Jawabanku: Tentang Mimpi
Di bawah langit berawan, tidak cerah dan tidak hujan. Warna langit itu putih dihias gumpalan abu-abu, tidak jernih, sama seperti apa yang bergumul di kepalaku.
Apakah sebegitu pentingnya arti mimpi, cita-cita, dan target yang konkret dan terstruktur dalam hidup? Bukankah kita tidak tahu, akan sampai kapan nafas ini masih bisa berembus. Boleh jadi nanti sore jantung ini tidak lagi berdetak.
Apakah yang tak berencana berarti tak berpikir? Tidak, dan setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku pun berhak berjuang, mendekat pada Tuhanku dan mencintai ciptaan-Nya tanpa perlu menggantung mimpi-mimpi di depan mataku yang hanya akan membutakanku dari sudut-sudut lain yang boleh jadi akan menjadi penolongku, atau mungkin itu adalah pintu buatku menuju babak berikutnya.
Izinkanlah, biarkanlah mimpi itu menjadi penghias malam hariku. Supaya terkubur dalam alam bawah sadarku dan mengiringi tiap langkahku. Cukuplah siangku untuk menyiapkan kehidupan yang baik, tanpa perlu merasa kecewa bila nanti Tuhan berikan yang kubutuhkan namun bukan yang kuinginkan. Dua tangan ini takkan cukup untuk menutup mulut kalian semua, maka maafkan aku yang menutup satu telingaku dan menjalani kehidupan dengan tanganku yang satunya lagi. Tak lupa, maafkan aku yang tak bisa menyamakan pikiranku denganmu.
Jangan biarkan hidupmu hanya seperti air yang mengalir secara spontan, katamu?
Terima kasih, tetapi air yang mengalir adalah air yang bersih, yang menyucikan, dan menghidupi manusia serta ciptaan Tuhan yang lainnya.
(Yogyakarta, 14.08.2016)
Apakah sebegitu pentingnya arti mimpi, cita-cita, dan target yang konkret dan terstruktur dalam hidup? Bukankah kita tidak tahu, akan sampai kapan nafas ini masih bisa berembus. Boleh jadi nanti sore jantung ini tidak lagi berdetak.
Apakah yang tak berencana berarti tak berpikir? Tidak, dan setiap orang punya takdirnya masing-masing. Aku pun berhak berjuang, mendekat pada Tuhanku dan mencintai ciptaan-Nya tanpa perlu menggantung mimpi-mimpi di depan mataku yang hanya akan membutakanku dari sudut-sudut lain yang boleh jadi akan menjadi penolongku, atau mungkin itu adalah pintu buatku menuju babak berikutnya.
Izinkanlah, biarkanlah mimpi itu menjadi penghias malam hariku. Supaya terkubur dalam alam bawah sadarku dan mengiringi tiap langkahku. Cukuplah siangku untuk menyiapkan kehidupan yang baik, tanpa perlu merasa kecewa bila nanti Tuhan berikan yang kubutuhkan namun bukan yang kuinginkan. Dua tangan ini takkan cukup untuk menutup mulut kalian semua, maka maafkan aku yang menutup satu telingaku dan menjalani kehidupan dengan tanganku yang satunya lagi. Tak lupa, maafkan aku yang tak bisa menyamakan pikiranku denganmu.
Jangan biarkan hidupmu hanya seperti air yang mengalir secara spontan, katamu?
Terima kasih, tetapi air yang mengalir adalah air yang bersih, yang menyucikan, dan menghidupi manusia serta ciptaan Tuhan yang lainnya.
(Yogyakarta, 14.08.2016)
Comments
Post a Comment