Dia, Dirinya, dan Senja Emas [2]

Tujuh menit sebelum matahari benar-benar menyingkir dari langit.

Seorang lelaki mengisap sebatang rokok terakhirnya. Ujungnya digerogoti api kecil yang hendak menyaingi merah mentari sore itu. Sedikit demi sedikit, rokok itu habis, menyisakan abu yang kemudian lenyap diterbangkan deru angin pantai.
Lelaki itu memeluk kedua kakinya dengan tangan kiri, sedang jemari tangan kanannya masih menjepit rokok yang semakin pendek itu. Matanya mengarah ke laut, tetapi sesungguhnya dia tidak menatap apa-apa. Seolah bisu, mulutnya terkunci karena memang tidak ada seorangpun di sekitarnya untuk diajak bicara.

Lelaki itu sendirian, hanya sepi yang telah menemaninya sejak beberapa bulan terakhir. Tidak ada lagi yang tersisa. Hanya ada dirinya, dan--
Sudahlah!
Diluruskannya kedua kaki yang menapak pasir itu, kemudian dia berdiri. Melangkahkan kakinya, menyusuri pantai mengikuti irama ombak yang berdebur.

Seratus dua detik berlalu.
Ia sadar, ada yang mengikutinya. Sebuah bayangan terus berada di sisinya ketika ia berjalan. Merasa risih, lelaki itu menghentikan langkahnya.
"Mengapa kauikuti aku?" Untuk pertama kalinya dalam kurun waktu tujuh hari terakhir, pita suaranya bergetar.
Namun, bayangan itu justru ikut diam. Ia menghela napas, kemudian kembali berjalan. Bayangannya itu--kembali berjalan mengikutinya!
"Mengapa kauikuti aku?!"

Hening.
Batang rokok tinggal setengah. Mentari pun demikian.
Lamat-lamat, ombak mulai menyapu telapak kakinya. Juga bayangannya yang tak kunjung pergi.

***
Sisa lima menit sebelum senja benar-benar berakhir. Kemilau mentari semakin emas; bayangan semakin pekat.
"Aku melihat diriku dalam dirimu," ujar lelaki itu kepada bayangannya. "Kau... menemaniku?"
Direngkuhnya segenggam pasir basah di tengah-tengah bayangan itu. Bayangan itu, juga seolah-olah hendak mengulurkan tangannya kepada pemuda itu.
Hangat yang semu. Dingin yang terabaikan. Kesendirian dan pilu lelaki itu justru terobati oleh kehadiran suatu sosok yang kerap menemaninya, bisu dan hanya mendengarkannya. Sosok yang tak beranjak pergi meski telah dibentak; sosok yang gelap, suram, dan muram; sosok SEBUAH BAYANGAN--yang sebenarnya--merupakan dirinya! Mengapa?!

Hanya ada dia, dirinya, dan senja emas.

Tuan,
Siapa diri Anda?

Comments