Minggu Paskah 2019

Kita takkan pernah tahu seberapa bermakna kehadiran kita terhadap kehidupan orang lain.

Tulisan ini aku persembahkan kepada seorang teman yang potongan hidupnya pernah kutuliskan dalam tulisan lama.

Kemarin Jumat Agung, besok Minggu Paskah. Hari ini aku di rumah saja, berbeda dengan tahun lalu. Pada hari Jumat Agung tahun lalu, aku datang ke sebuah tempat yang kukunjungi setiap Jumat malam. Malam itu, aku tidak ditemani teman-temanku. Aku datang sendirian. Selesai acara, aku memberanikan diri untuk mengobrol lebih dalam dengan Mas Bram. Ya, sebelumnya, aku pernah menceritakan diriku dan meminta saran kepada Mas Bram dan beberapa orang yang waktu itu ikut mendengarku. Namun, malam itu, Mas Bram mengarahkanku untuk mengobrol dengan Romo Totok. Romo Totok pernah mempelajari hipnoterapi dan sepertinya beliau bisa memberiku arahan dengan lebih baik.
Di tepi ruangan, aku mengobrol dengan Romo Totok. Aku menceritakan kondisiku dan pemikiranku. Saat itu, ada satu orang lagi yang ikut mendengar pembicaraan kami--Putra namanya. Ia tak bicara sepatah kata apapun, sehingga aku tidak keberatan bila ia mendengarku bercerita banyak. Di tengah-tengah obrolan kami, aku kumat. Aku tidak kuat melihat wajah Romo Totok dan Mas Putra. Badanku bergetar; aku begitu cemas dan takut. Romo Totok membimbingku untuk melakukan meditasi cinta kasih yang baru saja beliau ajarkan kepadaku. Pelan-pelan, akhirnya aku mulai tenang dan bisa kembali menatap wajah mereka.
Setelah beberapa lama, Mas Putra mulai berbicara. Ia berkata bahwa ia memahamiku dan ingin berbagi cerita denganku. Karena malam itu aku sudah hendak pergi, kami bertukar nomor Whatsapp. Kami pun janjian untuk bertemu dan berbagi cerita di hari yang lain: Minggu Paskah. Kami akan bertemu di tempat itu lagi.
Pada hari Minggu Paskah, pukul 7.30 WIB, aku telah tiba di tempat itu. Mas Putra agak terlambat karena ia telat bangun. Kami mengobrol berdua di bangku dekat rak helm tempat itu. Mas Putra memulai pembicaraan dengan menceritakan bahwa dirinya memiliki pengalaman dan pemikiran yang serupa denganku. Namun, ia sudah melewati pengalaman itu, sehingga ia ingin membagikannya kepadaku.
Di tengah-tengah obrolan, Romo Totok datang. Kami menyapanya dan sempat berbincang bertiga. Setelahnya, Romo Totok meninggalkan kami karena beliau memang hanya datang untuk menjemput istri dan anaknya. Aku dan Mas Putra mengobrol lagi, melanjutkan cerita masing-masing. Aku merasa senang mengobrol dengannya. Kami jadi bukan hanya membicarakan masalah yang kami alami, melainkan juga pengalaman hidup masing-masing. Bahkan ternyata ia habis mengalami kisah yang sama dengan orang yang pernah kusakiti. Cerita itu membukakan sudut pandang yang berbeda. Aku pun meminta maaf kepadanya, karena aku pernah mengalami kisah serupa, dari sudut pandang orang yang menyakiti.
Tak terasa, kami mengobrol hingga siang hari. Seseorang datang membawa makanan dan mengajak kami untuk ikut makan. Aku menolak, tetapi ia mendesak kami untuk ikut makan. Akhirnya kami makan bersama orang-orang yang belum kukenal sebelumnya. Kalau tidak salah, waktu itu ada sekitar 5-6 orang yang makan bersama, termasuk kami. Latar belakang agama kami semua berbeda-beda, kami berdoa dengan cara masing-masing, lalu makan bersama. Kami saling bercerita dan bertanya tentang kehidupan beragama masing-masing. Siang itu, aku merasa sangat damai dan senang.
Setelah selesai makan, kami mencuci piring kemudian kembali mengobrol. Aku menceritakan sebuah film yang seru. Mas Putra menceritakan sebuah buku yang bagus. Akhirnya, Mas Putra kembali ke kosnya untuk mengambil laptop supaya bisa meminta filmku. Ia juga mengambil bukunya untuk dipinjamkan kepadaku. Setelah Mas Putra kembali dan transaksi kami selesai, berakhir pula pertemuan kami pada waktu itu. Mas Putra mengantarku pulang. Seingatku, kami berpisah dengan kata-kata "sampai jumpa". Aku memang merasa senang berkenalan dengannya dan ingin mengobrol lebih banyak lagi. Aku merasa senang karena aku mendapat teman baru yang nyambung. Selain itu, aku menduga bahwa dirinya kesepian. Faktanya, adanya suatu permasalahan membuat dia "sendirian", waktu itu. Aku berharap, dengan adanya aku sebagai temannya, ia tidak sendirian lagi.
Lima hari kemudian, ia mengabariku bahwa dirinya telah diterima kerja di Jakarta Utara. Aku terkejut. Ketika mengabariku, ia sudah di kereta, dari Yogyakarta menuju Jakarta. Katanya, simpan saja buku yang ia pinjamkan sebagai kenang-kenangan. Aku merasa kehilangan. Bayangkan saja, baru saja aku senang karena punya teman baru, ia langsung pergi. Setelahnya, kami jarang berkomunikasi karena memang kami tidak sedekat itu. Hanya beberapa kali aku tiba-tiba menghubunginya dan menanyai kabarnya, memastikan bahwa dia baik-baik saja (masih hidup dan beraktivitas).
Kurasa, tulisan ini sangat datar. Aku memang tidak ingin menceritakan obrolan kami secara mendalam di sini, cukup kusimpan di dalam ingatanku. Meski kurasa ia takkan membaca tulisan ini, aku tidak mau membuka kisahnya sembarangan. Aku hanya ingin ia tahu bahwa aku senang telah mengenalnya dan mendengar ceritanya; bahwa aku peduli kepadanya dan aku berharap ia kian sehat serta membaik. Aku ingin mengucapkan terima kasih banyak kepadanya. Perkenalan kami adalah salah satu momen berharga di tahun 2019 yang akan kuingat sebagai tahun yang penuh dengan rasa sakit. Semoga ia berbahagia. Semoga aku berbahagia. Semoga kamu berbahagia. Semoga semua makhluk berbahagia.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri