Posts

Showing posts from 2016

Pesan Akhir Tahun

Barangkali setelah tahun berganti, Warni perlu lebih bersabar. Satu. Bersabarlah menunggu waktu yang ditentukan untuk bertemu (kembali) dengan Warna. Sembari menunggu, Warni, kau bisa memikirkan dengan jernih apa yang ingin kausampaikan. Susun semua pemikiran secara tersistematis; gunakan logika dan singkirkan sejenak perasaanmu itu. Diskusikan dengan jelas dan tanpa emosi. Jangan lupa berdoa supaya diberi kelancaran, yakinlah bahwa apapun jalan keluarnya nanti, itu semua merupakan takdir-Nya. Dua. Bersabarlah atas hatimu yang mulai bertanya-tanya tentang perasaanmu terhadap-"nya". Yang kaukenal di bawah Pohon. Ingatlah bahwa perasaan perlu dibekali logika, Warni. Meski terkadang, kehadiran logika melukai perasaan, sementara hanya waktu yang mampu menyembuhkan perasaan. Datang darimanakah perasaan itu? Mengapa perasaan itu timbul? Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Dan, bagaimanakah sebaiknya menyikapi perasaan itu? Renungkanlah. Tiga. Bersabarlah dalam belajar, te...

Menyapamu

Di tengah kebimbangan hati ini, sungguh, saya rindu kamu, wahai saudariku. Kamu yang selalu tersenyum dalam kesederhanaanmu. Tertawa riang ketika orang-orang iba melihat pahit kehidupan yang mesti kautelan. Membantu orang lain meski dirimu tak sedang dalam kemudahan. Tutur katamu melipur lara orang-orang di sekitarmu. Saudariku, kamu inspirasiku. Memori adalah prasasti yang kita ukir bersama. Ingat canda tawa ketika kita mendendangkan laguku dan lagumu? Ingat sajak-sajak alam semesta yang kata-katanya kita rajut bersama? Ingat bintang jatuh yang kita saksikan bersama subuh itu? Ingat ketika aku bercerita dan kauhanya sanggup mendengar lalu tersenyum, begitu pula ketika dirimu yang bercerita. Dan ingatkah ketika hari terakhir kebersamaan kita; tak satupun dari kita sanggup berkata-kata. Hanya kerlingan air mata yang sanggup berbicara tentang semua yang kita lewati dan yang akan kita lewati. Peluk hangat itu menjadi satu-satunya ekspresi yang mampu kita ungkapkan. Kini semua t...

Lepas Landas

Image
Di bandara, nama-nama dipanggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku juga Di hatiku, namamu aku panggil Orang datang dan pergi Berjumpa dan berpisah Silih berganti Aku tetap Perjalanan Selalu demikian Relakan Dan melangkah ke depan

Kabar Hari Ini

"Hei, Warni. Ada apa denganmu? Kautampak bahagia; bukankah begitu, hmm?" Ia mematung, menatap mataku dengan tatapannya yang kosong. Dua puluh tiga milisekon kemudian, tawa tanpa suaranya meledak. Entah apa maksud tawa itu. Aneh sekali. Baru dua hari yang lalu, kondisinya tidak keruan. Pikirannya acak amburadul, bicaranya tak jelas, kerjaannya melontarkan pertanyaan ini-itu dan bercerita tentang alur penuh lubang. Hari ini, sejak tadi pagi tepatnya, Warni berubah 180 derajat. Ia sudah tertawa seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Padahal tidak ada yang betul-betul ia lakukan untuk menolong pikirannya yang kacau itu. Yah, kuucapkan selamat sajalah padamu. Karena keresahanmu merepotkan banyak orang, semoga seterusnya bahagia.

Soal Hak

Image
Manusia sering meresahkan hal-hal yang belum terjadi dan belum tentu terjadi. Berpikirlah secukupnya. Karena masa depan ialah jawaban atas tanya yang tak akan pernah bisa ditembus oleh manusia. Bosan, jenuh, suntuk, seringkali hinggap di kehidupan. Membuat semua terasa hambar. Bersyukurlah. *** Sebenarnya karya dalam gambar di atas merupakan dekorasi pameran seni rupa The Art of Nguwongke #1 yang berlokasi di Taman Budaya Yogyakarta. Pameran yang dilaksanakan pada 15-22 Desember 2016 ini diselenggarakan dalam memperingati Hari Hak Asasi Manusia tempo hari. (Baca http://krjogja.com/web/news/read/18320/15_22_Desember_Jangan_Lupa_The_Art_Of_Nguwongke_1) --- Hak Asasi Manusia saja diperingati, mengapa tidak ada peringatan Kewajiban Manusia? Sebegitu hebatkah manusia sampai tidak perlu diingatkan untuk selalu menjalankan kewajibannya? Hak dan kewajiban berjalan beriringan. Dengan melaksanakan kewajiban dalam peran yang kita pegang, hak-hak orang lain...

Cita, Cinta, Cita-cita

Mungkin sudah saatnya bagi saya untuk kembali ke dunia nyata. Akhir tahun, saatnya tutup buku. Mari tata ulang pikiran yang telah lama dibiarkan berantakan. Demi menyembunyikan diri, saya sampai sempat lupa bahwa menulis bukan hanya ladang ekspresi emosi, tetapi juga sarana meruntut gagasan. Tahun 2016 akan berakhir dalam waktu dekat. Bicara soal pergantian tahun, sebagian orang yang melakukannya biasanya akan membuat resolusi, tentang apa yang ingin dicapai selama satu tahun ke depan atau lebih, dan sebagainya. Tujuan dan target cenderung lebih mudah dirumuskan apabila seseorang memiliki motivasi hidup. Setiap orang mempunyai motivasinya sendiri dalam menjalani hidup, tergantung pada prinsip-prinsip kehidupan yang dipegangnya. Sejatinya pembentukan manusia merupakan perjalanan yang ditempuh seseorang untuk menemukan prinsip-prinsip yang menurutnya benar, dan tak jarang perubahan pola pikir terjadi seiring perjalanan. Saya sendiri sebelumnya berprinsip bahwa tak masalah jika tidak...

Yang Hidup yang Mati

Semalam saya menonton penampilan teater yang merupakan adaptasi cerpen "Hidup atau Mati" karya Rabindranath Tagore. Sebelumnya saya belum mengenal sastrawan India ini, apalagi membaca karya-karyanya. Ini merupakan kali pertama saya menyaksikan karya R. Tagore yang telah diadaptasi mahasiswa kampus sebelah. Ceritanya tentang seorang wanita yang telah mati, dan mayatnya dijaga oleh enam orang. Kemudian mayat itu hidup kembali, namun sayangnya, saat itu enam orang tadi lalai sehingga wanita itu pergi. Supaya tidak disalahkan, enam orang itu memutuskan untuk membohongi orang-orang dengan mengatakan bahwa mereka telah membakar mayat wanita itu. Maka apabila wanita itu muncul, semua orang akan menganggapnya hantu. Singkat cerita, benar saja; ia seperti orang mati di tengah-tengah yang hidup. Sampai pada akhirnya ketika ia bertemu keponakan yang dicintainya, semua orang masih saja menganggapnya sudah meninggal. Ironisnya, untuk membuktikan dirinya masih hidup, wanita itu sampai men...

Karena Terkadang Cerita Memang Tak Pernah Berakhir, Selalu Tersambung di Tiap Aksara.

Ahahahaha Ahahaha Ahaha Aha A Ap Apa Apa yang Kulakukan? Kulaku Kula Ku K Ke Kem Kemba Kembali Menjadi Seperti Waktu itu Waktu Wak Wa Wal Walau Kutahu Ini salah Iya, salah Iya, mestinya, Mestinya tak begini Mestinya tak Mestinya Mesti Mes M Ma Maa Maaf. Maaf...

