Rendezvous
Aku akhirnya datang lagi.
Ke depan pintu ruangan itu, aku datang dengan tangan hampa. Perlahan, kuketuk pintu yang menghadangku masuk ke dalamnya. Tidak ada jawaban. Mungkin mereka enggan menyambutku yang telah lama mengunci mereka di dalam ruangan itu. Atau mungkin mereka telah melupakanku. Atau jangan-jangan, mereka sudah mati. Ah, benarkah? Berhenti berasumsi, saatnya masuk.
Kuputar gagang pintu yang telah berkarat itu. Sedikit demi sedikit, daun pintu terbuka, membiarkan udara kering di tempatku memasuki celahnya, menuju ruang gelap dan lembap. Pandanganku jatuh kepada kekosongan. Aku tidak melihat siapa-siapa di sana.
"Warni?" Entah mengapa, nama itulah yang pertama kali kupanggil. Tidak ada jawaban.
"Kaku?" Nama berikutnya dan tetap tidak ada jawaban.
"Ini aku, Mirat. Mirat yang kosong tanpa bayangan, karena tidak ada apapun di hadapannya. Tidak ada kalian." Sahutku kembali. Lamat-lamat, aku mendengar jawaban.
"Mengapa kembali ke sini?"
Oh, aku bahkan tidak mengenali suara siapakah itu. Suara itu setegas Kaku, namun seserak Warni. Apa yang telah terjadi di dalam ruangan ini? Berapa lama aku telah pergi? Berapa lama aku telah kosong. Karena aku hanya merefleksikan; aku adalah ketiadaan tanpa apapun di depanku.
"Aku mencari jawaban," ucapku.
"Kau tahu kau takkan menemukannya di sini."
"Jawabanku adalah pertanyaan."
Suara itu tidak terdengar lagi. Apakah aku ditolak? Kuakui bahwa akulah yang membuang mereka ke dalam ruangan ini. Membiarkan Pohon menjadi kenikmatan yang bisa kunikmati seorang. Kunyatakan bahwa aku pun tak mengerti mengapa kembali ke sini.
"Kupikir ada yang perlu kita bicarakan," lanjutku. Tetap tidak ada jawaban. "Kamu siapa?"
"Aku adalah kamu, Mirat."
Sosok itu muncul dari kegelapan. Berpendar dengan sangat aneh. Aku tidak mengenalinya.
"Kemana Warni? Kaku?"
"Mereka tidak kemana-mana. Mereka tetap di sini. Sejak awal, tidak ada yang terkubur di dalam ruangan ini. Warni adalah aku. Kaku juga aku. Kemudian aku adalah kamu. Mirat, kita adalah satu. Kau ingin bicara dengan siapa?"
Aku menelan ludah.
"Ah, bukan, kupikir yang kaubutuhkan sekarang adalah: kau ingin bicara tentang apa?" Tukasnya.
"Aku ingin bicara tentang pertanyaan-pertanyaan kita yang telah lalu."
Comments
Post a Comment