Menyapamu
Di tengah kebimbangan hati ini, sungguh, saya rindu kamu, wahai saudariku.
Kamu yang selalu tersenyum dalam kesederhanaanmu. Tertawa riang ketika orang-orang iba melihat pahit kehidupan yang mesti kautelan. Membantu orang lain meski dirimu tak sedang dalam kemudahan. Tutur katamu melipur lara orang-orang di sekitarmu.
Saudariku, kamu inspirasiku.
Memori adalah prasasti yang kita ukir bersama.
Ingat canda tawa ketika kita mendendangkan laguku dan lagumu? Ingat sajak-sajak alam semesta yang kata-katanya kita rajut bersama? Ingat bintang jatuh yang kita saksikan bersama subuh itu? Ingat ketika aku bercerita dan kauhanya sanggup mendengar lalu tersenyum, begitu pula ketika dirimu yang bercerita. Dan ingatkah ketika hari terakhir kebersamaan kita; tak satupun dari kita sanggup berkata-kata. Hanya kerlingan air mata yang sanggup berbicara tentang semua yang kita lewati dan yang akan kita lewati. Peluk hangat itu menjadi satu-satunya ekspresi yang mampu kita ungkapkan.
Kini semua telah menjadi memori.
Katamu, tatap langit itu ketika aku merindukanmu.
Ya, aku selalu menatapnya sembari memanggil namamu. Kemudian aku sadar bahwa kau tak di sampingku. Dan aku sendirian, menatap langit.
Berharap cerah datang menyelimuti kegelapanku yang busuk, seperti ketika kamu menarikku kembali ke jalan yang benar.
Sungguh, hanya langit dan Penciptanya yang menjadi penghubung kekosongan percakapan kita selama jarak menghalangi kita untuk sekadar saling bertatap.
Di bawah langit aku berdoa. Atas kesehatanmu, kebahagiaanmu. Kadang aku bertanya, mengapa justru duka menimpamu sementara bahagia di sekelilingku, padahal kau lebih berhak memperoleh kebahagiaan itu?
Namun Tuhan selalu adil, katamu.
Maafkan aku yang hanya sanggup membantumu sebisaku. Sesungguhnya apa yang kulakukan takkan bisa membalas kebaikanmu. Aku berharap, semoga yang kulakukan bermanfaat buatmu.
Sepertu prinsipmu untuk selalu berbuat baik supaya bermanfaat bagi orang lain.
Maafkan aku yang kembali terperosok ke dalam lubang itu. Padahal kau sudah mengajariku caranya bangkit dan memanjat. Tapi aku tak sanggup. Meski aku tahu itu alasan belaka.
Terima kasih.
Maaf.
Maaf.
(Sangatta. Diketik di ruang serbaputih yang harum antiseptik.)
Comments
Post a Comment