Telanlah Buah Sepi yang Kautanam Sendiri, Warni

Warni, Lihatlah dirimu. Begitu tak stabil, rapuh, mudah sekali jatuh. Apa yang kaukejar kalau sudah seperti ini? Kekosongan di hatimu itu, padahal kautahu sebabnya. Tetapi mengapa masih tak kauatasi juga? Kau justru diam, menunggu uluran tangan, berharap penantianmu diakhiri datangnya seseorang ke hadapanmu. Mau sampai kapan bermimpi? Ah, iya, aku lupa kalau kau hidup di alam imaji. Makanya bermimpi saja kerjaanmu. Bukan begitu? Hei, Warni, Sepi sekali malam ini, bukan? Baik langit yang lengang, pun hatimu yang tak tenang. Baru saja petang kemarin, dan kemarinnya lagi, kau kesenangan sendiri karena tak duduk di belakang Pohon sendirian. Malam ini, justru pikiranmu kembali kacau. Merapal mantra mengundang orang. Padahal, tak guna.

Dia, Dirinya, dan Senja Emas [2]

Tujuh menit sebelum matahari benar-benar menyingkir dari langit. Seorang lelaki mengisap sebatang rokok terakhirnya. Ujungnya digerogoti api kecil yang hendak menyaingi merah mentari sore itu. Sedikit demi sedikit, rokok itu habis, menyisakan abu yang kemudian lenyap diterbangkan deru angin pantai. Lelaki itu memeluk kedua kakinya dengan tangan kiri, sedang jemari tangan kanannya masih menjepit rokok yang semakin pendek itu. Matanya mengarah ke laut, tetapi sesungguhnya dia tidak menatap apa-apa. Seolah bisu, mulutnya terkunci karena memang tidak ada seorangpun di sekitarnya untuk diajak bicara. Lelaki itu sendirian, hanya sepi yang telah menemaninya sejak beberapa bulan terakhir. Tidak ada lagi yang tersisa. Hanya ada dirinya, dan-- Sudahlah! Diluruskannya kedua kaki yang menapak pasir itu, kemudian dia berdiri. Melangkahkan kakinya, menyusuri pantai mengikuti irama ombak yang berdebur. Seratus dua detik berlalu. Ia sadar, ada yang mengikutinya. Sebuah bayangan terus berada ...

Dia, Dirinya, dan Senja Emas [1]

Image
Senja itu--langit mengalami transisi warna lantaran mentari mengucap selamat tinggal pada hari dengan kilaunya. Kilau emas yang memesona dan tidak biasa. Meminta untuk diabadikan dalam untaian kata-kata dari para pujangga. Namun, justru seseorang hanya diam saat itu. Ia sosok yang termenung kala senja. Ia tak tertarik mendengar suara kepak sayap burung yang beterbangan pulang menuju sarangnya. Ia tak berminat menatap awan berarak yang mengiringi kepergian mentari. Ia tak peduli meski gejala senja sedang indah-indahnya kala itu. Tak ia acuhkan segala hal. Ia sosok yang sedang menipu diri dengan menjadi abai terhadap sekitarnya. Sesuatu telah mengusiknya. Sesuatu yang telah datang dan terus berada di sisinya, tetapi kemudian menghilang seiring senja. Bukan, ini bukan soal kekasih hati. Bukan pula soal keluarga, teman, bahkan lawan. Ini hanya tentang dirinya kala senja. Tentang ia dan tujuh menit sebelum senja berakhir. Empat ratus dua puluh detik sebelum lembayung berangsu...

