Langitku, Langit Kita

Barangkali bintang tak selalu berkilau dan rembulan tak selamanya tampak bersinar lembut; awan kelabu kerap menyelimuti keduanya.
Barangkali birunya langit sering kita lupakan karena sibuk mengurusi teriknya mentari.
Barangkali hujan tak seromantis itu dan pelangi tak suka pamer keindahannya meski kita rindukan.

Langit tak sekadar itu, kawan. Aku mencintai langit karena ialah payung yang membentang; menghubungkan kita dimanapun kita berada. Aku mengagumi langit karena ia amat patuh kepada Penciptanya, hanya bertingkah setiap menerima perintah-Nya. Tak semena-mena meraung saat dirusak makhluk-makhluk berakal; langit selalu sabar dan memesona.
Seandainya gelap, subuh, terik, senjanya langit dapat kusimpan dan kupajang sebagai penghias kamarku. Mungkin aku akan membuka semua pintu dan jendela lebar-lebar untuk menikmati angin dan suara dari luar sembari menatap langit itu. Langit-langit kamar yang rupaya hanya menampilkan langit mimpiku.

Aku rindu langit
Aku rindu menatap langit denganmu
Memimpi sejauh langit, tak bisa direngkuh
Pahit

(Yang baru saja diajari rasi bintang orion oleh seorang teman baru. Entah apa dia benar atau tidak; toh seperti bentangan langit, pikiran kita tak berbatas untuk berimajinasi.
Yogyakarta, 22.08.2016)

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri