Antara Teman dan Rekan

Seharusnya tadi sore saya kuliah, tetapi dosen tidak datang. Sebagai akibatnya, mahasiswa melakukan berbagai macam aktivitas yang dikehendakinya. Ada yang pulang sebelum waktunya, mengerjakan tugas, menonton anime, mengobrol, hingga berfoto. Saya sendiri memilih untuk mengajak bicara salah seorang rekan di kelas saya yang sebelumnya belum pernah saya ajak ngobrol secara personal.
Saya tahu ia bukan lulusan SMA di angkatan yang sama dengan saya; ia lulus setahun di atas saya. Ia bahkan sudah berkuliah di kampus ini pada fakultas yang berbeda sebelum akhirnya bertemu dengan saya dalam fakultas yang menerima kami melalui ujian seleksi masuk perguruan tinggi pada tahun 2016 ini.
"Kenapa ikut tes lagi? Dan kenapa masuk prodi (red. program studi) ini?" Tanya saya kepadanya.
"Dari tahun lalu, aku memang memilih prodi ini sebagai pilihan pertama.. Tetapi jatuhnya di fakultas seberang, jadi kucoba jalani dulu, ternyata kurang cocok. Jadi daftar lagi tahun ini..."
"Hmm, begitu. Terus, sudah masuk prodi ini, memangnya mau ambil konsentrasi di bidang apa?"
Kemudian, rekan berinisial nama pertama yang sama dengan saya itu menjelaskan pandangannya mengenai bidang yang ditujunya. Saya mengangguk, dalam rangka menanggapi opininya. Sebab di sini saya merasa hanya perlu mendengar, tidak perlu berkomentar apapun.
Setelah bercakap-cakap dengannya dan memperoleh wawasan dan pandangan baru, saya kemudian meninggalkannya. Salah seorang rekan sekelas saya yang lain kemudian menghampiri saya dan bertanya: "Tadi ngomongin apa sih? Kepo, nih."
"Ooh. Nanya doang, dia masuk prodi ini mau ngejar apa. Apa rencananya ke depannya."
"Begitu? Bukan laprak (red. laporan praktikum)?"
"Hah? Kenapa laprak?" Sesaat kemudian saya baru ingat, saat saya 'mewawancara' rekan saya tadi, saya memang sambil memegang laprak. Saya yakin itulah penyebab rekan saya yang satu ini mengira bahwa kami berbincang-bincang mengenai laprak.
"Bukan, ya?... Lha terus buat apa nanya-nanya gitu?" Maksud dia, untuk apa saya menanyakan rencana hidup dan latar belakang rekan saya tadi.
.
Dari pertanyaan itu justru saya berpikir: Kenapa tidak, saya tanyakan rencana hidup dan latar belakang rekan/teman saya?
.
Saya tahu dinamika kehidupan mahasiswa berbeda dengan siswa; mahasiswa lebih diprioritaskan untuk merencanakan masa depan sehingga latar belakang tidak lagi sepenting itu, selama saat ini mahasiswa memiliki sesuatu, misalnya keahlian, yang dapat digunakan untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Barangkali saya salah, mungkin karena masih mengemban status kemahasiswaan dalam kurun waktu separuh semester. Namun, itulah yang saya tangkap sejauh ini. Hubungan profesionalisme antarmahasiswa.
Tanyakan kepada saya bagaimana latar belakang teman-teman saya semasa SMA dan SMP (saya kurang ingat untuk teman-teman SD), dan saya pikir saya tahu latar belakang mereka. Di SMA, menanyakan latar belakang bukanlah sesuatu yang tabu, melainkan sarana berkenalan, mengeksplorasi berbagai jenis orang, dan langkah awal menjalin pertemanan.
Kemudian saya mencoba mengenali dan ingin memulai menjalin pertemanan dengan salah seprang rekan melalui menanyakan hal-hal yang sepertinya menjadi hal privasi dan tidak penting seandainya yang saya tuju adalah hubungan profesionalisme...

Well, sepertinya saya akan mengalami banyak rekonstruksi pola pikir. Dan saya harus banyak belajar, khususnya dalam menahan perasaan kesepian karena posisi teman akan tergantikan oleh rekan.
Barangkali kedua kata itu memiliki arti secara bahasa yang serupa atau mirip; entahlah. Yang pasti, kedua kata itu memiliki makna berbeda di otak saya dan posisi yang tak sama di hati saya.

(Yogyakarta. Ditulis dengan rasa rindu kepada teman-teman lama. Teman-teman yang belum tentu dapat saya temui lagi dalam hidup saya.)

Comments

Popular posts from this blog

Dèjá Vu (2)

Karena Thanos Tidak Belajar Persamaan Diferensial

Mekar Berduri