Yang Hidup yang Mati
Semalam saya menonton penampilan teater yang merupakan adaptasi cerpen "Hidup atau Mati" karya Rabindranath Tagore. Sebelumnya saya belum mengenal sastrawan India ini, apalagi membaca karya-karyanya. Ini merupakan kali pertama saya menyaksikan karya R. Tagore yang telah diadaptasi mahasiswa kampus sebelah.
Ceritanya tentang seorang wanita yang telah mati, dan mayatnya dijaga oleh enam orang. Kemudian mayat itu hidup kembali, namun sayangnya, saat itu enam orang tadi lalai sehingga wanita itu pergi. Supaya tidak disalahkan, enam orang itu memutuskan untuk membohongi orang-orang dengan mengatakan bahwa mereka telah membakar mayat wanita itu. Maka apabila wanita itu muncul, semua orang akan menganggapnya hantu. Singkat cerita, benar saja; ia seperti orang mati di tengah-tengah yang hidup. Sampai pada akhirnya ketika ia bertemu keponakan yang dicintainya, semua orang masih saja menganggapnya sudah meninggal. Ironisnya, untuk membuktikan dirinya masih hidup, wanita itu sampai mengakhiri hidupnya sendiri. Ia menggorok lehernya sendiri di depan semua orang. Meski demikian, enam orang tadi tetap berbohong sampai akhir: mayat wanita itu telah mereka bakar.
Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi tentang apa yang disampaikan sutradara pementasan tersebut. Ia mengatakan bahwa ini soal kehidupan manusia yang tak lepas dari untung-rugi. Demi mengurangi kerugian, manusia melakukan kebohongan. Akibatnya, kebenaran akan mati. Meskipun ia berteriak bahwa dirinya hidup. Kebohongan akan membunuh kebenaran yang sebenarnya masih hidup.
Saya jadi ingat sewaktu masih duduk di bangku sekolah, sebenarnya belum lama ini. Ketika dihadapkan persoalan untung-rugi, kami para remaja labil menjadi terpecah-belah. Ada yang mengambil jalan kejujuran, dan ada yang memilih melakukan kebohongan. Saat itu, terjadi konflik yang cukup pelik di antara kedua kelompok besar tersebut, terutama karena adanya isu bahwa sebagian orang dewasa membantu kelompok yang berbohong melancarkan aksinya. Dalam kasus saat itu, sebenarnya antara yang jujur dan yang bohong sama halnya dengan hitam dan putih; tampak jelas sekali batasnya, mana yang benar dan yang salah. Orang-orang hanya memilih buta, memulai kebohongan, menyulut peperangan, dan menggelar parade kebohongan lanjutan sebagai pembenaran atas kelakuan tersebut. Benar saja, saat itu kebenaran menjadi buram, dan lama-kelamaan tenggelam karena tak punya kesempatan bicara. Karena ketika pertunjukan kebohongan dimulai, semua orang memakai topeng; menutupi benar-salah dan memudahkan untuk saling tikam dari belakang. Peristiwa yang cukup mengerikan menurut saya, karena yang dibunuh adalah hati nurani.
Entah apakah peristiwa itu akan saya alami lagi atau tidak. Saya tidak mengharapkannya, tetapi saya tahu bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai harapan saya. Bisa saja hal itu terjadi tidak dalam skala manusia sebanyak itu, sungguh, hal itu dapat terjadi dalam skala kecil namun tetap menyesakkan. Yaitu ketika skalanya berubah menjadi personal. Saat perang tersulut di dalam hati nurani seorang manusia. Semoga segera usai.
Ceritanya tentang seorang wanita yang telah mati, dan mayatnya dijaga oleh enam orang. Kemudian mayat itu hidup kembali, namun sayangnya, saat itu enam orang tadi lalai sehingga wanita itu pergi. Supaya tidak disalahkan, enam orang itu memutuskan untuk membohongi orang-orang dengan mengatakan bahwa mereka telah membakar mayat wanita itu. Maka apabila wanita itu muncul, semua orang akan menganggapnya hantu. Singkat cerita, benar saja; ia seperti orang mati di tengah-tengah yang hidup. Sampai pada akhirnya ketika ia bertemu keponakan yang dicintainya, semua orang masih saja menganggapnya sudah meninggal. Ironisnya, untuk membuktikan dirinya masih hidup, wanita itu sampai mengakhiri hidupnya sendiri. Ia menggorok lehernya sendiri di depan semua orang. Meski demikian, enam orang tadi tetap berbohong sampai akhir: mayat wanita itu telah mereka bakar.
Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi tentang apa yang disampaikan sutradara pementasan tersebut. Ia mengatakan bahwa ini soal kehidupan manusia yang tak lepas dari untung-rugi. Demi mengurangi kerugian, manusia melakukan kebohongan. Akibatnya, kebenaran akan mati. Meskipun ia berteriak bahwa dirinya hidup. Kebohongan akan membunuh kebenaran yang sebenarnya masih hidup.
Saya jadi ingat sewaktu masih duduk di bangku sekolah, sebenarnya belum lama ini. Ketika dihadapkan persoalan untung-rugi, kami para remaja labil menjadi terpecah-belah. Ada yang mengambil jalan kejujuran, dan ada yang memilih melakukan kebohongan. Saat itu, terjadi konflik yang cukup pelik di antara kedua kelompok besar tersebut, terutama karena adanya isu bahwa sebagian orang dewasa membantu kelompok yang berbohong melancarkan aksinya. Dalam kasus saat itu, sebenarnya antara yang jujur dan yang bohong sama halnya dengan hitam dan putih; tampak jelas sekali batasnya, mana yang benar dan yang salah. Orang-orang hanya memilih buta, memulai kebohongan, menyulut peperangan, dan menggelar parade kebohongan lanjutan sebagai pembenaran atas kelakuan tersebut. Benar saja, saat itu kebenaran menjadi buram, dan lama-kelamaan tenggelam karena tak punya kesempatan bicara. Karena ketika pertunjukan kebohongan dimulai, semua orang memakai topeng; menutupi benar-salah dan memudahkan untuk saling tikam dari belakang. Peristiwa yang cukup mengerikan menurut saya, karena yang dibunuh adalah hati nurani.
Entah apakah peristiwa itu akan saya alami lagi atau tidak. Saya tidak mengharapkannya, tetapi saya tahu bahwa hidup tak selalu berjalan sesuai harapan saya. Bisa saja hal itu terjadi tidak dalam skala manusia sebanyak itu, sungguh, hal itu dapat terjadi dalam skala kecil namun tetap menyesakkan. Yaitu ketika skalanya berubah menjadi personal. Saat perang tersulut di dalam hati nurani seorang manusia. Semoga segera usai.
Comments
Post a Comment