Untuk yang Sedang Berjuang

Warni ingin bicara. Setelah lepas dari Warna, rasanya Warni betul-betul berjalan sendirian. Dalam perjalanannya, berkali-kali ia terantuk batu, menabrak dahan. Bukannya menuju jalan yang lebih terang dan terbuka, Warni justru berjalan menuju belantara di belakang Pohon. Di tengah perjalanan, sayup-sayup Warni mendengar suara: kembalilah . Suara yang memanggil dirinya dengan nada aneh. Menggetarkan, tetapi tak menggerakkannya untuk berbalik arah barang sekalipun. Sampai saat ia tak sengaja menapak tanah yang rapuh; Warni jatuh! Ia menggelinding di tanah yang curam, tak terhentikan; jauh menuju jurang yang dalam. Gelap. Dingin. Namun, menenangkan. Aneh. Warni berjalan menyusuri kegelapan jurang itu. Rupanya ia tak sendirian di sana. Ada beberapa teman yang pernah ia temui di sekitar Pohon. Mereka diam, tak saling bicara. Hanya menatap dinding batu yang terjal dan hampir mustahil untuk dipanjat. Melihat mereka seperti itu, justru menimbulkan keinginan bagi Warni untuk naik. Kembal...

Terali

Image
Melangkah Dengan kaki dirantai Merebah Dengan duri di lantai Menebas Jerjak yang ditanam di jalan Meretas Sandi yang mengunci ucapan Memandang Panorama yang terhalang terali Menyadari bahwa lapang Adalah abadi untuk tak kembali Ruang; Satu-satunya kenyataan yang kumiliki Untuk kujelajahi Sebagai tempatku menyelisik Sampai nanti kauberbisik: "Aku pulang"

Sebuah Kisah (oleh) Butir Air

Image
Jabat tanganku, maka dinginlah yang akan kaurasakan. Karena aku adalah butir air. Aku adalah sebutir air yang menetes kala hujan. Entahlah, aku tidak sadar ketika masih bersemayam di atas awan sana. Tahu-tahu aku sudah jatuh, menari mengikuti ritme angin dan tarikan gravitasi. Kau tahu? Aku merasa sangat indah saat itu. Di saat mayoritas manusia tetap sibuk dengan aktivitasnya, sebagian lagi justru memilih menggilaiku. Lihatlah kepada para pecandu hujan! Mereka yang menulis bait-bait sajak, yang melantunkan lagu-lagu sendu, yang mencari inspirasi dari tetesan hujan, hingga yang sengaja menitikkan air mata dengan harapan basahnya wajah dapat tertutupi rintik hujan. Akulah pesona; Sang Hujan yang mereka nikmati! . Tetapi sungguh, itu hanya terjadi dalam sekejap. Seketika tubuhku menghantam daun di ujung ranting, tergelincir di tulangnya. Jatuh lagi kemudian terhempas ke atas tanah. Bersatu dengan butiran air lainnya dan partikel-partikel tanah. Tak lagi jernih. Kini akulah Si Ku...

Lamunan di Sudut Barat Daya Ruang Itu

Image
Entah mengapa, aku menyukai sudut itu. Sudut dimana aku bisa merasakan cahaya yang masuk melewati sela-sela kerangka besi. Sentuhan cahaya kepada tepi kerangka besi menghasilkan pembelokan, sehingga bayangan yang tercipta menjadi buram. Tumpang tindih. Membuatnya menjadi unik dan tidak biasa; aku suka. Melalui jendela itu, aku bisa melihat tanah di luar. Orang-orang yang memarkir kendaraan maupun yang melaju dari lapangan parkir itu. Langit yang cerah, berawan, ataupun hujan. Semua tampak dari jendela itu. Ketika semua tampak membosankan, aku mencoba membiarkan otakku berimajinasi, menerjemahkan, dan berpikir sepuasnya. . Aku melihat tanah. Tempatku bermula diciptakan, tempatku pulang ketika akhir hidupku nanti. Tempatku berpijak; sumber kehidupan setiap manusia. Saksi bisu sejarah yang tiada habis-habisnya. . Aku melihat aktivitas orang-orang di lapangan parkir. Mencerminkan siklus manusia yang selalu datang dan pergi. Orang datang, lalu pergi. Yang pergi bisa kembali, ...

