Menulis Surel kepada Diri Sendiri
Jemariku beradu dengan sejumlah tombol yang terhampar di atas lapisan logam penutup mesin komputer lipat yang bukan milikku. Sudah lama sekali tidak melakukan ini; ah, aku rindu.
Apa yang kulakukan? Sebetulnya, aku ingin mencoba menyelami diriku sendiri lagi. Sejauh ini, cara termudahku untuk berbicara dengan diri sendiri adalah dengan menuliskan setiap percakapan di dalam diriku. Menokohkan setiap peran di dalam kepalaku dengan memberinya nama. Mewujudkannya menjadi sebuah sosok agar mudah diidentifikasi.
Aku pernah menjadi Kaku. Kemudian kunjungan rutinku ke Pohon melahirkan sesosok baru dalam diriku, Warni, yang selalu menentang apa yang selama ini Kaku pegang sebagai acuan hidup. Dimensi pikiranku pun penuh dengan pergelutan; selama ini ia lelah atas pertanyaan dan kemudian muncul peperangan antara Warni dan Kaku.
Ditambah lagi dengan adanya tekanan dari luar yang terus mendukung atau menentang kedua sosok itu, tentu kekalutanku semakin dalam.
Pertikaian Kaku dan Warni membuatku mencoba melahirkan sosok baru: Mirat. Ia netral, ia hanya akan menjadi apa yang direfleksikannya. Mirat mengajak Warni dan Kaku berbincang. Aku lupa bagaimana hasilnya, sebab yang kuingat, setelahnya, aku mencoba melepaskan diri dari segala pertanyaan tak berujung di kepalaku dan sosok-sosok di dalam pikiranku itu.
Warni. Kaku. Mirat.
Aku kemudian menjalani kehidupan dengan damai tanpa pertanyaan-pertanyaan itu. Tanpa pertikaian itu. Tetapi dalam suatu malam-malam tertentu, kepalaku menjadi pening, aku meracau tak menentu, melukai diriku sendiri, menangis, dan merasa bingung sendiri. Tanpa sebab yang jelas.
Berbulan-bulan telah kulewati masa-masa itu, sampai kembalilah aku pada pertanyaan lagi: apakah memang seharusnya seperti ini? Sampai kapan aku akan terus begini?
Dalam perjalanan kehidupan yang hampa itu, aku bertemu dengan sejumlah orang. Berdiskusi. Hingga akhirnya beberapa hari belakangan, timbul keinginan untuk kembali menata pikiranku tanpa harus menunggu waktu yang sebelumnya kutetapkan. Aku ingin menjadi sebuah entitas yang jelas. Entitas yang dibentuk atas keputusanku sendiri.
Bagiku, memutuskan untuk membuat keputusan sendiri adalah hal di luar zona nyamanku. Tetapi kupikir inilah saatnya, karena aku akan menjalani kehidupan yang membingungkan ini sebagai diriku.
Aku telah mencoba mengetuk kembali pintu ruangan berisikan Kaku dan Warni, sebagai seorang Mirat. Namun, kujumpai mereka tak ada. Mereka telah berubah. Kusadari bahwa melakukan sesuatu atau tidak, akan ada perubahan di dalam diriku. Aku tidak melakukan apa-apa dan sesuatu di dalam diriku telah berubah.
Sekarang, aku harus mulai darimana?
Kembali
Langkahku terhenti
pada pertanyaan
Tetapi hatiku tak selemah dulu
Bukan semoga;
Harus!
(Sleman, Juli 2018)
Comments
Post a Comment