sadar penuh Aku bisa mengendalikannya, tetapi, untuk apa? Aku kehilangan alasan untuk tidak melakukannya Mungkin nilai-nilaiku yang telah habis dilahapnya Akal sehatku yang telah bersih disisihkan Yang tidak menangis belum tentu lebih baik Kita sekarat setiap hari Apakah aku bisa kembali, atau justru pergi

Swadiagnosis

Kurasa ini bukan lagi Soal efek samping boti Yang kuminum setiap hari Kurasa ini bukan keracunan Tablet dan kapsul yang kutelan Setiap pagi dan malam Melainkan peringatan alami Psikosomatis yang menggigit Napasku sering hampir habis Berbunyi ketika udara ditarik Ia mulai merambat ke siang hari Bergantian dengan kepalaku yang melayang Juga dengan tubuhku yang melemas Lalu diikuti pandangan yang mengabur Bukan sekali kuingin akhiri Menelan 20 butir dalam sekali Atau lebih Takaran untuk pergi, belum kuketahui Atau memperdalam sayat Di bagian yang tepat Atau melompat Tanpa rencana mendarat "Itu harusnya tidak ada. Sudah ada obat antinya." Tawaku tanggung jawabku Tangisku urusanku Orang lain tetaplah orang lain Aku sendiri Siapa yang mengerti? Percuma

Untuk Seseorang yang Mungkin Tidak Akan Membaca Ini

Aku sedang ingin meluapkan emosiku. Aku butuh pelampiasan, dan kali ini aku memutuskan ingin melampiaskan kepadamu yang telah meninggalkanku, baik secara raga maupun perasaan. Mungkin kamu tidak akan membaca ini. Aku tidak peduli. Tulisan ini pun tidak akan mengubah apapun, tidak hidupku maupun hidupmu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita yang sudah retak, tapi aku sangat ingin melampiaskannya karena aku tidak jadi melakukannya ketika kita masih bisa bertemu. Ah, aku jadi ingat. Seseorang juga pernah melakukan ini kepadaku. Seseorang yang kutinggalkan karena aku memutuskan ingin bersamamu. Seseorang yang terus menungguku dan kini aku memutuskan dengannya karena berbagai alasan. Kembali kepadamu. Yang tiba-tiba membuatku terdiam. Kehabisan kata-kata. Belum sempat aku luapkan emosiku kepadamu, aku sudah kehabisan ide untuk mengataimu. Nyatanya aku tidak sebenci itu kepadamu. Entahlah. Perasaan bercampur aduk. Kamu adalah orang yang menyebalkan. Datang, berusaha membuatku memilih...

Pulang ke Rahim Ibunya

Beberapa potong lirik dari lagu Jason Ranti, "Pulang ke Rahim Ibunya": Lisa berhenti hidup, tapi tak juga mati Ia merasa redup semua mimpinya mati Lisa pergi ke gunung, ia merasa murung Ia pergi ke Tuhan, ia tak kenal Tuhan Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya // Lisa ingin sekali belajar filosofi Sedikit ilmu hidup, sedikit teologi Lisa matanya buram mungkin hatinya suram Ia mulai bertanya untuk apa di sini Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya // Lisa tinggal di kamar, ia menolak sadar Ia belajar kini tiada yang pasti Lisa berjalan limbung mungkin hatinya bingung Ia terus meracau dengan suara parau Ia buat rencana pulang ke rahim ibunya Lisa buat rencana pulang ke rahim ibunya //