Tentang Cahaya

Image
Cahaya putih, sebenarnya memiliki spektrum yang berwarna-warni. Sumber cahaya yang berbeda, akan menghasilkan spektrum yang berbeda pula. Meskipun cahaya yang dihasilkan tampak sama. Putih misalnya. Pun, kita sebagai manusia. Dengan fisik kita yang sama; dua mata, satu kepala, dan seterusnya (dengan asumsi tanpa cacat), Kita manusia, punya 'spektrum' masing-masing. Spektrum dengan susunan yang berbeda untuk masing-masing individu. Manusia seperti cahaya tampak yang belum diurai. Manusia bisa saja tampak sesederhana cahaya putih, tetapi sebenarnya menyimpan berbagai 'gelombang' dengan karakter yang berbeda-beda. *** Seperti inilah wujud cahaya langit yang sebenarnya. Citra di atas diambil dengan kamera ponsel, dari spektrometer buatan sendiri dan diarahkan kepada langit cerah tadi pagi. Sistem di atas menerapkan sifat cahaya yang dapat didifraksikan, dengan menggunakan permukaan CD yang tidak rata. Bicara soal langit... Ah, aku rindu menat...

Sepucuk Surat untuk Warna

Untuk Warna Hai, Warna. Warni ingin berkata sesuatu padamu. Tetapi dia tidak bisa bicara, maka izinkanlah aku yang mengutarakannya. Warni sudah lelah, Sayang. Menunggu waktu sampai kapanpun, dia takkan pernah siap mengatakannya karena memang tak akan pernah ada waktu yang tepat. Kau pun demikian; kau takkan pernah siap mendengarnya karena kau memang tak pernah mempersiapkannya. Kau tak mungkin pernah mempersiapkan kepergian Warni. Warni mungkin masih mencintaimu. Mungkin juga tidak. Ia telah memiliki dunianya yang bebas. Raga mengizinkannya mengeksplorasi diri meskipun itu bukan keputusan yang benar karena Warni mulai berjalan ke arah yang salah. Warni mulai tersesat. Matanya mulai buta semenjak Warna mulai rabun. Ah, iya, ia juga berkata bahwa ia tidak mau membawamu ikut serta dalam perjalanannya karena ia takut membuatmu tersesat. Sungguh, ia teramat takut membuatmu jatuh, menemui jalan buntu, atau terjerat belantara dan tak dapat kembali lagi. Cukuplah ia yang tersesat,...

Semoga Kau Tidak Bingung Membacanya

Aku bingung. Hanya bingung . Karena itu, jangan tanya kenapa aku bingung. Karena pertanyaan itu hanya akan menambah kebingunganku sampai tidak ada lagi yang dapat kujawab kecuali 'aku sedang bingung'. Ya, aku bingung, dan kupikir terkadang bingung tak memerlukan alasan. Sama halnya dengan pertanyaanmu tadi: "Mengapa kau bingung?" Bukankah pertanyaan itu sendiri menunjukkan kebingunganmu? Izinkan aku menjawab: "Sekarang, kenapa jadi kau yang bingung mengapa aku bingung?" "Karena kau membingungkan." "Kau tahu? Sekarang justru kau yang membingungkan." Hmmm. Aneh sekali. Kosong. Sepi. Sekosong langit-langit kamar Yang membatasiku dengan cakrawala Rinduku pada langit, kau tangkal

Ada Cinta dalam Santapan Kita

Jika kau ingin melihat cinta Maka datang dan nikmatilah Setiap jengkal dari langit biru biru biru biru awan biru biru matahari biru awan biru awan awan awan biru biru biru biru biru biru awan awan biru biru biru cerobong cerobong    atap genting penutup rumah bagian atas langit-langit dengan sedikit sarang laba-laba ---------dinding saja--hanya dinding----------- ------seperti itu seterusnya sampai ketika------ ada aku................jendela................dan dirimu duduk..................jendela.................pun duduk menyantap makanan terlezat di atas piring ini ...di meja makan yang hanya ada kita berdua... kemudian kuucapkan: "Selamat makan, sayang." "Kau terlalu banyak berkhayal," katanya. Aku tertawa. Dia melahap makanannya duluan.

