Untuk Seseorang yang Mungkin Tidak Akan Membaca Ini

Aku sedang ingin meluapkan emosiku. Aku butuh pelampiasan, dan kali ini aku memutuskan ingin melampiaskan kepadamu yang telah meninggalkanku, baik secara raga maupun perasaan. Mungkin kamu tidak akan membaca ini. Aku tidak peduli. Tulisan ini pun tidak akan mengubah apapun, tidak hidupku maupun hidupmu. Aku tidak ingin merusak hubungan kita yang sudah retak, tapi aku sangat ingin melampiaskannya karena aku tidak jadi melakukannya ketika kita masih bisa bertemu.
Ah, aku jadi ingat. Seseorang juga pernah melakukan ini kepadaku. Seseorang yang kutinggalkan karena aku memutuskan ingin bersamamu. Seseorang yang terus menungguku dan kini aku memutuskan dengannya karena berbagai alasan.
Kembali kepadamu.
Yang tiba-tiba membuatku terdiam. Kehabisan kata-kata. Belum sempat aku luapkan emosiku kepadamu, aku sudah kehabisan ide untuk mengataimu. Nyatanya aku tidak sebenci itu kepadamu. Entahlah. Perasaan bercampur aduk. Kamu adalah orang yang menyebalkan. Datang, berusaha membuatku memilihmu, mencanduiku, mengaku sakau kepadaku, lalu pada akhirnya kamu pergi begitu saja lantaran perasaanmu telah hilang kepadaku. Ah, apakah memang aku orang yang membosankan? Trauma itu datang lagi. Goddammit.
Sekarang kamu dengan yang lain. Aku juga. Aku sudah diceritakan sebuah kabar yang tidak menyenangkan, tentangmu dan seseorang yang kucemburui sejak awal kamu berinteraksi dengannya. Ya, aku memang lebih mudah cemburu dibandingkan seseorang yang mendampingimu saat ini. Aku memang lebih beracun dibandingkan dirinya. Hidupku penuh dengan drama yang belum bisa kuatasi hingga saat ini. Dan sekarang aku menangis ketika menuliskan ini. Aku sedih karena merasa diriku sangat buruk. Aku bisa membayangkan, kamu mencoba membuatku tidak merasa begitu murung, dengan upaya sebisamu. Semampumu.
Ah, aku jadi membanding-bandingkan diriku dengan orang lain.
Dan sialan, aku ingin melukai sesuatu saat ini. Ya, aku marah. Ya, aku kecewa. Ya, aku sedih. Aku mengakui perasaan-perasaan itu. Tapi, mau sampai kapan aku bercengkrama dalam perasaan-perasaan itu? Padahal, menurut tebakanku, kamu tidak peduli lagi. Kamu tidak memikirkannya lagi. Ketika kamu senang dengan kemajuanku, aku percaya kesenangan itu tulus. Tapi kamu tentu punya batas kelelahan.
Aku beracun. Aku meracuni orang-orang di sekitarku. Orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. Bersama tapi meracuni, untuk apa?
Kamu juga mengakuinya. Dia dan dia pun mengakuinya. Lalu kamu bilang, aku masih punya hal-hal yang memberi makna dalam kehidupan orang-orang lain. Aku punya talenta, dunia punya kebutuhan, waktu mempertemukan aku dengan dunia. Itulah hal yang menjadikan diriku, dirimu, dan semua manusia lainnya berarti.
Padahal kita tercipatakan tanpa makna--setidaknya itu yang aku percayai.
Semoga kamu tenang, damai, dan berbahagia dengan hidupmu yang sekarang. Semoga aku juga.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri