Cerita Rumput di Halaman
17 Agustus 2016.
Hari ini, tepat 71 tahun Indonesia merdeka. Tetapi aku bukannya mau menulis soal itu. Di saat orang-orang upacara kemerdekaan, aku justru bercengkrama di rumah. Cukup bagiku tirakatan di kampus tadi malam; aku menjalin tali silaturahim dengan orang-orang sekaligus makan gratis. Atau mungkin kebalikannya.
Demi tulisan yang baik, diperlukan ide-ide yang mampu menghidupkan suatu bacaan. Dan ide-ide itu, sebenarnya tersebar dimana-mana, maka aku berpikir untuk keluar dari rumah dan mengumpulkan ide-ide yang berceceran dan siap untuk diserap.
Aku memulai perjalanan terdekatku ke halaman belakang rumah.
Di halaman rumah yang baru kutinggali selama kurang lebih dua bulan ini, pohon bambu tumbuh menjulang dan menebarkan dedaunan keringnya. Berkat bambu-bambu inilah aku mempunyai pekerjaan hari ini: menyapu halaman rumah dari daun bambu yang berserakan. Sapu yang kugenggam dengan tanganku ini kugerakkan dengan arah bolak-balik, menyeret dedaunan itu. Setidaknya, sambil menyapu, aku ditemani iringan harmoni suara gesekan ujung sapu, dedaunan, tanah, dan rumput liar. Ditambah dendang lagu Bruri yang keluar dari mulut tetangga sebelah--yang mungkin sedang beraktivitas di halamannya juga. Entahlah.
Aku menyadari bahwa membuat daun-daun ini mengikuti perintahku tidaklah sesederhana itu, tingginya rumput liar menghalangi jalur sapu tak kasat mata menuju tumpukan dedaunan lain yang siap dibawa ke tempat sampah. Rumput-rumput liar yang menjadi hutan mini inilah yang menjadi penghalang sapuanku. Kupikir sudah saatnya untuk mencabut rumput-rumput liar itu. Maka setelah mengumpulkan dedaunan itu sebisaku, kusandarkan sapu dari bambu itu ke teman-temannya, para bambu yang mungkin tidak akan bernasib sama sepertinya karena hidupnya akan berakhir di halaman rumah saja.
Tanganku lincah mencabut rumput. Sewaktu SMP, aku ikut klub pecinta alam yang kegiatannya banyak berkebun dan menanam; kala itu aku biasa mendapat pekerjaan mencabut rumput. Sebelumnya pun, aku mencabuti rumput liar di halaman depan supaya rumput jepang yang ingin ditumbuhkan dapat berkembang tanpa terganggu rumput liar di sekitarnya. Berbekal pengalaman itulah, aku menjadi pencabut rumput andal seperti saat ini.
Aku suka mencabut rumput, karena mencabut rumput tidak mengeluarkan energi yang besar, banjir keringat yang bau, dan baju yang terlalu kotor. Cukup jongkok di bawah teduhnya pohon dan gerakkan kedua tangan beserta jemarinya. Kemudian aku bisa membebaskan pikiranku ngelantur ngalor-ngidul, melamunkan banyak hal termasuk ide untuk menuliskan cerita ini.
Ketika mencabuti rumput liar, aku berpikir. Seandainya saja orang-orang menyukai rumput liar. Maka buat apa repot-repot mencabuti rumbut liar, kemudian menuai potongan-potongan rhizoma rumput lain yang disukai dan ingin ditumbuhkan? Padahal rumput liar bisa tumbuh sendiri dan berkembang sepuasnya tanpa perlu diurusi. Manusia itu suka sekali repot mengurusi hal-hal yang disukainya.
Atau mungkin itulah yang memanusiakan manusia? Karena saat ini pun aku--yang kurasa masih waras sebagai manusia--sedang mencabuti rumput liar. Sampai lupa kalau harusnya aku menyelesaikan urusanku dengan sapu dan dedaunan bambu itu.
(diketik di kamar seusai terik menghentikanku mencabut rumput liar di halaman. Yogyakarta, 17.08.2016)
Comments
Post a Comment