Sekita Denganmu, Sendiri Diriku

Selengkung pelangi yang kubalik, Demikianlah senyummu yang berwarna-warni Sekabut tanya makna wajahmu, Menyisakan aku yang tak tahu Apakah masih bisa kumelihatnya lagi? . Sehening malam tanpa rembulan Kini kita terjebak kebisuan Sesepi lembar tanpa aksara Terasa hambar sejemu mengecap udara Udara yang tawar Bahasa menjadi tidak familiar bagi kita saat ini. Yogyakarta

Antara Teman dan Rekan

Seharusnya tadi sore saya kuliah, tetapi dosen tidak datang. Sebagai akibatnya, mahasiswa melakukan berbagai macam aktivitas yang dikehendakinya. Ada yang pulang sebelum waktunya, mengerjakan tugas, menonton anime , mengobrol, hingga berfoto. Saya sendiri memilih untuk mengajak bicara salah seorang rekan di kelas saya yang sebelumnya belum pernah saya ajak ngobrol secara personal. Saya tahu ia bukan lulusan SMA di angkatan yang sama dengan saya; ia lulus setahun di atas saya. Ia bahkan sudah berkuliah di kampus ini pada fakultas yang berbeda sebelum akhirnya bertemu dengan saya dalam fakultas yang menerima kami melalui ujian seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun 2016 ini. "Kenapa ikut tes lagi? Dan kenapa masuk prodi (red. program studi) ini?" Tanya saya kepadanya. "Dari tahun lalu, aku memang memilih prodi ini sebagai pilihan pertama.. Tetapi jatuhnya di fakultas seberang, jadi kucoba jalani dulu, ternyata kurang cocok. Jadi daftar lagi tahun ini..." ...

Pernyataan, Ucapan

Di saat orang-orang ramai membuat vlog, ingin menjadi youtuber , aku justru ingin melanjutkan hobi yang telah lama kutinggalkan: menulis. Ya, rasanya dulu begitu mudah untuk menuangkan apa saja ke dalam rangkaian kata-kata, tanpa perlu memikirkan ini-itu seperti "Apakah tulisan ini cukup layak?", "Apakah cerita ini sudah cukup bagus?", "Apakah pesanku tersampaikan?", dan lain-lain. Mungkin cukup aneh karena dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini, aku telah mengisi blog ini dengan beberapa tulisan hasil 'nyampah' dari pikiran. Sebab tadinya, kupikir deklarasi semacam ini tidak akan dipentingkan oleh siapapun. Tetapi setelah kupikir-pikir lagi, mungkin tidak ada salahnya membuat pernyataan seperti ini. Oleh sebab itu, melalui entri ini, aku ingin meminta maaf sebelumnya karena mungkin setelah ini aku akan lebih rajin menyisihkan waktuku untuk mengisi blog ini dengan kicauan anak-anak pikiran yang berputar-putar di kepalaku dalam bentuk osil...

Risau

Image
Pagi di potret ini, bukan pagi ini, kok. Ini pagi yang kemarin Pagi ini, aku melewatkannya Tak masalah. *** Perempuan itu tidak mengerti. Ia tidak sadar bahwa selama ini laki-laki yang selalu ada di dekatnya itu diam-diam menyisipkan remah hatinya ke dalam hati perempuan itu. Sebab untuk langsung menaruh hati, laki-laki itu masih belum berani. Bagaimana ia akan menaruh hatinya sementara masih ada orang lain yang mengisi hampir seluruh hati perempuan itu. Maka dari itu, ya sudahlah --pikirnya. Biar kujadikan hati ini sebagai remah yang mungkin kau, dia, dan mereka anggap remeh. Tetapi ini caraku mengisimu. Aku ada di sudut hatimu yang kosong. Kelak jika ia pergi darimu, akulah yang tersisa. Demikian pun tak masalah, karena dari awal aku adalah sisa. Sisa semangat yang sekarang kuperoleh dari senyum dan tawamu. Laki-laki itu tidak mengerti. Bahwa perempuan yang selalu ada di dekatnya itu sangat lemah. Dan merasa kosong sejak lama. Sekosong pedestrian di kala huja...

Langitku, Langit Kita

Barangkali bintang tak selalu berkilau dan rembulan tak selamanya tampak bersinar lembut; awan kelabu kerap menyelimuti keduanya. Barangkali birunya langit sering kita lupakan karena sibuk mengurusi teriknya mentari. Barangkali hujan tak seromantis itu dan pelangi tak suka pamer keindahannya meski kita rindukan. Langit tak sekadar itu, kawan. Aku mencintai langit karena ialah payung yang membentang; menghubungkan kita dimanapun kita berada. Aku mengagumi langit karena ia amat patuh kepada Penciptanya, hanya bertingkah setiap menerima perintah-Nya. Tak semena-mena meraung saat dirusak makhluk-makhluk berakal; langit selalu sabar dan memesona. Seandainya gelap, subuh, terik, senjanya langit dapat kusimpan dan kupajang sebagai penghias kamarku. Mungkin aku akan membuka semua pintu dan jendela lebar-lebar untuk menikmati angin dan suara dari luar sembari menatap langit itu. Langit-langit kamar yang rupaya hanya menampilkan langit mimpiku. Aku rindu langit Aku rindu menatap langit d...

Cerita Rumput di Halaman

17 Agustus 2016. Hari ini, tepat 71 tahun Indonesia merdeka. Tetapi aku bukannya mau menulis soal itu. Di saat orang-orang upacara kemerdekaan, aku justru bercengkrama di rumah. Cukup bagiku tirakatan di kampus tadi malam; aku menjalin tali silaturahim dengan orang-orang sekaligus makan gratis. Atau mungkin kebalikannya. Demi tulisan yang baik, diperlukan ide-ide yang mampu menghidupkan suatu bacaan. Dan ide-ide itu, sebenarnya tersebar dimana-mana, maka aku berpikir untuk keluar dari rumah dan mengumpulkan ide-ide yang berceceran dan siap untuk diserap. Aku memulai perjalanan terdekatku ke halaman belakang rumah. Di halaman rumah yang baru kutinggali selama kurang lebih dua bulan ini, pohon bambu tumbuh menjulang dan menebarkan dedaunan keringnya. Berkat bambu-bambu inilah aku mempunyai pekerjaan hari ini: menyapu halaman rumah dari daun bambu yang berserakan. Sapu yang kugenggam dengan tanganku ini kugerakkan dengan arah bolak-balik, menyeret dedaunan itu. Setidakny...

Jawabanku: Tentang Mimpi

     Di bawah langit berawan, tidak cerah dan tidak hujan. Warna langit itu putih dihias gumpalan abu-abu, tidak jernih, sama seperti apa yang bergumul di kepalaku.      Apakah sebegitu pentingnya arti mimpi, cita-cita, dan target yang konkret dan terstruktur dalam hidup? Bukankah kita tidak tahu, akan sampai kapan nafas ini masih bisa berembus. Boleh jadi nanti sore jantung ini tidak lagi berdetak.      Apakah yang tak berencana berarti tak berpikir? Tidak, dan setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku pun berhak berjuang, mendekat pada Tuhanku dan mencintai ciptaan-Nya tanpa perlu menggantung mimpi-mimpi di depan mataku yang hanya akan membutakanku dari sudut-sudut lain yang boleh jadi akan menjadi penolongku, atau mungkin itu adalah pintu buatku menuju babak berikutnya.      Izinkanlah, biarkanlah mimpi itu menjadi penghias malam hariku. Supaya terkubur dalam alam bawah sadarku dan mengiringi tiap langkahku. Cukup...

Tidak Perlu Judul Untuk Alunan Ini

Image
Teng teng deng teng Jreng deng jreng deng jreng Ctak, jreng deng teng Apa yang kaudengar Belum tentu yang kaudengar Pun yang kaulihat Ini gitar kumainkan buatmu Tapi kau, apa kau mendengarnya?