Untuk yang Sedang Berjuang

Warni ingin bicara.

Setelah lepas dari Warna, rasanya Warni betul-betul berjalan sendirian. Dalam perjalanannya, berkali-kali ia terantuk batu, menabrak dahan. Bukannya menuju jalan yang lebih terang dan terbuka, Warni justru berjalan menuju belantara di belakang Pohon.
Di tengah perjalanan, sayup-sayup Warni mendengar suara: kembalilah. Suara yang memanggil dirinya dengan nada aneh. Menggetarkan, tetapi tak menggerakkannya untuk berbalik arah barang sekalipun.
Sampai saat ia tak sengaja menapak tanah yang rapuh; Warni jatuh! Ia menggelinding di tanah yang curam, tak terhentikan; jauh menuju jurang yang dalam.
Gelap. Dingin. Namun, menenangkan. Aneh.

Warni berjalan menyusuri kegelapan jurang itu. Rupanya ia tak sendirian di sana. Ada beberapa teman yang pernah ia temui di sekitar Pohon. Mereka diam, tak saling bicara. Hanya menatap dinding batu yang terjal dan hampir mustahil untuk dipanjat.
Melihat mereka seperti itu, justru menimbulkan keinginan bagi Warni untuk naik. Kembali. Bersama mereka yang lebih baik berada di tempat yang seharusnya--menurut Warni.

"Genggam tanganku. Peluk aku. Ayo kita naik sama-sama. Tempat ini menyenangkan, tetapi kita tak seharusnya berada di sini. Ayo, naik! Mari berjuang sama-sama. Kembalilah!"

Tetapi semua kalimat itu berhenti di lidahya, terhalang bibirnya yang mengatup.

Mereka tetap di sana, saling menatap, tak sedikitpun bicara.

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri