Telanlah Buah Sepi yang Kautanam Sendiri, Warni
Warni,
Lihatlah dirimu. Begitu tak stabil, rapuh, mudah sekali jatuh. Apa yang kaukejar kalau sudah seperti ini?
Kekosongan di hatimu itu, padahal kautahu sebabnya. Tetapi mengapa masih tak kauatasi juga?
Kau justru diam, menunggu uluran tangan, berharap penantianmu diakhiri datangnya seseorang ke hadapanmu. Mau sampai kapan bermimpi?
Ah, iya, aku lupa kalau kau hidup di alam imaji. Makanya bermimpi saja kerjaanmu. Bukan begitu?
Hei, Warni,
Sepi sekali malam ini, bukan? Baik langit yang lengang, pun hatimu yang tak tenang.
Baru saja petang kemarin, dan kemarinnya lagi, kau kesenangan sendiri karena tak duduk di belakang Pohon sendirian. Malam ini, justru pikiranmu kembali kacau. Merapal mantra mengundang orang.
Padahal, tak guna.
Lihatlah dirimu. Begitu tak stabil, rapuh, mudah sekali jatuh. Apa yang kaukejar kalau sudah seperti ini?
Kekosongan di hatimu itu, padahal kautahu sebabnya. Tetapi mengapa masih tak kauatasi juga?
Kau justru diam, menunggu uluran tangan, berharap penantianmu diakhiri datangnya seseorang ke hadapanmu. Mau sampai kapan bermimpi?
Ah, iya, aku lupa kalau kau hidup di alam imaji. Makanya bermimpi saja kerjaanmu. Bukan begitu?
Hei, Warni,
Sepi sekali malam ini, bukan? Baik langit yang lengang, pun hatimu yang tak tenang.
Baru saja petang kemarin, dan kemarinnya lagi, kau kesenangan sendiri karena tak duduk di belakang Pohon sendirian. Malam ini, justru pikiranmu kembali kacau. Merapal mantra mengundang orang.
Padahal, tak guna.
Comments
Post a Comment