Posts

Showing posts from July, 2018

Menulis Surel kepada Diri Sendiri

Jemariku beradu dengan sejumlah tombol yang terhampar di atas lapisan logam penutup mesin komputer lipat yang bukan milikku. Sudah lama sekali tidak melakukan ini; ah, aku rindu. Apa yang kulakukan? Sebetulnya, aku ingin mencoba menyelami diriku sendiri lagi. Sejauh ini, cara termudahku untuk berbicara dengan diri sendiri adalah dengan menuliskan setiap percakapan di dalam diriku. Menokohkan setiap peran di dalam kepalaku dengan memberinya nama. Mewujudkannya menjadi sebuah sosok agar mudah diidentifikasi. Aku pernah menjadi Kaku. Kemudian kunjungan rutinku ke Pohon melahirkan sesosok baru dalam diriku, Warni, yang selalu menentang apa yang selama ini Kaku pegang sebagai acuan hidup. Dimensi pikiranku pun penuh dengan pergelutan; selama ini ia lelah atas pertanyaan dan kemudian muncul peperangan antara Warni dan Kaku. Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari luar yang terus mendukung atau menentang kedua sosok itu, tentu kekalutanku semakin dalam. Pertikaian Kaku dan Warni mem...

Rendezvous

Aku akhirnya datang lagi. Ke depan pintu ruangan itu, aku datang dengan tangan hampa. Perlahan, kuketuk pintu yang menghadangku masuk ke dalamnya. Tidak ada jawaban. Mungkin mereka enggan menyambutku yang telah lama mengunci mereka di dalam ruangan itu. Atau mungkin mereka telah melupakanku. Atau jangan-jangan, mereka sudah mati. Ah, benarkah? Berhenti berasumsi, saatnya masuk. Kuputar gagang pintu yang telah berkarat itu. Sedikit demi sedikit, daun pintu terbuka, membiarkan udara kering di tempatku memasuki celahnya, menuju ruang gelap dan lembap. Pandanganku jatuh kepada kekosongan. Aku tidak melihat siapa-siapa di sana. "Warni?" Entah mengapa, nama itulah yang pertama kali kupanggil. Tidak ada jawaban. "Kaku?" Nama berikutnya dan tetap tidak ada jawaban. "Ini aku, Mirat. Mirat yang kosong tanpa bayangan, karena tidak ada apapun di hadapannya. Tidak ada kalian." Sahutku kembali. Lamat-lamat, aku mendengar jawaban. "Mengapa kembali ke si...

Ibu, Anakmu Bukan

Ibu, anakmu bukan lagi anakmu Sebab telah ia putus Hubungan yang katamu mengeluargakan Ia memohon maaf Atas segala ketidakjujuran Yang selama ini menghidupkannya Dari kejemuan hidup yang mengherankan Ia harus melakukan itu Ibu, anakmu bukan lagi putri yang kaukenal Sebab telah ia putar haluan pola pikirnya menjauhimu Ia telah pergi Meski raganya di sisimu (Yogya, 2018)