Pesan Akhir Tahun

Barangkali setelah tahun berganti, Warni perlu lebih bersabar.

Satu. Bersabarlah menunggu waktu yang ditentukan untuk bertemu (kembali) dengan Warna. Sembari menunggu, Warni, kau bisa memikirkan dengan jernih apa yang ingin kausampaikan. Susun semua pemikiran secara tersistematis; gunakan logika dan singkirkan sejenak perasaanmu itu. Diskusikan dengan jelas dan tanpa emosi. Jangan lupa berdoa supaya diberi kelancaran, yakinlah bahwa apapun jalan keluarnya nanti, itu semua merupakan takdir-Nya.

Dua. Bersabarlah atas hatimu yang mulai bertanya-tanya tentang perasaanmu terhadap-"nya". Yang kaukenal di bawah Pohon. Ingatlah bahwa perasaan perlu dibekali logika, Warni. Meski terkadang, kehadiran logika melukai perasaan, sementara hanya waktu yang mampu menyembuhkan perasaan. Datang darimanakah perasaan itu? Mengapa perasaan itu timbul? Seperti apakah sebenarnya perasaan itu? Dan, bagaimanakah sebaiknya menyikapi perasaan itu? Renungkanlah.

Tiga. Bersabarlah dalam belajar, terutama belajar memperbaiki diri. Sungguh, dirimu tak lain ialah sosok penuh aib yang masih dilindungi Tuhan. Tak usah kautanyakan rasio perbuatan baik dan buruk yang telah kaulakukan. Bersyukurlah karena masih diberi waktu, sebab sejatinya hidup adalah perjalanan mengupayakan diri menuju kesempurnaan jati diri. Meskipun pada akhirnya kesempurnaan tetap milik Tuhan dan jati dirimu hanyalah pelaku perjalanan. Oleh sebab itu, benahi dan hargai tiap detik perjalanan, tak lupa sertakan kesabaran di dalamnya. Semakin banyak mengevaluasi perjalanan, (semoga) dirimu lebih tahu kemana harus melangkah.

Akhir kata, cukup sekian untuk saat ini. Bersabarlah dalam menerima opiniku, Warni.

Salam,
31 huruf.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Renungan Malam Awal Tahun Hijriah